JAKARTA - Upaya PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) dalam mempertahankan pertumbuhan bisnisnya memasuki fase yang semakin strategis.
Di tengah persaingan industri kemasan yang kian kompetitif, perusahaan memilih untuk memperkokoh pijakannya pada segmen pasar tradisional serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Fokus ini bukan hanya mencerminkan arah bisnis PBID dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi penguatan pasar hingga memasuki tahun 2026. Dengan strategi yang menyasar sektor makanan dan minuman (mamin), PBID menempatkan diri sebagai penyedia kemasan yang relevan dan dibutuhkan oleh pelaku usaha skala kecil hingga menengah.
Direktur Panca Budi Idaman, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa perusahaan kini memperluas penetrasi di pasar UMKM dan sektor tradisional, terutama pada pelaku usaha mamin yang menjadi konsumen utama produk kemasan.
Dalam pandangannya, kedua segmen tersebut terus menunjukkan pertumbuhan dan peluang yang stabil, sehingga PBID menilai langkah ini akan membantu menjaga performa perusahaan. Fokus pada ceruk pasar ini juga dinilai lebih berkelanjutan, mengingat kebutuhan kemasan yang konsisten dari usaha kuliner, pedagang pasar, hingga produsen makanan skala kecil.
Diversifikasi Produk Jadi Penggerak Utama
Salah satu penopang strategi PBID yang terus diperkuat adalah diversifikasi produk. Lukman menjelaskan bahwa perusahaan sejak lama telah memperluas kategori produk ke thin wall & food pack, yang mencakup gelas plastik serta berbagai produk pendukung lain yang banyak digunakan di sektor mamin. Selain produk berbahan plastik, PBID juga merambah ke kemasan berbahan kertas seperti kertas nasi dan dus kue, yang kini semakin banyak dicari oleh pelaku usaha kuliner dan UMKM.
Ia menegaskan bahwa pengembangan produk tidak hanya dilakukan untuk memperluas pasar, tetapi juga untuk menjawab perubahan preferensi konsumen yang semakin bervariasi.
“Kami terus mendorong inovasi dan diversifikasi produk untuk meningkatkan pasar di kategori ini, karena sangat relevan dengan segmen pasar tradisional dan UMKM mamin,” ujar Lukman. Penambahan lini produk ini sekaligus memperkuat posisi PBID sebagai produsen kemasan yang menyediakan pilihan lengkap bagi pelaku usaha kecil dan sektor tradisional yang membutuhkan produk fleksibel dan terjangkau.
Menjaga Pangsa Pasar di Tengah Persaingan
Meskipun industri kemasan kian dipenuhi banyak pemain baru, PBID terus menjaga pangsa pasar yang selama ini berada pada kisaran 33%–35%. Menurut Lukman, salah satu strategi penting untuk mempertahankan posisi ini adalah melalui penyesuaian harga jual secara berkala. Penyesuaian tersebut dilakukan untuk memastikan produk tetap kompetitif, terutama bagi UMKM yang sensitif terhadap perubahan harga bahan baku maupun biaya operasional.
“Kami fokus mempertahankan market share dengan melakukan penjesuaian harga jual,” jelasnya. Dengan langkah tersebut, PBID berupaya menjaga ketersediaan produk di seluruh kanal distribusi sekaligus memastikan bahwa produk tetap mudah dijangkau oleh pasar tradisional dan pelaku UMKM. Strategi stabilisasi harga ini dinilai sangat penting, mengingat perubahan biaya bahan baku global seringkali memberikan tekanan terhadap struktur biaya produsen kemasan.
Selain harga, PBID juga menempatkan posisi merek sebagai aspek penting dalam mempertahankan dominasi pasar. Perusahaan ingin memaksimalkan kekuatan brand melalui konsistensi kualitas dan ketersediaan produk, sehingga tetap menjadi pilihan utama pedagang, pelaku kuliner, hingga UMKM yang membutuhkan kemasan untuk kegiatan produksi maupun penjualan harian.
Peningkatan Efisiensi dan Inovasi Produk
Agar tetap adaptif menghadapi dinamika industri, PBID juga memperkuat efisiensi operasional sekaligus memperbarui kualitas produk. Lukman menuturkan bahwa langkah peningkatan efisiensi ini diperlukan untuk mendukung penetrasi pasar dan menjaga daya saing di tengah tingginya permintaan kemasan yang ekonomis namun berkualitas.
Inovasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pengembangan PBID, terutama dalam pengembangan produk kemasan fungsional yang sesuai kebutuhan UMKM dan pasar tradisional.
Melihat arah penguatan bisnis ini, PBID menargetkan pertumbuhan penjualan hingga 10% pada tahun 2026. Target tersebut didasarkan pada konsistensi ekspansi pasar, diversifikasi produk, dan stabilitas pangsa pasar yang selama ini berhasil dipertahankan.
Kinerja Keuangan hingga Kuartal Ketiga 2025
Dari sisi finansial, laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa PBID mencatat peningkatan pendapatan tipis pada Januari–September 2025. Pendapatan perusahaan tumbuh 0,1% year-on-year (YoY) menjadi Rp3,89 triliun. Meski kenaikan ini tidak besar, PBID tetap menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan nilai pendapatan di tengah volatilitas industri serta persaingan di segmen kemasan mamin.
Namun, tantangan terlihat dari kinerja laba. Pada periode yang sama, laba bersih perusahaan mengalami penurunan 21,8% YoY menjadi Rp300,3 miliar. Penurunan ini menggambarkan tekanan pada margin, seiring meningkatnya biaya produksi dan potensi pergeseran permintaan pada beberapa kategori produk. Walaupun demikian, PBID menilai bahwa strategi diversifikasi dan penetrasi pasar tradisional serta UMKM dapat menjadi jalan untuk memperbaiki kinerja laba pada periode berikutnya.
Prospek PBID hingga Tahun 2026
Melihat arah bisnis yang dijalankan, PBID berada pada posisi strategis untuk terus memperkuat eksistensinya di sektor kemasan nasional. Dengan fokus yang tidak hanya pada perluasan pasar, tetapi juga pada pengembangan produk dan peningkatan efisiensi, perusahaan menargetkan kondisi operasional yang lebih stabil dan berorientasi pertumbuhan.
Segmen UMKM dan pasar tradisional yang selalu membutuhkan suplai kemasan menjadikan fokus PBID relevan dan berpotensi memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan di tahun-tahun mendatang.