JAKARTA - Komitmen industri kesehatan terhadap keberlanjutan energi kembali ditunjukkan Haleon Indonesia.
Perusahaan yang memproduksi berbagai merek kesehatan konsumen seperti Panadol, Sensodyne, dan Actifed ini resmi mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di fasilitas manufakturnya yang berlokasi di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur. Langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi energi perusahaan dalam mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil sekaligus menekan jejak karbon dari aktivitas produksi.
Peresmian PLTS atap dilakukan pada Kamis, 22 Januari 2026 dan dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah. Inisiatif ini menegaskan peran sektor industri kesehatan konsumen dalam mendukung agenda transisi energi nasional yang saat ini terus didorong pemerintah.
PLTS Atap Perkuat Efisiensi Energi Pabrik
PLTS atap yang terpasang di pabrik Haleon Indonesia menempati area seluas 2.382 meter persegi. Sistem ini terdiri dari 678 panel surya jenis monocrystalline dengan total kapasitas terpasang mencapai 416,97 kilowatt peak (kWp). Dengan kapasitas tersebut, PLTS diperkirakan mampu menghasilkan listrik sekitar 577.647 kilowatt hour (kWh) per tahun.
Kontribusi energi dari PLTS atap ini setara dengan kurang lebih 15% dari total kebutuhan listrik fasilitas produksi di Pulo Gadung. Manajemen perusahaan menilai pemanfaatan energi surya tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi operasional sekaligus menurunkan emisi karbon dari proses manufaktur.
Selain menekan biaya energi jangka panjang, penggunaan PLTS atap juga diharapkan meningkatkan ketahanan pasokan listrik pabrik, khususnya di tengah fluktuasi harga energi konvensional.
Penurunan Emisi Hingga Ratusan Ton CO? per Tahun
Manajemen Haleon Indonesia menyampaikan bahwa implementasi PLTS atap ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon hingga sekitar 449 ton CO? per tahun. Angka tersebut menjadi kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim di sektor industri.
Sejak 2023, Haleon Indonesia telah menjalankan berbagai inisiatif efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan. Secara kumulatif, penggunaan energi bersih di fasilitas manufaktur perusahaan tercatat mencapai 7.368 megawatt hour (MWh). Pemasangan PLTS atap menjadi kelanjutan dari strategi tersebut, sekaligus memperkuat posisi Haleon sebagai pelaku industri yang berorientasi pada keberlanjutan.
“Sebagai sektor yang berperan langsung dalam menjaga kesehatan masyarakat sehari-hari, industri consumer health tentu memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan ketersediaan produk yang aman, bermutu, serta berkelanjutan,” kata Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar, yang turut hadir dalam peresmian PLTS tersebut.
Teknologi Pintar untuk Optimalkan Produksi Energi
PLTS atap di pabrik Pulo Gadung dilengkapi dengan inverter pintar serta sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi ini memungkinkan pemantauan kinerja energi secara real time, mulai dari produksi listrik hingga pola konsumsi di area produksi.
Dengan sistem tersebut, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi pemborosan energi dan melakukan penyesuaian operasional secara cepat dan akurat. Selain itu, PLTS atap ini menggunakan modul AR Coated Heat Strengthened Glass yang mampu menangkap cahaya matahari dari kedua sisi panel.
Teknologi bifacial tersebut memungkinkan output energi hingga 4% lebih tinggi dibandingkan panel monofacial konvensional, sehingga meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang dan paparan sinar matahari di area pabrik.
Komitmen Keberlanjutan Haleon Indonesia
Presiden Direktur Haleon Indonesia, Dhanica Dumo Mae-Tiu, menyampaikan bahwa pemanfaatan energi surya merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam menjalankan praktik manufaktur yang bertanggung jawab.
Menurutnya, integrasi energi bersih ke dalam operasional pabrik tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memperkuat daya saing bisnis di tengah meningkatnya tuntutan konsumen terhadap produk yang diproduksi secara etis dan berkelanjutan.
“Kami ingin masyarakat Indonesia yang mengandalkan produk kami setiap hari merasakan manfaat tidak hanya dari efektivitas produk, tetapi juga dari praktik produksi yang bertanggung jawab di baliknya,” ujarnya.
Pabrik Haleon Indonesia di Pulo Gadung telah beroperasi sejak 1994 dan menjadi salah satu fasilitas penting dalam rantai pasok produk kesehatan konsumen untuk pasar domestik dan Asia Tenggara. Selain adopsi energi terbarukan, fasilitas ini juga menerapkan berbagai inisiatif efisiensi sumber daya, termasuk pengelolaan limbah dan optimalisasi penggunaan air.
Dukungan terhadap Target Energi Nasional
Adopsi PLTS atap di Pulo Gadung sejalan dengan target global Haleon untuk mencapai nol emisi karbon bersih pada 2040. Di sisi lain, langkah ini juga mendukung kebijakan pemerintah Indonesia dalam meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan dalam sistem energi nasional.
Dengan semakin banyaknya pelaku industri yang mengadopsi energi bersih, diharapkan percepatan transisi energi dapat berjalan lebih efektif. Haleon Indonesia menilai kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah menjadi kunci dalam mewujudkan sistem industri yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di masa depan.