Sambut Ramadhan 2026, Korban Banjir Tapanuli Selatan Gelar Potong Sapi dan Berbagi untuk Semua

Rabu, 18 Februari 2026 | 09:47:17 WIB
Sambut Ramadhan 2026, Korban Banjir Tapanuli Selatan Gelar Potong Sapi dan Berbagi untuk Semua

JAKARTA - Di tengah suasana duka pascabanjir bandang, warga Desa Huta Godang, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, memilih menyambut datangnya bulan suci dengan kebersamaan.

Para korban bencana memeriahkan Ramadhan dengan memotong sapi untuk dibagikan dan disantap bersama, menghadirkan kehangatan di tengah keterbatasan.

Kegiatan tersebut berlangsung penuh semangat gotong royong. Warga yang masih berada dalam situasi sulit akibat musibah tetap menunjukkan antusiasme saat proses penyembelihan hingga pembagian daging dilakukan. Momentum ini menjadi simbol harapan baru menjelang Ramadhan.

"Pemotongan sapi dari pemerintah ini dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan," kata Kepala Desa Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, Tapsel Adamal Tampubolon di Tapsel, Sumatera Utara.

Bantuan Empat Ekor Sapi dari Pemprov Sumut

Menurut Adamal, kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kepada warga terdampak banjir bandang. Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, Pemprov Sumatera Utara memberikan sebanyak empat ekor sapi dan dibagikan kepada seluruh warga yang menjadi korban bencana banjir bandang.

Warga terlihat bergotong royong menyembelih sapi dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan di Tapanuli Selatan. Kebersamaan itu memperlihatkan bahwa solidaritas sosial tetap terjaga, meski sebagian warga masih tinggal dalam kondisi terbatas akibat bencana.

Adamal menjelaskan bahwa pembagian daging dilakukan tanpa membedakan latar belakang agama. Semua warga yang terdampak mendapatkan bagian yang sama.

"Daging ini bukan untuk umat Islam saja, tapi bagi warga beragama Kristen pun mendapatkan daging, kami bagi sama rata," ujarnya.

Solidaritas Lintas Agama di Tengah Musibah

Desa Huta Godang dihuni oleh warga dengan latar belakang agama yang beragam. Berdasarkan data kartu keluarga (KK), jumlah warga mencapai sekitar 500 KK. Dari jumlah tersebut, sebanyak 350 KK beragama Islam dan 150 KK beragama Kristen.

Kondisi ini membuat pembagian daging menjadi simbol nyata toleransi dan kebersamaan. Meski momentum yang dirayakan adalah Ramadhan, semangat berbagi tetap melibatkan seluruh warga tanpa pengecualian.

Adamal menegaskan bahwa semua warga, baik yang beragama Islam, Kristen, maupun lainnya, mendapatkan daging. Apalagi saat ini mereka sedang menghadapi masa sulit akibat musibah banjir bandang yang melanda desa tersebut.

Kebersamaan ini menjadi penguat moral bagi warga yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana. Di tengah keterbatasan, nilai gotong royong dan toleransi tetap terjaga.

Harapan di Pengungsian Menjelang Sahur

Bagi sebagian warga, daging sapi yang dibagikan memiliki makna lebih dari sekadar bahan makanan. Bantuan tersebut menghadirkan kebahagiaan sederhana di tengah situasi pengungsian.

Salah satu warga, Intan Silalahi, mengaku senang mendapatkan daging sapi dari pemerintah karena mereka dapat merasakan makan enak untuk santap sahur.

"Ini untuk sahur nanti, meski di pengungsian hanya ala kadarnya, tapi bisa masak daging," katanya.

Pernyataan Intan menggambarkan kondisi warga yang masih bertahan dalam keterbatasan fasilitas. Meski berada di pengungsian, mereka tetap berupaya menjalani ibadah puasa dengan penuh semangat.

Daging sapi yang diterima menjadi tambahan gizi sekaligus penyemangat bagi keluarga-keluarga yang terdampak bencana. Momentum ini memberi warna berbeda dalam menyambut Ramadhan tahun ini.

Ramadhan sebagai Penguat Kebersamaan

Kegiatan pemotongan sapi di Desa Huta Godang bukan sekadar acara seremonial, melainkan wujud nyata kepedulian dan solidaritas sosial. Bantuan dari pemerintah daerah dan partisipasi aktif warga menunjukkan bahwa kebersamaan mampu menguatkan masyarakat di tengah ujian.

Ramadhan yang identik dengan nilai berbagi dan kepedulian terasa semakin bermakna dalam situasi seperti ini. Di tengah duka akibat banjir bandang, warga tetap menemukan cara untuk memeriahkan datangnya bulan suci.

Melalui gotong royong dan pembagian daging secara merata, masyarakat Desa Huta Godang memperlihatkan bahwa perbedaan tidak menjadi penghalang untuk saling membantu. Kebahagiaan sederhana dari seporsi daging untuk sahur menjadi simbol harapan baru bagi warga Tapanuli Selatan yang tengah bangkit dari musibah.

Terkini