Kenaikan Harga Kedelai Impor Tekan Omzet Perajin Tempe di Daerah

Selasa, 09 Juni 2026 | 23:06:47 WIB
Ilustrasi Pembuatan Tempe Kedelai.

JAKARTA – Lonjakan harga komoditas kedelai dalam kurun waktu beberapa bulan ke belakang memicu keluhan di kalangan para produsen tempe.

Situasi ini mendongkrak pengeluaran biaya produksi secara signifikan, sedangkan nilai jual di pasar sulit untuk dikerek naik akibat daya beli dari lapisan masyarakat yang terpantau sedang lesu.

Seorang pelaku usaha di pusat kerajinan Kampoeng Tempe, Jalan Tenggilis Kauman, Muhammad Fauzi, memaparkan dirinya mulai terhimpit beban operasional sejak harga bahan baku kedelai merangkak naik.

“Terutamanya sejak setelah puasa Ramadhan kemarin harga kedelai juga naik, tapi kami enggak bisa naikkan harga tempe. Daya beli juga turun, makin susah sekarang,” kata Fauzi saat ditemui, Selasa (9/6/2026).

Menurut penjelasan Fauzi, nominal kedelai yang semula berada di kisaran Rp9.800 per kilogram kini melesat hingga menyentuh angka Rp11.500 per kilogram.

Mengingat mayoritas ketersediaan stok kedelai masih bergantung pada aktivitas impor dari luar negeri, gejolak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ikut mengacaukan harga beli bahan baku bagi para perajin.

“Kan kedelai diimpor dari luar, jadi dolar naik, kedelai juga naik sedikit-sedikit. Sekarang naiknya sudah Rp1.500,” ujarnya.

Walaupun anggaran produksi membengkak, Fauzi mengungkapkan jika para produsen lokal memilih untuk mempertahankan harga jual konvensional karena takut ditinggal oleh pelanggan setia mereka.

Sebagai jalan tengah, sejumlah produsen mengakalinya dengan memperkecil dimensi atau ukuran potongan tempe agar tetap dapat dipasarkan dengan nominal yang sama seperti sebelumnya.

Fauzi menceritakan bahwa lini usahanya saat ini tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengolah kedelai dengan volume sebanyak periode terdahulu.

“Kalau dulu bisa produksi lebih dari 100 kilogram kedelai, sekarang cuma sekitar 40 sampai 65 kilogram saja,” katanya.

Rangkaian pembuatan tempe sendiri memakan waktu kurang lebih selama empat hari, meliputi fase pencucian, perebusan, perendaman, pencampuran ragi, proses fermentasi, hingga tahap pembungkusan.

Untuk saat ini, satu potong lonjor tempe dilepas ke pasaran dengan kisaran harga Rp80.000 sampai Rp90.000.

Fauzi menilai tingkat kompetisi bisnis yang kian ketat di lapangan memaksa para pelaku usaha untuk ekstra waspada saat menetapkan harga edar.

Di samping lonjakan biaya produksi, Fauzi mengonfirmasi jika volume penjualan produk tempe miliknya terus mengalami penyusutan dalam kurun waktu setahun belakangan.

Ia mengestimasi pendapatan bruto atau omzet dari tempat usahanya merosot drastis hingga 50 persen jika disandingkan dengan catatan periode sebelumnya.

“Waktu puasa kemarin banyak pengrajin di sini yang memutuskan libur produksi. Soalnya rugi produksi, rugi tenaga, sementara daya beli masyarakat terus turun,” ujarnya.

Tren penurunan angka penjualan ini rupanya ikut berimbas pada komoditas olahan turunan kedelai lain, seperti produk keripik tempe serta minuman susu kedelai.

Fauzi memaparkan bahwa kuantitas produksi keripik tempe yang mulanya mampu menembus 20 kilogram kini terpangkas dan hanya tersisa sekitar 10 kilogram saja.

“Saya titipkan produknya ke toko oleh-oleh, tapi sekarang juga sepi,” katanya.

Kendati dihantam oleh berbagai dinamika serta tantangan yang berat, Fauzi memantapkan diri untuk tetap mempertahankan roda bisnis yang sudah digelutinya sejak lama tersebut.

“Ya, kebetulan adanya kerjaan yang seperti ini, sekaligus amanah dari orang tua,” ujarnya.

Terkini