Serap 1,34 Juta Ton TBS, PTPN IV Jaga Ekonomi Petani

Jumat, 26 Juni 2026 | 16:33:31 WIB
Ilustrasi sawit. [Foto: NET]

JAKARTA - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo telah berhasil menyerap sebanyak 1,34 juta ton tandan buah segar (TBS) sawit dari perkebunan milik rakyat sampai dengan Mei 2026 guna menjamin stabilitas pasar sekaligus menyokong kesejahteraan berkelanjutan bagi para petani.

"Penyerapan tandan buah segar dari perkebunan rakyat mencapai 1,34 juta ton hingga Mei 2026," kata Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa dalam keterangan di Jakarta, dikutip pada Jumat (26/6/2026).

Jatmiko K. Santosa memaparkan bahwa jumlah serapan TBS dari para petani swadaya serta pihak ketiga ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar 1,30 juta ton, yang sekaligus menjadi bukti konkret atas terus berputarnya roda perekonomian warga di sekitar area perkebunan.

Jatmiko K. Santosa mengutarakan bahwa capaian realisasi serapan hasil panen tersebut menjadi langkah yang sangat krusial demi memelihara stabilitas dan perputaran finansial petani sawit mitra di tiap wilayah operasional perseroan. 

Capaian ini juga dipersembahkan sebagai hadiah dalam rangka memperingati Hari Krida Pertanian yang jatuh pada tanggal 21 Juni.

Jatmiko K. Santosa menambahkan bahwa momentum Hari Krida Pertanian menjadi pengingat akan esensinya tindakan nyata yang berdampak langsung pada kondisi ekonomi para pekebun kelapa sawit lewat jaminan pasar yang konsisten serta penyerapan hasil panen yang maksimal.

Pihak perseroan memandang tingkat kesejahteraan petani tidak semata-mata diukur dari perayaan seremonial saja, melainkan dari adanya kepastian bahwa hasil kebun mereka dapat terserap secara optimal dan memberikan nilai ekonomi yang berkesinambungan.

"Ketika harga sedang dinamis atau saat memasuki masa panen raya, PKS kami berupaya menjaga keandalannya," ucapnya.

Di samping itu, manajemen juga menjamin nilai beli tetap kompetitif, transparan, serta senantiasa merujuk pada regulasi penetapan harga yang dikeluarkan pemerintah daerah. 

Langkah intervensi positif di sektor hilir ini dijalankan agar sistem tata niaga sawit di level petani tidak mengalami kendala.

Kendati demikian, manajemen menyampaikan bahwa persoalan kelapa sawit rakyat tidak melulu seputar penyerapan hasil panen. Potensi penurunan produktivitas yang dipicu oleh usia tanaman yang semakin tua bakal menjadi tantangan krusial di masa mendatang.

"Merespons hal itu kami melakukan pendekatan edukasi dan pendampingan peremajaan sawit rakyat," ujarnya.

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyudha menilai bahwa aktivitas pendampingan bagi para petani sawit sudah menjadi kebutuhan yang mendasar untuk memelihara keberlanjutan roda usaha mereka.

Menurut Arya Sandhiyudha, tingkat kemakmuran petani tidak bisa sekadar ditopang oleh penyerapan hasil panen, melainkan harus dibarengi dengan peningkatan produktivitas kebun lewat edukasi yang konsisten.

"Kami harus memikirkan dan merawat produktivitas kebun mereka untuk 10 hingga 20 tahun ke depan. Di situlah letak pentingnya edukasi dan pendampingan berkelanjutan di dalam ekosistem kemitraan kami," tutur Arya.

Proses pendampingan yang diaplikasikan di lapangan ini juga menyasar pada penyelesaian regulasi legalitas, aspek teknis, hingga kepastian offtaker produk.

Sebagai informasi, di sepanjang tahun 2025 manajemen telah melangsungkan pendampingan pada lahan dengan total luas mencapai 23.188 hektare. 

Hasil positif ini terus digulirkan pada tahun berjalan, yang mana sampai dengan Mei 2026, realisasi proses pendampingan sudah menyentuh angka 6.380 hektare.

Menurut Arya Sandhiyudha, capaian luasan lahan tersebut merupakan langkah awal dalam mengimplementasikan transformasi tata kelola perkebunan rakyat agar selaras dengan standar Good Agricultural Practices (GAP).

Terkini