AHM Sebut Kenaikan Harga BBM Belum Pacu Migrasi ke Motor Listrik

Jumat, 26 Juni 2026 | 21:50:31 WIB
Motor Listrik Honda.

JAKARTA - Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang melanda pasar belakangan ini rupanya belum sanggup memicu pertambahan masif pada angka penjualan sepeda motor listrik di tanah air.

Pihak PT Astra Honda Motor (AHM) mengamati ketertarikan pasar terhadap armada roda dua berbasis baterai ini masih cenderung berjalan landai, kendati grafiknya menunjukkan grafik pertumbuhan jika disandingkan dengan performa tahun lalu.

Fenomena ini membuktikan bahwa landasan utama para konsumen untuk beralih menggunakan moda transportasi listrik tidak melulu disetir oleh pergerakan harga BBM semata.

Direktur Marketing PT Astra Honda Motor (AHM) Octavianus Dwi Putro mengutarakan bahwa niaga sepeda motor listrik Honda saat ini masih berada dalam koridor yang stagnan.

“Ada peningkatan dibanding tahun lalu,(tapi) relatively flat lah ya kalau motor listriknya,” ujar Octa di Cikarang, Rabu (24/6/2026).

Menurut pandangan Octa, kesepakatan untuk mengadopsi kendaraan listrik masih dipengaruhi oleh rupa-rupa aspek penentu. Di luar variabel harga, pembeli juga menakar kesiapan sarana pendukung serta aspek kepraktisan untuk mobilitas harian.

Satu di antara faktor yang kerap menjadi ganjalan adalah ketersediaan pasokan daya setrum di hunian masing-masing, serta keraguan kolektif mengenai keandalan teknologi mesin bertenaga baterai tersebut.

“Kita kembali ke pilihan konsumen. Pasti konsumen kan punya pertimbangan disesuaikan lah, baik itu daya di rumahnya, kemudian masih ada worry terkait ini, meskipun kita selalu educate bahwa sebenarnya motor listrik yang sekarang juga sudah reliable,” kata Octa.

“Sebenarnya enggak perlu takut, tapi kembali konsumen kami kan punya pertimbangan masing-masing dan kami akan kasih pilihan ke konsumen,” kata dia.

Pihak AHM sendiri saat ini telah memasarkan empat varian motor listrik untuk pasar domestik, yang meliputi seri EM1 e:, EM1 e: Plus, ICON e:, serta CUV e:, guna memenuhi ceruk konsumen dengan keperluan yang beraneka ragam.

Hal yang cukup unik, geliat kenaikan harga minyak non-subsidi tidak memberikan stimulasi instan pada grafik pemesanan produk ramah lingkungan ini.

Octa memaparkan, mayoritas masyarakat masih memandang motor konvensional berbasis bensin sebagai opsi yang paling fungsional, hemat biaya, dan pas untuk menunjang aktivitas harian.

Apalagi, lini produk sepeda motor Honda dikenal mempunyai tingkat keiritan konsumsi bahan bakar yang tinggi, sehingga fluktuasi harga minyak dinilai belum cukup mendesak masyarakat untuk berpindah massal ke kendaraan setrum.

“Sekarang masih belum (meningkat) lah karena kan gini, bagi konsumen itu kan kalau sepeda motor terutama Honda ini kan cukup reliable dalam artian fuel efficient juga, kegunaan fungsionalnya juga memenuhi kebutuhan mereka,” ujar Octa.

"Jadi motor listrik ini mulai (diminati) tetapi masih menjadi backup lah istilah saya. Jadi motor cadangan,” kata dia.

Realitas lapangan tersebut mengindikasikan bahwa peta bisnis motor bertenaga baterai di Indonesia masih berstatus dalam fase rintisan.

Di samping program sosialisasi, ketersediaan jaringan pengisian daya, kultur berkendara, hingga sudut pandang awam atas pembaruan sistem teknologi masih menjadi sandungan nyata yang wajib diselesaikan produsen demi mempercepat penyerapan pasar.

Terkini