Emiten AGAR Siapkan Langkah Taktis Hadapi Disrupsi Logistik Global

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:22:31 WIB
Ilustrasi Seseorang Sedang Mengangkut Rumput Laut.

JAKARTA - Emiten pengekspor rumput laut, PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR), merancang rangkaian taktik guna meredam dampak tekanan makroekonomi global serta kendala logistik yang sempat menghambat perputaran omzet perseroan pada awal tahun ini.

Direktur Utama AGAR Indra Widyadharma menerangkan bahwa korporasi saat ini menerapkan regulasi pemanfaatan modal yang sangat ketat (selective cash management).

AGAR mendahulukan penyelesaian kewajiban utang berbunga untuk memangkas cost of fund secara berkelanjutan sekaligus aktif bernegosiasi terkait skema pembayaran supaya pembeli melunasi tagihan lebih cepat demi likuiditas.

"Tidak hanya mengandalkan pasokan domestik yang kerap terkendala tingginya biaya transportasi antar-pulau dan risiko cuaca ekstrem, AGAR juga mengambil langkah progresif dengan merintis budi daya rumput laut di Afrika sejak tahun lalu," ujarnya di Sidoarjo, Jumat (26/6/2026).

Melalui skema kemitraan (off-taker) bersama koperasi pesisir lokal di Afrika yang didominasi oleh pekerja wanita, pihak manajemen optimistis bahwa AGAR berhasil membentuk pilar pasokan alternatif.

"Kendati menghadapi proses birokrasi dan perizinan lokal yang panjang, proyek ini menunjukkan hasil positif. Perseroan membidik ekspor perdana dari Afrika dapat terealisasi dalam 1 hingga 2 bulan ke depan untuk memperkuat opsi pasokan global," ungkapnya.

Di ranah domestik, operasional penguatan hilirisasi AGAR diserahkan pada anak perusahaannya, PT Giwang Citra Laut (GCL) yang beroperasi di Takalar, Sulawesi Selatan.

GCL, yang kepemilikan sahamnya telah diakuisisi sebanyak 99,99 persen pada tahun 2022 serta menyandang status Kawasan Berikat, terus didorong untuk menaikkan kapasitas produksi Semi Refined Carrageenan (SRC).

Hingga saat ini, produk olahan tepung karagenan kelas pangan (food grade) rakitan GCL dilaporkan telah diserap secara kontinu oleh pasar elite di Inggris, Spanyol, and China.

"Sebagai langkah hilirisasi lanjutan untuk mendongkrak margin profitabilitas sekaligus mengantisipasi potensi larangan ekspor bahan mentah oleh pemerintah di masa depan, AGAR tengah memformulasikan produk jadi bernilai tambah tinggi. Perseroan berencana meluncurkan produk turunan siap konsumsi seperti permen/jeli berbasis rumput laut, serta bahan baku pakan hewan peternakan (pet food) yang pasarnya tengah tumbuh pesat," jelasnya.

Indra menyebutkan bahwa tahapan perancangan formula beserta pengurusan berkas legalitas untuk produk pangan olahan tersebut kini tengah berjalan.

Direksi AGAR memperkirakan bahwa deretan komoditas hilir siap pakai ini dapat resmi diperkenalkan ke konsumen luas pada kuartal IV 2026.

Merujuk pada berkas paparan publik perseroan edisi Juni 2026, emiten yang fokus pada komoditas rumput laut kering tipe Eucheuma Cottonii, Gracilaria, and Eucheuma Spinosum ini mencatat penurunan omzet 12 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal I 2026 menjadi Rp 36,00 miliar dari Rp 41 triliun pada kuartal I 2025.

Selaras dengan penurunan pos pendapatan utama, Indra memaparkan laba kotor korporasi pada tiga bulan pertama tahun 2026 tergerus 33 persen YoY ke posisi Rp 2,00 miliar dari sebelumnya Rp 3,00 miliar.

Pada indikator dasar laba bersih, AGAR membukukan rugi bersih senilai Rp 823 juta pada kuartal I 2026, mencatat sedikit perbaikan dari rugi bersih kuartal I 2025 yang menembus Rp 955 juta.

Indra menguraikan, penurunan perolehan omzet pada kuartal I 2026 bukan dipicu oleh lesunya permintaan pasar, melainkan karena adanya hambatan besar pada rantai pasok global.

Lonjakan biaya pengapalan (shipping cost) yang signifikan serta jadwal operasional pelayaran yang berulang kali mengalami hambatan (delay) menjadi pemicu utama tertahannya laju pengiriman produk ke luar negeri.

Meski begitu, dari sisi permintaan pasar, pihak perseroan memvalidasi adanya sinyal kenaikan volume pemesanan pasca-kuartal I 2026.

"Hal ini didorong oleh menipisnya stok bahan baku di tingkat pabrik global setelah sempat menahan pembelian akibat kelesuan ekonomi sebelumnya," tuturnya.

Terkini