Alasan Tubuh Ibu Berubah Setelah Proses Persalinan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 01:04:01 WIB
Ilustrasi Ibu Menyusui.

JAKARTA - Masa setelah melahirkan sering dianggap sebagai waktu penuh kebahagiaan bersama bayi. Namun, fase tersebut juga membawa banyak perubahan yang harus dihadapi ibu baru.

Selain menghadapi kurang tidur dan kesibukan merawat bayi, tubuh perempuan juga mengalami berbagai transformasi yang dapat bertahan dalam jangka waktu tertentu, mulai dari rambut, kulit, hingga bentuk tubuh.

Berikut beberapa perubahan fisik yang umum terjadi setelah persalinan.

1. Rambut Mengalami Kerontokan dan Perubahan Tekstur

Saat masa kehamilan, peningkatan hormon estrogen serta konsumsi vitamin tertentu dapat membuat rambut terlihat lebih tebal dan sehat.

Namun setelah melahirkan, perubahan hormon dapat menyebabkan rambut menjadi lebih tipis, mudah rontok, hingga terasa lebih berminyak.

Kondisi tersebut biasanya mencapai puncaknya sekitar tiga sampai enam bulan setelah persalinan dan dikenal sebagai efluvium telogen.

Kelelahan serta kurangnya asupan nutrisi juga dapat memperburuk keadaan, meskipun umumnya kondisi rambut akan membaik secara bertahap.

"Selama kehamilan, tingginya kadar estrogen dan progesteron menjaga rambut dalam fase pertumbuhannya, itulah sebabnya banyak wanita menikmati rambut yang lebih tebal dan bervolume," jelas anggota American Association of Naturopathic Medicine, dr. Andrea Colon.

Setelah persalinan, kadar kedua hormon tersebut menurun, terutama progesteron, sehingga dapat memicu kerontokan rambut cukup banyak.

"Ini bukanlah kerontokan rambut yang sebenarnya, melainkan tubuh yang kembali ke siklus hormon alaminya," tambah dr. Colon.

Selain jumlah rambut yang berkurang, tekstur rambut juga dapat berubah karena perbedaan produksi minyak dan tingkat kelembapan kulit kepala.

"Beberapa wanita yang selalu memiliki rambut lurus mungkin menyadari adanya gelombang, atau seseorang dengan rambut ikal mungkin mendapatinya lebih longgar," ujar dokter kandungan dan ginekolog, Rachel Miller.

2. Perubahan Kulit dan Pembuluh Darah

Perubahan kulit juga menjadi salah satu hal yang sering dialami setelah melahirkan. Sebagian perempuan mengalami perubahan warna, tekstur, atau kelembapan kulit.

Salah satu kondisi yang umum terjadi adalah hiperpigmentasi berupa bercak gelap pada wajah akibat meningkatnya produksi melanin.

Seiring waktu, perubahan tersebut dapat memudar dengan perlindungan kulit yang tepat seperti penggunaan tabir surya.

Selain itu, peregangan kulit selama kehamilan dapat menyebabkan munculnya stretch mark, terutama pada bagian perut.

"Stretch mark juga merupakan wilayah mitos. Obat oles bisa bekerja, tetapi stretch mark tersebut tidak pernah benar-benar hilang sepenuhnya," ungkap dokter kandungan dan ginekolog, Charles M. Carlsen.

Masalah lain yang bisa muncul adalah varises atau pembengkakan pembuluh darah akibat tekanan pada area panggul selama kehamilan.

3. Berat Badan dan Bentuk Tubuh Berubah

Pertambahan berat badan saat hamil merupakan proses alami untuk mendukung perkembangan bayi. Namun, berat tersebut tidak selalu langsung kembali seperti sebelum kehamilan.

Banyak yang mengira proses menyusui akan otomatis menghilangkan berat tambahan setelah persalinan.

"Salah satu mitos yang sering saya dengar adalah jika kamu menyusui, berat badan ekstra akan turun," tutur dr. Miller.

"Menyusui memang meningkatkan jumlah kalori yang dibakar oleh tubuh, tetapi respons tubuh terhadap menyusui adalah meningkatkan isyarat lapar, sehingga meningkatkan jumlah kalori yang dikonsumsi," lanjut dia.

Selain berat badan, perubahan bentuk pinggul dan pinggang juga dapat terjadi akibat peregangan otot serta perubahan struktur tubuh.

"Tubuh mengalami transformasi luar biasa untuk menciptakan manusia kecil, jadi mengharapkannya kembali persis seperti sebelum hamil adalah harapan yang sangat tinggi dan, bagi sebagian orang, tidak realistis," kata dr. Miller.

4. Ukuran Kaki Bisa Mengalami Perubahan

Perubahan tubuh setelah melahirkan tidak hanya terjadi pada bagian perut atau pinggang. Ukuran kaki juga dapat berubah pada sebagian perempuan.

Beberapa ibu mengalami kaki yang membesar hingga satu ukuran penuh. Kondisi ini dapat kembali seperti semula pada sebagian orang, tetapi bisa juga bertahan permanen.

"Perubahan ukuran sepatu setelah kehamilan berkaitan dengan perubahan struktural pada kaki yang disebabkan oleh tingginya kadar progesteron dan relaksin yang diproduksi selama kehamilan," jelas ahli endokrinologi reproduksi dan spesialis kesuburan, dr. Michael Wittenberger.

"Dikombinasikan dengan peningkatan massa tubuh, hormon-hormon ini, yang menyebabkan kelonggaran ligamen, dapat menyebabkan lengkungan telapak kaki menjadi rata, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan panjang dan lebar kaki," pungkasnya.

Terkini