Produsen Minyakita Tarik 300 Ton Minyak Bantuan di Jawa Tengah

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:01:31 WIB
Minyakita

JAKARTA - Pihak produsen Minyakita memberikan kepastian bahwa paket minyak goreng bantuan pangan yang didistribusikan ke empat kabupaten di wilayah Jawa Tengah kini telah ditarik seluruhnya dan diganti dengan stok baru setelah muncul keluhan berbau solar.

Sebelumnya mencuat aduan dari sejumlah warga penerima bantuan pangan yang dikelola oleh Bulog perihal kondisi minyak goreng yang mengeluarkan aroma mirip solar di beberapa daerah, seperti Kabupaten Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri.

Tiap-tiap keluarga penerima manfaat memperoleh jatah bantuan pangan berupa minyak goreng dengan kemasan ukuran 4 liter.

Adapun sebaran total penerima program bantuan pangan di area Kabupaten Karanganyar tercatat sebanyak 42.644 penerima, kemudian untuk wilayah Klaten terdata 71.648 penerima, serta di wilayah Wonogiri mencapai 78.288 penerima.

PT Kusuma Mukti Remaja menjadi entitas korporasi yang bertindak selaku pemasok komoditas minyak goreng bermerek Minyakita untuk agenda pemenuhan bantuan pangan tersebut.

Setelah mendapati keluhan dari para penerima manfaat, pihak produsen segera bergerak cepat menarik komoditas minyak goreng yang sudah dibagikan, baik yang terindikasi bermasalah maupun yang normal, untuk ditukar dengan produk baru.

"Per hari ini kami sudah menarik 100 persen dan mengembalikan minyak goreng yang mungkin bermasalah di tiga kabupaten. Karanganyar, Klaten dan Wonogiri," kata Direktur PT Kusuma Mukti Remaja, Joko Mukti Wijaya kepada wartawan di pabrik yang berlokasi di Jetis, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jumat (26/6/2026).

Selain tiga wilayah tersebut, dirinya menerangkan bahwa kasus keluhan yang sama sebelumnya sempat ditemukan juga di area Kabupaten Tegal.

Prosedur penarikan serta proses substitusi produk minyak goreng tersebut dilaporkan telah rampung diselesaikan di daerah itu.

"Yang (minyak goreng) indikasi bermasalah sekitar 100 ton tapi yang kami tarik sampai 300 ton," jelasnya.

Menurut pandangannya, proses penarikan beserta penukaran stok minyak goreng di sejumlah wilayah itu dapat berjalan tanpa hambatan berkat adanya sinergi dari perangkat desa atau kelurahan setempat dan juga pihak Bulog.

Ketika dimintai konfirmasi mengenai penyebab utama dari temuan komoditas minyak goreng berbau solar itu, Joko menyampaikan belum dapat memastikan secara gamblang karena masih dalam tahapan investigasi mendalam.

"Kemungkinan ada terkontaminasi di penyimpanan atau pengangkutan. Kami masih investigasi sambil menunggu hasil lab (laboratorium). Hasil lab itu mungkin (keluar) satu, dua minggu," terangnya.

Sementara itu, menanggapi laporan hasil inspeksi mendadak oleh Tim Satgas Pangan mengenai tidak ditemukannya kode produksi, dirinya membantah dan menegaskan bahwa tiap produk minyak goreng yang dipasok dari pabriknya selalu dibubuhi kode produksi.

Adapun pasokan minyak goreng yang didistribusikan dalam program jaminan pangan tersebut merupakan hasil pemrosesan pada kurun waktu tanggal 2 sampai 5 Juni 2026.

Joko menyatakan, korporasinya siap bertanggung jawab penuh sekiranya ada dari kalangan warga penerima bantuan minyak goreng tersebut yang mengeluhkan gangguan kesehatan.

Kendati demikian, pihak perusahaan mengonfirmasi bahwa sampai detik ini belum ada laporan masuk mengenai warga penerima manfaat yang mengalami keluhan medis.

Terkait kelanjutan nasib produk yang ditarik, dirinya menjelaskan bakal menjualnya kembali sebagai komoditas minyak jelantah yang umum dimanfaatkan untuk menyokong keperluan pengolahan bahan bakar bio solar.

Munculnya persoalan minyak goreng beraroma solar ini murni hanya terjadi pada produk yang disalurkan bagi program bantuan pangan, sehingga dirinya menjamin bahwa produk Minyakita yang beredar di pasar reguler dipastikan berada dalam kondisi aman.

Terkini