Cara Pekerja Jarak Jauh Hindari Burnout Menurut Ahli Psikologi

Rabu, 01 Juli 2026 | 05:53:01 WIB
ilustrasi Work From Home.

JAKARTA - Sistem bekerja dari rumah atau remote working menyuguhkan sederet keunggulan, mulai dari efisiensi waktu yang lentur hingga terpangkasnya durasi perjalanan menuju ruang kantor.

Kendati menawarkan kepraktisan, skema kerja jarak jauh ini juga menyimpan problematikanya sendiri bagi para pelakunya di era modern.

Salah satu tantangan paling nyata ialah sekat pemisah antara urusan profesional dengan ranah privasi keluarga yang kian menipis dan membingungkan.

Imbasnya, sekian banyak pegawai mandiri kesusahan untuk membebaskan pikiran dari tugas kantor, sehingga lebih rentan didera depresi hingga keletihan mental akut.

Menurut ulasan penulis sekaligus spesialis keputusan berbasis perangai di Psychology Today, Gleb Tsipursky, pemicunya adalah lenyapnya fase transisi yang lumrah dilalui saat berangkat maupun pulang kerja.

Durasi perjalanan ke kantor sejatinya bukan sekadar momen berpindah tempat, melainkan berfungsi sebagai liminal space atau ruang transisi yang melatih kesiapan otak mengubah peran psikologis.

Ketika beraktivitas penuh dari rumah, jeda transisi alamiah itu otomatis sirna dari kebiasaan harian para pekerja.

Oleh sebab itu, kaum pekerja jarak jauh diimbau merekayasa rutinitas ringkas demi mempermudah otak mengenali jadwal beraktivitas dan waktu melepas penat.

Langkah solutif yang paling mudah direalisasikan adalah mempraktikkan simulasi perjalanan atau fake commute dengan berjalan kaki sekitar 10 sampai 15 menit sebelum bekerja.

Gerakan fisik sederhana ini efektif menyalurkan stimulus ke otak bahwa agenda mencari nafkah akan segera bergulir secara resmi.

Mekanisme serupa juga pas diterapkan begitu jam operasi kantor berakhir, di mana jalan santai di area hunian andal mengembalikan mode pikiran ke waktu istirahat.

Apabila enggan berjalan kaki, para pekerja bisa mengoptimalkan menit-menit berharga sebelum kerja dengan melakoni kegiatan yang menenteramkan kalbu.

Aktivitas tersebut dapat berupa menikmati alunan musik, menyimak podcast, membaca buku, atau meminum kopi hangat tanpa menyentuh komputer jinjing.

Tsipursky memaparkan, kecakapan melupakan urusan pekerjaan secara psikologis atau psychological detachment menjadi instrumen vital dalam fase pemulihan kelelahan jiwa.

Pihaknya menganjurkan komitmen kuat untuk menutup gawai, menonaktifkan pemberitahuan pesan tugas, serta tidak lagi menyentuh dokumen dinas terkecuali darurat.

Menjaga produktivitas bukan berarti harus memaksakan diri bekerja secara spartan tanpa mengindahkan waktu jeda bagi tubuh.

Tsipursky mengimbau pekerja menyisihkan waktu rileks berkisar 10 menit pada setiap satu jam durasi operasional kerja di depan layar komputer.

Manfaatkan sela waktu itu untuk mengubah posisi tubuh, melakukan peregangan otot, atau mengalihkan pandangan guna mereduksi ketegangan saraf mata.

Sesi pertemuan daring yang terjadwal secara beruntun tanpa sela juga diidentifikasi sebagai pemicu utama terkurasnya energi berpikir pada otak manusia.

Jika memungkinkan, pangkas durasi rapat menjadi 50 menit saja dari yang semula penuh satu jam demi menyisakan sela waktu bernapas sebelum agenda berikutnya.

Terkini