Utamakan Kualitas Aset, KB Bank Atur Laju Kredit Lebih Prudent

Kamis, 02 Juli 2026 | 23:37:31 WIB
KB Bank Targetkan Pertumbuhan Kredit Lebih Moderat pada 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mengorientasikan laju pertumbuhan kredit pada 2026 agar bergerak lebih moderat dengan senantiasa memprioritaskan mutu aset di tengah fluktuasi situasi makroekonomi.

Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie menyampaikan bahwa perseroan enggan memaksakan penyaluran pinjaman sekadar demi memenuhi target jika hal itu melenceng dari prinsip kehati-hatian.

"Kami mau fokus terhadap kualitas. Jadi, kami nggak mau paksain meluncurkan kredit untuk mengejar target tapi tidak prudent," kata Kunardy di Jakarta, Kamis.

Ia menuturkan bahwa dinamika kondisi makro, termasuk melonjaknya suku bunga serta pergeseran nilai tukar, mendorong perseroan untuk menyelaraskan kembali rencana bisnis bank (RBB).

Kunardy menyebutkan target ekspansi kredit perseroan yang mulanya dipatok pada kisaran 15 persen bakal disesuaikan menjadi lebih moderat, mendekati estimasi pertumbuhan kredit industri di rentang 8-12 persen.

"Target sesuai dengan arahan dari BI (Bank Indonesia) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan). BI kan bilang 8 sampai 12 persen, ya sekitar segitulah. Dulu setahu saya di RBB kami awal itu ada sekitar 15-an persen. Jadi kami akan lebih ke searah dengan industri," ujarnya.

Menurut pandangannya, KB Bank tetap konsisten mengalirkan kredit ke sektor produktif lantaran mampu menyokong kegiatan bisnis sekaligus roda perekonomian nasional. 

Meski demikian, penyaluran pinjaman tersebut bakal dieksekusi secara selektif lewat pertimbangan matang atas kualitas debitur serta prospek sektor usahanya.

Kunardy mengimbuhkan bahwa naiknya suku bunga ikut berdampak pada biaya dana dan bunga pinjaman, tetapi perseroan lebih waspada terhadap risiko volatilitas nilai tukar bagi kinerja para debitur. 

Ia turut menguraikan jika naik-turunnya nilai tukar bisa mengganggu pelaku usaha yang bergantung pada komoditas impor karena belum tentu dapat spontan membebankan kenaikan biaya itu kepada pembeli.

Direktur Kredit KB Bank Henry Sawali mengutarakan perseroan bakal masuk ke sektor industri yang mempunyai fundamental kokoh serta tangguh dalam menghadapi situasi ekonomi.

"Yang pasti kami akan masuk ke dalam industri-industri tentunya yang memiliki fundamental yang kuat dan juga resilien terhadap kondisi ekonomi yang saat ini sedang berlangsung," kata Henry.

Ia menganggap metode tersebut tampil sebagai salah satu instrumen krusial dalam memelihara mutu aset perseroan. Demi menjaga kualitas kredit, lanjutnya, KB Bank menerapkan sejumlah taktik penanganan kredit bermasalah, meliputi penagihan, penjualan portofolio, lelang, hingga langkah hukum sebagai jalur pamungkas.

Ia membeberkan rasio pinjaman berisiko (loan at risk/LAR) KB Bank pada 2021 sempat menyentuh angka kisaran 65 persen dan terus dibenahi melalui taktik penagihan, divestasi portofolio, serta lelang aset. Perusahaan juga konsisten memangkas rasio kredit bermasalah (NPL). Menilik laporan keuangan publikasi per Maret 2026, rasio NPL gross perseroan bertengger di angka 8,44 persen.

"NPL ini tentunya akan kami tekan terus dengan strategi yang tadi saya sampaikan," kata Henry.

Direktur Wholesale KB Bank Widodo Suryadi mengimbuhkan bahwa perseroan lebih mengedepankan prinsip mutu sebelum memperluas cakupan bisnis.

"Pertumbuhan kredit itu akan menjadi moderat. Jadi kami tidak semata-mata hanya mengejar volume atau target, tapi prinsip kehati-hatian itu kan sangat penting," kata Widodo.

Menurut dirinya, KB Bank juga menjelma menjadi lebih selektif dalam mengonsep penilaian serta pengawasan kredit supaya portofolio yang berjalan tidak mendapati pemburukan di masa mendatang.

Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatatkan ekspansi kredit berkualitas atau normal loan sebesar 4,76 persen secara tahunan, rasio dana murah (CASA) senilai 31,55 persen, Net Interest Margin (NIM) pada level 2,09 persen, serta Pre-Provision Operating Profit (PPOP) bernilai positif Rp9 miliar.

Jajaran direksi menegaskan bahwa langkah transformasi ini masih menjadi agenda jangka panjang perusahaan demi menciptakan pertumbuhan yang lebih sehat sekaligus berkelanjutan, dengan tetap memperkokoh tata kelola, manajemen risiko, serta mutu aset.

Terkini