Mengapa Sifat Perfeksionisme Berlebihan Berisiko Picu Kecemasan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:21:32 WIB
Ilustrasi Orang Perfeksionis.

JAKARTA - Perfeksionisme yang berlebihan dapat membuat seseorang terus merasa tertekan, takut melakukan kesalahan, hingga sulit menikmati pencapaian yang sudah diraih.

Dalam jangka panjang, pola pikir ini berisiko memicu kecemasan kronis bahkan burnout. Psikiater Konsultan di Aster CMI Hospital, Bangalore, Dr. Sharadhi C menjelaskan, perfeksionisme sering berkaitan erat dengan gangguan kecemasan karena seseorang terus memaksakan diri memenuhi standar yang sangat tinggi.

"Orang dengan kecenderungan perfeksionis mungkin terus-menerus mengkhawatirkan performanya, takut dikritik, dan merasa bahwa hasil yang kurang dari sempurna adalah sebuah kegagalan,” katanya.

Salah satu alasan perfeksionisme memicu kecemasan adalah karena seseorang selalu merasa harus memenuhi ekspektasi yang nyaris mustahil dicapai. Target yang terlalu tinggi membuat setiap tugas terasa sebagai ujian besar sehingga pikiran sulit beristirahat.

“Tekanan yang diciptakan sendiri ini membuat pikiran terus berada dalam kondisi stres sehingga memicu rasa cemas, keraguan terhadap diri sendiri, dan kesulitan untuk rileks," tambah Dr. Sharadhi.

Menurut Dr. Sharadhi, seseorang bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk memeriksa ulang pekerjaan atau terus memikirkan berbagai kemungkinan kesalahan. Kebiasaan ini membuat energi mental terkuras dan akhirnya meningkatkan risiko kelelahan emosional.

Perfeksionis juga cenderung lebih mudah melihat kekurangan dibandingkan keberhasilan yang telah dicapai dan sibuk membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis. Dr. Sharadhi menjelaskan, pola pikir tersebut dapat memunculkan perasaan tidak pernah cukup baik yang menciptakan lingkaran kecemasan sulit diputus.

Akibatnya, seseorang bisa kehilangan rasa percaya diri meski memiliki kemampuan yang baik dan sering merasa gagal meskipun hasil kerjanya sebenarnya memuaskan. Selain itu, rasa takut gagal yang berlebihan dapat membuat seseorang menunda pekerjaan atau menghindari tantangan demi mengurangi kemungkinan melakukan kesalahan.

Untuk memutus siklus tersebut, penting untuk menetapkan target realistis, menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, serta menghargai kemajuan. Bila perfeksionisme mulai mengganggu kualitas hidup, berkonsultasi dengan profesional dapat membantu menemukan strategi sehat untuk mengelola kecemasan.

Terkini