Benarkah Sunscreen Menyebabkan Kanker Kulit Ini Penjelasan Ilmiahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 19:41:01 WIB
Ilustrasi Sedang Memakai Sunscreen.

JAKARTA - Narasi digital yang menyebutkan bahwa pemakaian produk tabir surya atau sunscreen memicu munculnya penyakit kanker kulit kembali ramai diperbincangkan oleh publik di dunia maya.

Rumor itu bertolak dari riset medis asal Inggris yang dikabarkan menemukan indikasi bahwa kian intensif seseorang mengoleskan sunscreen, maka semakin melonjak pula potensi terjangkit kanker kulit.

Akan tetapi, asumsi yang beredar luas di tengah masyarakat tersebut dipastikan tidak sepenuhnya tepat.

Berdasarkan laporan penelusuran fakta dari Reuters Fact Check (3/7/2026), hasil riset ilmiah tersebut sama sekali tidak membuahkan simpulan jika produk tabir surya menjadi dalang kanker kulit.

Pihak tim peneliti justru menilai bahwa output dari investigasi medis mereka telah disalahartikan oleh publik, dan mereka kembali menekankan jika tabir surya tetap menjadi medium proteksi krusial penangkal radiasi ultraviolet (UV).

Pihak Reuters menguraikan jika isu menyesatkan tersebut berakar dari publikasi karya ilmiah pada tahun 2023 di dalam wadah jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention.

Studi terkait menguji kumpulan basis data dari partisipan UK Biobank guna mendeteksi korelasi antara aspek variasi genetik, kondisi lingkungan, serta pola perilaku hidup dengan ancaman kanker kulit.

Output riset memang memperlihatkan data bahwa kelompok masyarakat yang mengaku lebih intens mengoleskan sunscreen justru mempunyai riwayat persentase kanker kulit yang condong lebih tinggi.

Kendati demikian, indikasi di atas murni hanya menyajikan status hubungan keterikatan (asosiasi) semata, bukan menjadi sebuah pembuktian ilmiah bahwa produk sunscreen bertindak selaku stimulan utama kanker.

Penulis senior dari proyek riset ilmiah tersebut, Dr. Ivan Litvinov, memberikan argumentasi jika output data bersangkutan sangat dipengaruhi oleh kekeliruan pola perilaku dari para konsumen sunscreen itu sendiri.

Dr. Litvinov selaku pakar dermatologi asal McGill University di Montreal menguraikan terdapat sebuah fenomena unik yang diistilahkan sebagai "paradoks sunscreen" (sunscreen paradox).

Menurut penjelasannya, sebagian individu yang membalurkan tabir surya kerap merasa tubuhnya sudah terlindungi total, sehingga mereka nekat beraktivitas lebih lama di bawah terik matahari tanpa proteksi ekstra.

"Sebagian pengguna sunscreen menghabiskan lebih banyak waktu di bawah sinar matahari tanpa menerapkan langkah perlindungan lain. Hal ini dapat menyebabkan paparan sinar matahari lebih lama, kulit lebih mudah terbakar, dan muncul rasa aman yang keliru," kata Litvinov.

Ia kembali memberikan penegasan bahwa pengaplikasian sunscreen dengan metode yang tepat, yang diimbangi proteksi sekunder, diyakini ampuh menekan risiko kanker kulit.

"Penggunaan sunscreen yang tepat, dikombinasikan dengan langkah perlindungan lain dari sinar matahari, mengurangi risiko kanker kulit," ujarnya.

Dalam bagian ulasan hasil studi ilmiah tersebut, tim penulis riset juga turut memaparkan indikasi probabilitas dari sudut pandang medis yang lainnya.

Masyarakat yang terpantau disiplin mengoleskan tabir surya boleh jadi merupakan kelompok individu yang sejak awal mula memang mempunyai faktor risiko bawaan yang tinggi untuk mengidap kanker kulit.

Sebagai ilustrasi, mereka mungkin kerap beraktivitas berat di luar ruangan sehingga sering diterpa panas matahari langsung atau memiliki catatan medis keluarga terkait tumor kulit.

Berdasarkan analisis Dr. Litvinov, kondisi latar belakang inilah yang memicu terjadinya tumpukan radiasi sinar UV yang kian pekat seiring berjalannya waktu, sehingga potensi kanker kulit ikut terangkat naik walau mereka rutin merawat kulit dengan tabir surya.

Oleh sebab itu, kesimpulan dari proyek riset medis ini sama sekali tidak boleh dipelintir seolah-olah tabir surya merupakan zat pemicu utama kanker.

Situs Reuters juga mengonfirmasi jika bermacam otoritas kesehatan di level global tetap merekomendasikan penggunaan tabir surya sebagai bagian dari benteng pertahanan utama kulit menghadapi radiasi sinar UV.

Instruksi medis tersebut secara resmi dikeluarkan oleh badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, hingga badan National Cancer Institute.

Manajer Informasi Kesehatan dari yayasan Cancer Research UK, Rachel Orritt, memaparkan bahwa radiasi ultraviolet dari matahari ataupun dari perangkat kosmetik penyamak kulit merupakan dalang utama melanoma atau kanker kulit.

Oleh karena itu, ia mengimbau khalayak luas untuk memproteksi diri dengan cara berteduh saat matahari sedang terik, menggunakan pakaian yang tertutup, serta memakai tabir surya minimal SPF 30 dengan standar proteksi tinggi yang dioleskan ulang secara berkala.

Dengan demikian, klaim sepihak yang mendiskreditkan tabir surya selaku penyebab kanker mutah merupakan hoaks yang mendistorsi fakta asli karena studi rujukan tidak pernah membuktikan hubungan sebab akibat tersebut.

Terkini