Benarkah Sering Pakai Press On Nails Bikin Kuku Rusak Ini Faktanya

Minggu, 05 Juli 2026 | 19:44:02 WIB
Ilustrasi pakai On Nails.

JAKARTA - Tren penggunaan aksesoris kuku tempel modern atau press-on nails kini kembali digandrungi oleh publik luas lantaran visualnya yang kian identik dengan hasil perawatan manicure profesional.

Di samping penggunaannya yang praktis, perona kuku modis ini pun diyakini sanggup melekat awet sepanjang dua hingga tiga minggu, sehingga menjadikannya opsi idaman bagi mereka yang enggan bolak-balik pergi ke salon kecantikan.

Kendati demikian, kekhawatiran mengenai potensi rusaknya kesehatan kuku asli akibat pemakaian press-on nails masih membayangi sebagian besar kalangan pengguna.

Berdasarkan pemaparan para pakar kecantikan kuku, risiko kerusakan tersebut sejatinya bukan dipicu oleh material produknya, melainkan akibat dari kelalaian saat proses memasang serta melepas kuku tempel.

Pernyataan dari penata gaya kuku papan atas seklaigus representatif merek KISS Nails, Julie Kandalec, menegaskan bahwa press-on nails aman dipakai sepanjang proses aplikasi maupun pembersihannya mengacu pada instruksi yang benar.

"Press-on nails sama sekali tidak merusak kuku jika dipasang dan dilepas dengan benar," kata Kandalec, seperti dilansir Byrdie, Sabtu (4/7/2026).

Ia memberikan catatan penting jika keteledoran yang paling marak dijumpai di lapangan adalah kebiasaan mencopot atau mengelupas kuku tempel secara paksa sewaktu perekat masih kuat.

Tindakan ekstrem tersebut berisiko mengikis lapisan keratin alami pada kuku asli, yang lambat laun memicu kondisi kuku menipis, rapuh, serta menjadi sangat rentan patah.

Oleh sebab itu, para konsumen diimbau untuk senantiasa disiplin membaca panduan pelepasan kuku tempel yang selaras dengan karakteristik jenis lem perekat yang diaplikasikan.

Sebagian besar masyarakat berasumsi jika aktivitas merendam jemari ke dalam cairan air hangat yang dicampur sabun bertindak sebagai formula paling aman demi melepaskan press-on nails.

Akan tetapi, Kandalec menyanggah asumsi umum tersebut dan menilai jika langkah tersebut tidak selamanya membuahkan hasil yang tepat.

Menurut opininya, andai zat perekat yang menempel pada kuku memang sejak awal tidak dirancang untuk luruh menggunakan air, maka formula lem tersebut dipastikan bakal tetap mencengkeram kuat permukaan kuku alami.

"Bahan utama pada lem kuku, ethyl cyanoacrylate, masih dapat melekat pada lapisan keratin kuku alami dan ikut menarik lapisan tersebut saat dilepas setelah direndam," jelasnya.

Ia pun menambahkan jika kuku yang dicelupkan ke dalam air memang cenderung mengembang sehingga memicu impresi palsu seolah-olah kuku palsu menjadi lebih mudah untuk dilepas dari tempatnya.

Namun, begitu kondisi jemari sudah kembali kering seutuhnya, permukaan kuku alami justru berpotensi mengalami penyusutan ketebalan serta cacat struktur akibat sebagian partikel lapisannya terkelupas ikut terangkat.

Kandalec memaparkan sisi positif bahwa formulasi lem untuk kebutuhan press-on nails pada era sekarang ini sudah jauh lebih aman serta higienis jika dikomparasikan dengan produk beberapa tahun silam.

Pada masa lampau, tidak sedikit produsen yang mencampurkan bahan methyl cyanoacrylate, yakni sebuah unsur zat perekat keras yang berisiko memicu gejala iritasi akut sekaligus merusak kuku.

Saat ini, mayoritas produsen lem kuku telah beralih memanfaatkan zat ethyl cyanoacrylate yang dirancang secara khusus agar tetap memiliki daya rekat kuat namun lebih bersahabat bagi kuku maupun kulit luar.

"Lem kuku dibuat khusus agar aman dan lama, baik digunakan pada kuku alami maupun kuku tambahan," ungkap Kandalec.

Evolusi perbaikan formula kimia ini menjadikan aktivitas pemakaian press-on nails bertransformasi menjadi jauh lebih aman, dengan catatan produk yang dibeli memiliki jaminan mutu tinggi serta dipakai sesuai anjuran resmi.

Di samping ketelitian dalam memilih kualitas produk, jajaran pengamat kecantikan mewanti-wanti pentingnya menjaga kedisiplinan sewaktu mengeksekusi tahapan penempelan maupun pencopotan kuku palsu.

Tindakan memaksakan dimensi kuku tempel yang tidak presisi, menumpahkan cairan lem secara berlebih, atau mencopot paksa aksesoris sebelum lem melunak dipastikan bakal melipatgandakan potensi kerusakan jaringan kuku.

Melalui penerapan metode pengerjaan yang tepat, press-on nails sangat ideal dijadikan solusi alternatif manicure yang efisien, ramah di kantong, sekaligus menekan risiko buruk bagi kesehatan metabolisme kuku.

Para konsumen juga sangat disarankan untuk memberikan jeda waktu istirahat bagi kuku alami seusai pemakaian dalam rentang waktu yang lama agar kelembapan alaminya tetap terjaga stabil.

Terkini