Manfaat Menikmati Matahari Terbenam Ampuh Halau Pusaran Pikiran Buruk

Minggu, 05 Juli 2026 | 19:45:31 WIB
Ilustrasi Matahari Terbenam.

JAKARTA - Menyaksikan pesona pancaran rona keemasan kala senja tiba kerap kali menyuguhkan rasa tenang mendalam bagi batin setiap orang.

Hal itu terjadi lantaran penatnya beban mental setelah melewati tumpukan aktivitas seharian terasa ikut larut bersama hilangnya mentari.

Faktanya, rumpun pembuktian ilmiah saat ini kian banyak menunjukkan bahwa kebiasaan memandangi panorama fajar tenggelam menyumbang impak positif bagi kinerja otak serta kesehatan psikis.

Rutinitas sederhana ini diklaim andal mereduksi sindrom kecemasan berlebih dan depresi, sekaligus mendongkrak ketajaman memori, daya cipta, mutu tidur, sampai empati sosial.

"Matahari terbenam itu luar biasa indah, dan keindahan cenderung memancing rasa takjub," ungkap peneliti psikologi di University of Toronto, Jennifer Stellar, menyadur BBC, Minggu (5/7/2026).

"Matahari terbenam memiliki jenis keindahan yang sangat membuai, berskala masif, dan tidak biasa, terutama jika kamu memikirkan seperti apa rupa langit pada hari-hari biasa," lanjut dia.

Satu di antara khasiat fundamental dari pemandangan senja berakar dari munculnya rasa takjub dalam sanubari.

Gejolak rasa kagum sewaktu mengamati kemegahan alam yang maha luas dipercaya sanggup menggeser cara pandang hidup seseorang, bahkan sanggup memantik reaksi biologis layaknya bulu kuduk merinding.

"Salah satu efek yang paling konsisten dari rasa takjub adalah perasaan menjadi kecil, bahwa masalah, persoalan, dan kehidupan pribadi seseorang, sebenarnya tidak signifikan dalam skema alam semesta yang lebih besar," jelas profesor psikologi sosial di Arizona State University, Michelle Shiota.

"Ini sangat bagus bagi kesehatan mental karena kami jadi menyadari bahwa mungkin beberapa hal yang membuat kami sangat stres pada akhirnya tidak begitu penting," imbuh dia.

Tatkala benak Anda terseret ke dalam pusaran doktrin pikiran negatif, hadirnya momen yang memukau ini spontan bakal merebut atensi Anda.

Langkah ini efektif memutus belenggu kecemasan kronis sekaligus memulihkan kesadaran penuh untuk fokus pada kondisi masa sekarang.

"Ketika kami meminta orang-orang di Amerika Serikat untuk menceritakan momen saat mereka merasakan ketakjuban yang kuat, kategori jawaban yang paling umum adalah fenomena alam, biasanya semacam pemandangan panorama," tambah Shiota.

Hasil temuan di atas selaras dengan kajian ilmiah edisi tahun 2023 bertajuk "Beyond blue-sky thinking: Diurnal patterns and ephemeral meteorological phenomena impact appraisals of beauty, awe, and value in urban and natural landscapes" yang membedah reaksi ribuan objek uji terhadap lanskap dunia.

Pemandangan eksotis yang memicu rasa kagum bak senja sore hari faktanya turut andil menstimulasi performa sistem saraf dalam mengasimilasi memori.

Pada uji eksperimen bertajuk "Going off script: Effects of awe on memory for script-typical and -irrelevant narrative detail", kelompok penguji yang mengamati video menakjubkan terbukti merekam daya ingat yang jauh lebih presisi.

Paparan rasa kagum yang dinikmati secara periodik juga dinilai mujarab mengikis tensi stres tubuh.

Riset bertajuk "The influences of daily experiences of awe on stress, somatic health, and well-being: a longitudinal study during COVID-19" memaparkan jika rutinitas ini sukses memangkas derajat stres harian secara masif.

"Alam memiliki manfaat kesehatan, dan matahari terbenam, yang merupakan peristiwa alam yang sangat menakjubkan, memiliki manfaatnya tersendiri," terang Stellar.

"Jadi, dugaan saya adalah bahwa matahari terbenam akan sangat bermanfaat dibandingkan dengan peristiwa non-alam," tutur dia.

Kerap merasakan sensasi takjub pun didapati membawa pengaruh langsung bagi kebugaran fisik manusia.

Lewat publikasi ilmiah "Positive affect and markers of inflammation: discrete positive emotions predict lower levels of inflammatory cytokines", Stellar menjumpai jika emosi positif berkelanjutan konsisten memproduksi indikator peradangan atau sitokin di angka terendah.

"Orang yang memiliki kadar kronis lebih tinggi dari zat ini cenderung berisiko lebih tinggi terkena diabetes, penyakit kardiovaskular, dan depresi," ucap Stellar.

"Ini mungkin terjadi melalui rasa keterhubungan yang orang rasakan, karena dukungan sosial bisa membantu mengurangi sitokin pro-inflamasi. Hal ini juga mungkin terjadi berkat kemampuannya mengurangi stres," lanjut dia.

Selain memelihara raga tetap bugar, stimulus merasa kecil di tengah kemegahan jagat raya bakal memicu timbulnya tindakan sosial yang mulia.

Anda kemungkinan besar bertransformasi menjadi sosok yang lebih humanis, ringan tangan, serta mudah menaruh simpati pada lingkungan sekitar.

Pancaran gradasi warna senja yang lembut juga berperan selaku instrumen biologis alami penyeimbang ritme sirkadian tubuh.

Semburat jingga dan emas kala sang surya pamit memicu akselerasi sistem saraf parasimpatis, sehingga zat kortisol merosot tajam dan organ tubuh mulai bersiap menyambut tidur lelap.

Sebaliknya, paparan pancaran sinar lampu buatan pada malam hari justru berisiko merusak transmisi sinyal biologis tersebut.

"Gangguan sirkadian telah dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan," pungkas profesor penelitian cahaya dan kesehatan di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, Mariana Figueiro.

Terkini