Kenali Perbedaan Ciri Jerawat Stres dengan Jerawat Hormonal

Rabu, 08 Juli 2026 | 05:51:31 WIB
Ilustrasi Jerawat.

JAKARTA — Timbulnya jerawat acap kali dikaitkan secara langsung dengan perubahan hormon, khususnya ketika memasuki masa pubertas, mendekati siklus menstruasi, atau sedang dilanda stres. Padahal, hormon bukan satu-satunya faktor pemicu munculnya masalah kulit tersebut.

Memahami penyebab dasar menjadi langkah krusial agar metode penanganan jerawat bisa disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing individu.

"Pada saat stres, hormon stresmu meningkat dan memicu kelenjar minyak untuk memproduksi lebih banyak minyak, yang kemudian memicu munculnya jerawat," jelas dokter kulit Donna Hart, MD, mengutip Byrdie, Selasa (7/7/2026).

Serba-serbi jerawat stres Hormon memang berperan memicu jerawat, namun perbedaan mendasarnya terletak pada durasi kemunculan. Jika wajah rutin berjerawat menjelang masa menstruasi, Anda kemungkinan besar sedang mengalami jerawat hormonal.

"Perubahan hormonal, terutama peningkatan kadar androgen, memiliki efek yang sama pada kelenjar minyak," tutur dr. Hart.

"Cara utama untuk mengetahui perbedaannya adalah dengan melacak pemicu jerawat, misalnya, setelah masa stres versus lebih sering dengan siklus menstruasi bulanan," lanjut dia.

Ahli kecantikan selebritas sekaligus pendiri merek Peach & Lily, Alicia Yoon, menambahkan bahwa jerawat stres secara teknis merupakan bentuk dari jerawat hormonal.

"Stres dapat memicu respons hormonal, yang memicu hal-hal seperti produksi minyak yang lebih tinggi, yang dapat menyebabkan jerawat," ungkap dia.

"Dan frasa 'jerawat hormonal' lebih dipahami secara umum sebagai jerawat yang dipicu oleh fluktuasi hormonal yang disebabkan oleh hal-hal seperti siklus menstruasi, kehamilan, menopause, PCOS, atau pola hormonal spesifik yang dimiliki tubuh," imbuh Yoon.

Lokasi kemunculan jerawat Mengenai lokasi kemunculan, dokter kulit Lian Mack, MD, menyebut bahwa jerawat yang dipicu oleh stres biasanya muncul di area wajah paling berminyak seperti zona-T.

"Stres memicu peningkatan kadar kortisol, yang meningkatkan produksi minyak yang mengakibatkan pori-pori tersumbat dan memperburuk jerawat," kata dr. Mack.

Di sisi lain, dokter kulit Michele Green, MD, menuturkan bahwa jerawat akibat haid lebih sering berada di sekitar area dagu dan rahang.

"Jerawat hormonal biasanya muncul di tempat yang sama berulang kali, dan menjadi sangat kronis karena telah mengumpulkan begitu banyak minyak selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu," terang dr. Green.

Selain itu, jerawat yang muncul akibat stres juga sering kali disertai rasa gatal dan kondisi kulit yang kemerahan.

Memahami pemicu utama Merujuk sebuah riset berjudul "Emerging Issues in Adult Female Acne" dalam The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology (2017), stres terbukti kuat memicu jerawat bagi banyak perempuan dewasa.

Saat tertekan, tubuh otomatis memproduksi kortisol dalam jumlah lebih banyak. Lonjakan tersebut pada akhirnya mendongkrak produksi sebum berlebih yang menyumbat pori-pori kulit.

"Jerawat stres dapat terjadi kapan saja, pada usia berapa saja. Biasanya, pada orang dewasa, itu karena mereka stres di tempat kerja atau di rumah. Pada orang yang lebih muda, itu sebagian besar karena faktor kesibukan studi," lanjut Green.

Pilihan perawatan kulit Terkait penanganan, Green merekomendasikan perawatan topikal seperti asam salisilat yang tersedia di apotek. Namun, perawatan lanjutan wajib disesuaikan kembali dengan jenis keluhan kulit masing-masing.

"Jika kamu memiliki jerawat stres yang paling konsisten dengan komedo, yaitu komedo putih dan komedo hitam, carilah produk yang mendorong pergantian sel dan mengurangi produksi minyak seperti asam salisilat atau turunan vitamin A seperti retinoid atau retinol," papar dr. Mack.

Jika jerawat stres memiliki lesi merah, meradang, dan berada di bawah kulit, pertimbangkan untuk menemui dokter spesialis kulit guna penanganan lebih lanjut.

Apabila Anda tidak memiliki akses ke dokter, gunakan kompres hangat ke area tersebut untuk membantu mengurangi rasa sakit yang timbul.

Kelola pikiran Mengingat tekanan stres adalah akar masalah utama, langkah penyembuhan terbaik adalah dengan mengelola stres, sebab mustahil menghindarinya sama sekali. Pendekatan holistik untuk mengistirahatkan sistem saraf pusat perlu dipertimbangkan.

"Di luar produk, pendekatan terbaik adalah menghilangkan stres. Beberapa penghilang stres yang bermanfaat meliputi meditasi, self-talk yang positif, berjalan-jalan, ngobrol dengan teman yang dipercaya, atau mencari tahu apa akar stres itu," kata Yoon.

Terkini