Emiten SIDO Incar Drugstore Resmi Arab Saudi demi Pacu Pasar Global

Kamis, 09 Juli 2026 | 04:37:01 WIB
Penjual menyeduh jamu produk PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.

JAKARTA - Emiten produsen jamu PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) bergerak agresif memperlebar jangkauan pasar internasional dengan membidik jalur distribusi formal di Arab Saudi.

Perusahaan tidak lagi sekadar bersandar pada skema penjualan lewat toko oriental, melainkan mulai menembus jaringan ritel modern serta drugstore resmi demi memperluas penetrasi pasar.

Direktur Utama SIDO Irwan Hidayat mengutarakan bahwa taktik ekspor saat ini dititikberatkan pada penguatan mutu distribusi di negara tujuan lama sembari membuka peluang di pasar baru.

Menurut pandangan dirinya, salah satu wilayah yang menjadi fokus utama operasional saat ini adalah teritorial Arab Saudi.

Selama rentang waktu ini produk SIDO sejatinya telah beredar di wilayah tersebut, namun mayoritas masih disalurkan melalui gerai non mainstream outlet.

"Kami sekarang lagi mau masuk ke mainstream outlet. Kalau dulu masuknya ke outlet oriental, sekarang kami daftar resmi supaya bisa masuk ke drugstore dan jaringan resmi," ujarnya kepada Bisnis dikutip, Kamis (9/7/2026).

Irwan memaparkan, angka permintaan terhadap produk SIDO di Arab Saudi selama ini ditopang oleh kalangan pekerja migran serta jemaah asal Indonesia yang datang beribadah.

Melalui keberhasilan menembus saluran distribusi resmi, manajemen perusahaan berharap dapat merangkul kelompok konsumen lokal setempat secara lebih masif.

Di samping memperkokoh sektor kemitraan distribusi, SIDO turut memperbanyak portofolio varian produk yang dialokasikan untuk kebutuhan ekspor.

Apabila selama ini aktivitas ekspor didominasi oleh produk herbal unggulan Tolak Angin, kini perseroan mulai menggenjot penjualan food supplement, kopi herbal, hingga obat topikal.

"Produk yang kami agresifkan sekarang itu food supplement, kopi, sampai obat gosok topikal," ujarnya.

Kendati demikian, Irwan membenarkan bahwa Tolak Angin masih memegang status sebagai penyumbang angka terbesar bagi rapor penjualan ekspor SIDO.

Produk herbal cair tersebut tetap menjadi tulang punggung utama bagi jalannya operasional bisnis internasional milik perusahaan.

Namun begitu, porsi kontribusi dari sektor ekspor terhadap total pendapatan bersih SIDO dinilai masih relatif mini karena belum menyentuh angka 10 persen.

Oleh sebab itu, agenda ekspansi distribusi serta diversifikasi varian produk di pasar internasional diharapkan sanggup mengatrol porsi penjualan ekspor dalam beberapa tahun ke depan.

Di tengah ketatnya persaingan industri kesehatan, Irwan juga menegaskan bahwa SIDO sama sekali tidak menempatkan korporasi farmasi sebagai kompetitor langsung.

Menurutnya, industri jamu dan sektor farmasi memiliki peran yang saling melengkapi dalam mengakomodasi segala bentuk kebutuhan pemenuhan kesehatan masyarakat.

"Farmasi itu partner di bidang kesehatan. Jamu ini kan lebih sebagai food supplement. Jadi tidak ada masalah buat saya. Farmasi tetap dibutuhkan masyarakat," katanya.

Bukan hanya gencar melakukan penetrasi pada pasar ekspor yang sudah ada, SIDO juga memilih mempertebal aspek inovasi produk, kegiatan riset, dan perluasan pasar global.

Langkah tersebut menjadi strategi utama manajemen dalam mengawal tren pertumbuhan usaha di tengah situasi dinamika ekonomi yang penuh tantangan hingga pengujung 2026.

Irwan Hidayat menyebutkan, di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih seutuhnya, manajemen lebih mengedepankan efisiensi, daya kreativitas, serta pembuatan produk fungsional.

Ia memastikan bahwa program penguatan riset telah bertransformasi menjadi salah satu skala prioritas paling utama dari manajemen perusahaan.

SIDO saat ini telah mengoperasikan laboratorium farmakologi mandiri guna melangsungkan serangkaian uji ilmiah terhadap ragam bahan herbal sebelum dipasarkan ke publik.

"Kami ingin setiap produk yang kami luncurkan benar-benar memiliki bukti manfaat yang kuat sehingga bisa meningkatkan kepercayaan konsumen," ujarnya.

Membahas urusan ekspansi fisik, SIDO dilaporkan belum mengantongi rencana untuk membangun fasilitas pabrik baru dalam waktu dekat.

Volume kapasitas produksi yang berjalan saat ini dinilai masih sangat memadai dengan tingkat utilisasi yang berada di kisaran angka 60 persen.

Alokasi investasi perusahaan bakal lebih difokuskan untuk memodifikasi lini produksi eksisting serta penciptaan produk baru menggunakan sumber dana internal.

"Mudah-mudahan pada akhir tahun ada sekitar tiga hingga empat produk baru. Salah satunya berada di kategori vitamin dan suplemen kesehatan," kata Irwan.

Merujuk pada publikasi laporan keuangan per 31 Maret 2026, nilai perolehan pendapatan SIDO tercatat berada pada level Rp640,5 miliar.

Raihan tersebut terkoreksi sekitar 19 persen bila disandingkan dengan performa periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp789,1 mIiar.

Penyusutan nilai pendapatan ini diklaim bukan dipicu oleh jatuhnya angka permintaan dari konsumen akhir (end demand) di pasar ritel.

Melainkan, kondisi ini terjadi sebagai imbas langsung dari bergulirnya kebijakan penyesuaian stok (inventory adjustment) pada level jaringan distributor.

Irwan menilai penumpukan persediaan barang yang terlampau tinggi di tingkat distributor berisiko melahirkan inefisiensi serta potensi kerusakan fisik produk.

Penumpukan stok tersebut dipengaruhi pola penjualan berjenjang serta aksi borong komoditas oleh distributor menggunakan harga lama di akhir 2025.

Sementara itu, grafik permintaan pasar pada level pengecer diklaim tetap stabil bahkan memperlihatkan tren peningkatan di area Pulau Jawa dan Sumatra.

Terkini