Kenali Risiko Kesehatan dan Kebersihan Air Saat Minum Kopi di Pesawat

Kamis, 09 Juli 2026 | 05:29:01 WIB
Ilustrasi Penumpang Pesawat.

JAKARTA - Memesan suguhan minuman hangat layaknya kopi ataupun teh menjadi sebuah rutinitas yang sangat lumrah dilakukan oleh banyak penumpang selama berada dalam penerbangan udara.

Akan tetapi, belakangan ini masyarakat justru diimbau untuk semakin meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap konsumsi jenis minuman seduhan tersebut di atas awan.

Pasalnya, pada 2024 lalu, seorang mantan pramugari yang aktif menjadi pembuat konten video, Kat Kamalani, sempat membagikan peringatan keras agar penumpang menjauhi kopi dan teh pesawat.

"Tangki air [di pesawat] tidak pernah dibersihkan dan sangat menjijikkan," katanya, seperti dilansir laman Food dan Wine. Kamalani pun menyarankan memesan minuman dalam kaleng atau botol saja.

Selain persoalan higienitas tangki utama, ia turut membongkar fakta bahwa mesin pembuat kopi di kabin sangat jarang tersentuh proses sterilisasi kecuali jika mengalami kerusakan mekanis.

Melansir rilis data Fresh Cup, sebuah studi dari Center for Food as Medicine and Longevity membedah kualitas pasokan air maskapai berdasarkan catatan otoritas Environmental Protection Agency AS.

Riset berkala tersebut menguji sampel air bersih dari 10 maskapai penerbangan skala besar serta 11 maskapai rute regional yang beroperasi sepanjang rentang kurun tahun 2022 hingga 2025.

Berdasarkan hasil pemeringkatan, Delta Air Lines meraih angka sempurna sebesar 5,00 disusul oleh Frontier Airlines dengan skor 4,80 sebagai maskapai besar dengan kualitas air terbaik.

Sebaliknya, posisi paling buncit ditempati oleh American Airlines yang hanya mampu mengantongi skor kelayakan air bersih sebesar 1,75.

"Hampir semua maskapai penerbangan regional perlu meningkatkan keselamatan air di dalam pesawat, kecuali GoJet Airlines," kata Charles Platkin, direktur lembaga tersebut.

Bertolak dari kesimpulan laporan riset itu, para penumpang sangat dianjurkan untuk memprioritensekan konsumsi air mineral kemasan segel dan menjauhi seduhan kopi dari air tangki.

Di samping itu, pelancong juga diimbau menghindari pemakaian air wastafel toilet pesawat untuk mencuci tangan, dan beralih menggunakan cairan pembersih hand sanitizer berbasis alkohol.

Bukan melulu soal problem kebersihan tangki, dasar ilmiah lain yang mendesak penumpang untuk membatasi konsumsi kopi di dalam pesawat ialah ancaman bahaya dehidrasi.

Kondisi kabin pesawat yang memiliki tekanan udara rendah, bersuhu dingin, serta berkelembapan sangat minim terbukti mempercepat proses penguapan cairan tubuh manusia.

Situasi biologis ini akan terasa semakin parah dan memberatkan fungsi organ tubuh apabila penumpang menjalani rute penerbangan jarak jauh dengan asupan mineral minim.

"Umumnya Anda tidak minum cukup air di pesawat karena Anda minum dari gelas-gelas kecil yang mereka sediakan. Selain itu, kabinnya kering, jadi Anda kehilangan cairan hanya dengan menghirup udara kabin yang kering itu," kata Kyle Staller dari Harvard Medical School, menukil Everyday Health.

Kandungan kafein yang bersemayam di dalam segelas kopi memiliki sifat diuretik, yang secara alami memicu peningkatan volume serta frekuensi pembuangan urine.

Atas dasar itulah, meminum kopi saat tubuh sedang berjuang melawan kekeringan atmosfer kabin dianggap bukan sebuah keputusan bijak bagi kesehatan.

Meskipun zat cair pada kopi sejatinya tetap menyumbang hidrasi, namun menjadikannya sebagai asupan utama saat terbang dinilai bisa memperburuk efek dehidrasi tubuh.

Oleh karena itu, jika Anda tetap ingin mengonsumsi kopi, pilihlah varian kopi siap minum dalam kemasan botol dan selalu imbangi dengan memperbanyak minum air putih.

Terkini