Stres Akibat Hubungan Toksik Bisa Merusak Fungsi Organ Tubuh Anda

Kamis, 09 Juli 2026 | 06:24:31 WIB
Ilustrasi Hubungan Toksik.

JAKARTA - Ikatan emosional yang diwarnai pertikaian serta tekanan mental tidak sekadar merusak psikologis, melainkan juga berisiko mengganggu kondisi jasmani. 

Para pakar menyatakan bahwa tekanan psikologis berkepanjangan akibat relasi yang tidak sehat bisa memaksa tubuh bertahan dalam "mode kelangsungan hidup" (fight or flight), yang akhirnya mengacaukan performa organ vital.

Mengutip pemberitaan The Independent pada Senin (6/7/2026), seorang pakar nutrisi autoimun sekaligus praktisi kedokteran fungsional, Muriel Wallace-Scott, memaparkan bahwa ketegangan kronis dari relasi beracun dapat merusak sistem saraf, imunitas, hingga stabilitas hormon. "Kondisi tubuh saat itu memprioritaskan untuk bertahan hidup, bukan berkembang," ujar Wallace-Scott.

Wallace-Scott menguraikan bahwa ketika seseorang terus-menerus menghadapi pertengkaran atau intimidasi dalam relasinya, sistem biologis tubuh akan terus waspada seolah menghadapi bahaya besar. Dalam keadaan tersebut, metabolisme tubuh memfokuskan energi hanya untuk bertahan, sehingga mengabaikan fungsi krusial lainnya yang diperlukan setiap hari.

"Itu berarti tubuh tidak lagi memprioritaskan hormon, siklus menstruasi yang sehat, fungsi tiroid, atau mencerna makanan dengan baik. Energi justru dialihkan ke otot agar kami siap melarikan diri," katanya. Menurut penjelasannya, reaksi ini sejatinya ialah proteksi alami tubuh saat terancam. Namun jika terjadi terus-menerus, efeknya bakal merusak kesehatan secara global.

Wallace-Scott menambahkan bahwa sistem pertahanan tubuh terhubung sangat erat dengan jaringan saraf. Saat seseorang berada dalam fase siaga tinggi atau hypervigilance secara konstan, kinerja imunitas juga akan mengalami pergeseran. "Ketika berada dalam kondisi seperti itu, sistem imun cenderung bereaksi berlebihan terhadap ancaman yang sebenarnya kecil," jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa situasi ini dapat mengacaukan regulasi inflamasi tubuh, sehingga berisiko memperparah gangguan autoimun, semisal lupus atau penyakit Crohn. Berdasarkan laporan tersebut, terdapat kisah Becca Scott, seorang praktisi kesehatan wanita yang sempat divonis mengidap chronic fatigue syndrome atau sindrom kelelahan kronis usai bertahun-tahun terjebak dalam perkawinan yang penuh tekanan.

Scott menceritakan dirinya sempat merasakan jantung berdegap kencang, letih luar biasa, hingga tidak mampu berdiri lama. Kendati demikian, seluruh keluhan fisik itu perlahan sirna setelah dirinya memutuskan berpisah dari pasangannya. "Saya tiba-tiba mendapatkan kembali tenaga saya. Rasanya seperti lampu yang kembali menyala," ujarnya.

Scott pun mengungkapkan bahwa riwayat penyakit Crohn serta Hashimoto yang dideritanya semenjak belia menjadi jauh lebih parah tatkala ia hidup dalam ikatan pernikahan yang penuh konflik. Wallace-Scott menjabarkan bahwa ketegangan mental yang kronis juga memicu tubuh memproduksi hormon kortisol secara berlebih. Apabila berlangsung jangka panjang, hal ini memicu keletihan ekstrem, brain fog, penurunan daya tahan, hingga hilangnya stamina.

"Kalau tubuh terus menghasilkan kortisol, seseorang bisa merasa sangat lelah, mengalami brain fog, dan menjadi kurang tangguh menghadapi tekanan," katanya. Dampaknya, individu tersebut mungkin akan berhenti berolahraga, lambat sembuh dari sakit, atau kian bergantung pada pasangannya lantaran kondisi fisiknya yang terus merosot.

Melalui laporan itu, Wallace-Scott berpendapat bahwa ikatan asmara yang sehat semestinya menjadi tempat bernaung dan memulihkan diri dari kepenatan aktivitas sehari-hari. "Rumah dan hubungan seharusnya menjadi tempat yang aman untuk memulihkan diri. Ketika seseorang tidak bisa benar-benar beristirahat dan mencerna pengalaman hidupnya dengan tenang, dampaknya bisa sangat besar bagi kesehatan," ujarnya.

Artikel tersebut turut melampirkan data riset yang memperlihatkan bahwa individu dengan tingkat stres berat atau trauma memiliki risiko 36 persen lebih tinggi terserang autoimun, seperti rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis, Hashimoto, dan penyakit Crohn. Ditambah lagi, studi tahun 2010 membuktikan bahwa relasi yang buruk berkorelasi dengan kenaikan risiko kematian sampai 50 persen, sebuah efek yang setara dengan merokok sekitar 15 batang tiap hari.

Walau begitu, Wallace-Scott menggarisbawahi bahwasanya masih diperlukan studi lebih mendalam untuk memahami korelasi pasti antara stres akibat relasi tidak sehat dengan gangguan fisik. Namun, dirinya meyakini bahwa membangun serta menjaga hubungan yang aman sekaligus suportif ialah elemen krusial dalam memelihara kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Terkini