Mengapa Banyak Pasangan Memilih Balikan Setelah Putus Cinta

Jumat, 10 Juli 2026 | 23:24:31 WIB
Ilustrasi Pasangan.

JAKARTA - Tidak semua jalinan asmara benar-benar usai setelah sepasang kekasih mengambil keputusan untuk menyudahi komitmen mereka.

Bagi sebagian orang, momen perpisahan justru dimanfaatkan sebagai waktu jeda sejenak sebelum akhirnya memantapkan hati untuk bersatu kembali.

Fenomena sosial semacam ini ternyata tergolong cukup jamak dijumpai dalam dinamika percintaan masyarakat.

Sejumlah riset ilmiah membuktikan bahwa lebih dari sepertiga pasangan yang sempat terpisah pada akhirnya menjatuhkan pilihan untuk merajut kembali kisah kasih mereka.

Stimulus pemicunya pun sangat variatif, mulai dari masih kuatnya jeratan emosional hingga adanya keyakinan bersama bahwa relasi tersebut masih berpeluang diperbaiki.

Psikolog hubungan sekaligus penulis Dangerous Relationships: How To Identify And Respond To The Seven Warning Signs Of A Troubled Relationship, Noelle Nelson, PhD mengatakan, hubungan yang sempat kandas masih memiliki peluang berhasil apabila kedua belah pihak benar-benar mau berubah.

"Selama tidak ada masalah serius seperti perilaku yang abusif dalam hubungan dan kedua pasangan benar-benar saling peduli, kesempatan kedua dapat berhasil. Komunikasi adalah fondasi dari hubungan yang sehat," ujar Nelson, seperti disadur Best Health, Kamis (9/7/2026).

Berikut ini merupakan beberapa landasan utama mengapa banyak sepasang kekasih memilih untuk kembali menjalin kasih pascabercerai atau putus:

Masih mengantongi benih cinta dan ikatan emosi yang pekat Salah satu faktor pendorong terbesar sepasang kekasih kembali bersatu yaitu karena adanya kedekatan batin yang telah mengakar selama masa pacaran.

Hasil studi yang dipublikasikan dalam Social Psychological and Personality Science memperlihatkan sekitar dua pertiga responden berniat balikan karena merasa memiliki keintiman emosional serta ketergantungan pada mantan.

Jeratan memori tersebut menyulap proses untuk melupakan figur masa lalu menjadi sebuah perkara yang tidak mudah direalisasikan.

Walau ikatan telah putus, jalinan kenangan, kebiasaan intim, hingga rasa aman yang terbangun bertahun-tahun kerap memicu seseorang mencoba kembali.

Menaruh harapan bahwa mantan telah bertransformasi menjadi lebih baik Cukup banyak individu yang memegang teguh keyakinan bahwa bergulirnya waktu sanggup mengubah tabiat dan kepribadian seseorang.

Usai berpisah, masing-masing orang mengantongi momentum emas guna mengevaluasi kekeliruan masa lalu sehingga mencuat asa baru bahwa relasi akan berjalan lebih harmonis.

Ekspektasi positif inilah yang bertindak selaku magnitudo utama sepasang kekasih memantapkan tekad untuk balikan dengan mantan mereka.

Mereka berniat menyuguhkan kesempatan kedua dengan rasa optimis bahwa friksi lama pemicu keretakan tidak akan terulang andai keduanya selaras membenahi diri.

Masih dibayangi kebimbangan atas vonis berpisah Riset juga merekam fakta bahwa banyak pasangan sejatinya tidak benar-benar mantap ketika mengutarakan kata putus untuk menyudahi kedekatan mereka.

Batin mereka masih diliputi keraguan yang masif perihal apakah opsi perpisahan tersebut merupakan sebuah jalan keluar yang terbaik atau justru keliru.

Kondisi psikologis yang ambivalen ini menyulitkan sebagian orang untuk dapat benar-benar melepaskan bayang-bayang sang mantan dari kehidupan mereka.

Bahkan, data memperlihatkan pihak yang menginisiasi runtuhnya hubungan juga dapat didera kebimbangan besar atas opsi tindakan yang telah ia eksekusi.

Dampaknya, tatkala gejolak amarah mulai mereda, muncul hasrat kuat untuk kembali merajut kasih demi menguji apakah relasi tersebut masih bisa diselamatkan.

Muncul rasa ngeri menjalani roda kehidupan tanpa pendamping Di samping faktor masih memendam rasa sayang, sebagian orang memilih balikan lantaran cemas menghadapi ketidakpastian nasib pasca-statusnya berubah sendiri.

Mereka dibayangi ketakutan tidak akan mampu mendapatkan sosok pengganti atau tersiksa oleh sepi kala dipaksa mengarungi rutinitas seorang diri.

Kendati demikian, Nelson memberikan peringatan keras bahwa indikator semacam ini bukanlah sebuah fondasi yang sehat untuk membangun kembali komitmen.

"Jika kamu mempertimbangkan untuk kembali bersama, jujurlah sepenuhnya kepada diri sendiri. Jangan balikan karena kesepian, bosan, atau takut tidak akan menemukan orang lain," kata Nelson.

Meski keputusan untuk merajut kembali jalinan cinta bukan sebuah kekeliruan, relasi tidak akan otomatis membaik andai kedua pihak konsisten mengulang pola toxic yang lama.

Nelson memberikan penilaian bahwa sepasang kekasih wajib mengupas tuntas akar problem yang mendasari perceraian mereka dan sepakat berkomitmen membenahinya.

"Karena hubungan kamu tidak berhasil pada kali pertama, sesuatu harus berubah agar berhasil pada kesempatan kedua. Jika tidak, konflik yang sama akan kembali muncul," imbau dia.

Oleh karena itu, sebelum mengetuk palu untuk kembali bersama, sangat krusial bagi pasangan memastikan opsi tersebut berpijak pada kesiapan tumbuh bersama, bukan sekadar rindu sesaat.

Terkini