Pertamina Kembangkan Proyek PSEL Berkapasitas 30 MW di DIY

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:21:31 WIB
Ilustrasi DIY Pertamina.

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) tengah menggarap proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Kartamantul yang meliputi Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan proyeksi potensi kapasitas daya mencapai 30 megawatt (MW).

“Pertamina diberikan tugas terpilih untuk menangani Yogyakarta, tiga daerah yang kami sebut Kartamantul, yaitu Yogyakarta, Sleman, dan Bantul, dengan volume sampah lebih dari 1.000 ton per hari,” kata Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono dalam acara Waste to Energy Talks: Reducing Waste, Powering the Future di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Berdasarkan data rencana perseroan, proyek PSEL Kartamantul ini dirancang memiliki kapasitas pembangkit berkisar 30 MW dengan memproses sedikitnya 1.000 ton pasokan sampah setiap harinya.

Agung memaparkan bahwa sampah yang terkumpul dari wilayah Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul akan dikonversi menggunakan teknologi insinerator guna memproduksi energi listrik yang kemudian didistribusikan lewat jaringan transmisi PT PLN (Persero).

“Insinerator ini yang sejauh ini paling siap untuk menyerap semaksimal mungkin sampah, kemudian mengolahnya menjadi listrik,” paparnya menambahkan.

Menurutnya, pemilihan teknologi insinerator didasari atas kemampuannya yang dinilai sangat berdaya guna dalam mereduksi timbunan sampah skala besar sekaligus mengontrol kadar emisi gas buang berbahaya, termasuk zat dioksin.

Agung mempertegas bahwa pengawasan serta pengendalian emisi menjadi aspek krusial agar misi penanggulangan sampah ini tidak menimbulkan dampak negatif baru berupa pencemaran udara di sekitar wilayah operasional.

“Teknologi insinerator ini memiliki kapasitas untuk menanganinya, karena dengan teknologi tersebut kami bisa memastikan penanganan masalah sampah tidak berubah dari timbunan sampah menjadi masalah yang ada di udara,” ujarnya menerangkan.

Ia menjabarkan pula bahwa tingkat kualitas pemilahan sampah sejak dari tingkat rumah tangga akan sangat menentukan efisiensi kinerja mesin pengolah dan kelancaran kontrol emisi di fasilitas PSEL tersebut.

Bila aktivitas pemilahan sudah berjalan optimal sejak awal, maka proses pengolahan fisik di pabrik akan menjadi jauh lebih ringan dan meminimalkan kendala teknis operasional.

Dalam pelaksanaannya, Pertamina juga berniat menjalin kolaborasi dengan korporasi internasional untuk mendatangkan teknologi PSEL canggih sekaligus memastikan terjadinya transfer pengetahuan bagi tenaga kerja domestik.

“Kami akan kawal juga transfer teknologinya agar teknologi ini bisa dikuasai oleh tenaga kerja Indonesia,” tuturnya menegaskan.

Agung memaparkan bahwa pengerjaan PSEL merupakan realisasi nyata dari strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy) Pertamina, yaitu menjaga kelangsungan bisnis minyak dan gas konvensional sembari melakukan penetrasi ke lini bisnis hijau yang ramah lingkungan dan rendah karbon.

“Selain dual growth, kami juga menangani dual track issues, yaitu menangani masalah ekologi dengan solusi yang ekonomis, dengan menjadikan sampah ini sesuatu yang ekonomis,” ungkapnya.

Pembangunan PSEL Kartamantul ini juga menjadi simbol kemitraan strategis antar-BUMN, di mana Pertamina bertindak sebagai bagian dari konsorsium pengembang proyek dan PLN berperan selaku penyerap tunggal pasokan listrik yang diproduksi.

Pihak otoritas sebelumnya telah menetapkan tarif pembelian daya dari PSEL senilai 20 sen dolar AS (berkisar Rp3.600) per kilowatt-jam dengan durasi kontrak kerja sama mencapai 30 tahun sesuai ketentuan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

Langkah strategis ini diposisikan oleh Pertamina sebagai bentuk sumbangsih nyata perusahaan dalam menyukseskan program transisi energi nasional serta akselerasi pencapaian target emisi nol bersih di Indonesia.

Terkini