Emiten Konglomerat

Emiten Konglomerat Fokus Kejar Peluang Besar Listrik Bersih Nasional

Emiten Konglomerat Fokus Kejar Peluang Besar Listrik Bersih Nasional
Emiten Konglomerat Fokus Kejar Peluang Besar Listrik Bersih Nasional

JAKARTA - Arah kebijakan pemerintah yang semakin konsisten dalam mempercepat transisi energi kembali membuka ruang bisnis yang luas bagi banyak emiten besar di Tanah Air.

Dorongan untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik berbasis energi bersih kini bukan hanya menjadi fokus pemain lama sektor energi, tetapi juga menarik minat perusahaan yang berada dalam jaringan konglomerasi besar. Emiten-emiten seperti PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), hingga PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR) mulai memanfaatkan peluang ini dengan memperluas portofolio bisnis menuju pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Meski kontribusi pendapatan EBT dari ketiga emiten itu masih relatif kecil bahkan belum sepenuhnya tampak, langkah diversifikasi yang mereka jalankan menunjukan respons positif terhadap arah kebijakan pemerintah. Dukungan regulasi dan target bauran energi bersih mendorong mereka mempercepat transformasi bisnis ke lini pembangkit ramah lingkungan.

Arah Baru DSSA Melalui Pembentukan Ventura Bersama

DSSA yang berafiliasi dengan Grup Sinar Mas menjadi salah satu yang bergerak cepat. Melalui anak usahanya, PT DSSR Daya Mas Sakti (DSSR), perusahaan menjalin kerja sama pembentukan ventura bersama (JV) dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia (FGGI), entitas anak dari Energy Development Corporation (EDC) yang terafiliasi dengan First Gen Corporation asal Filipina. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengembangan panas bumi di Indonesia.

Dalam keterbukaan informasi yang dirilis Agustus 2025, DSSA menyampaikan bahwa JV tersebut akan berfokus pada pengembangan dan pengelolaan sumber daya geothermal dengan potensi gabungan mencapai sekitar 440 megawatt (MW). Potensi ini tersebar di sejumlah wilayah strategis, termasuk Jawa Barat, Flores, Jambi, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah.

"Tujuan kami adalah memperkuat kapasitas nasional dan memanfaatkan potensi energi panas bumi untuk menghadirkan energi bersih. Bersama EDC, kami ingin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan," ujar Wakil Presiden Direktur DSSA.

Pada akhir Oktober 2025, DSSA memberikan detail struktur kerja sama tersebut. DSSR dan FGGI setuju mendirikan dua perusahaan induk, yaitu PT Daya Mas Bumi Sentosa dan PT Daya Mas Eka Sakti, yang akan menaungi sejumlah perusahaan operator dan non-operator untuk proyek geothermal. Total nilai kemitraan ini mencapai Rp977,55 miliar, dengan struktur kepemilikan yang setara antara kedua pihak.

Kendati DSSA sudah memiliki pengalaman di sektor energi, kontribusi EBT terhadap pendapatan perseroan masih sangat kecil. Laporan keuangan semester I/2025 mencatat pendapatan dari segmen EBT baru mencapai US$75.611 atau sekitar 0,005% dari total pendapatan US$1,32 miliar. Namun, langkah agresif perseroan menunjukkan kesiapan meningkatkan porsi tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Manuver ARCI Melalui Usaha Patungan Panas Bumi

Selain DSSA, ARCI yang berada dalam jaringan Grup Rajawali juga mulai memperluas sayap bisnisnya ke sektor listrik bersih. Dalam keterbukaan informasi pada Agustus 2024, perusahaan mengumumkan pembentukan usaha patungan bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG) bersama PT Ormat Geothermal Indonesia, bagian dari Ormat Technologies Inc. asal Amerika Serikat. Dalam JV ini, ARCI memegang 5% sementara Ormat menguasai 95%.

Pada November 2025, ARCI memberikan update mengenai progress proyek tersebut. TTG telah mengantongi izin panas bumi sejak Juni 2025 dan akan melanjutkan proses perizinan lingkungan serta eksplorasi lanjutan. Targetnya, perusahaan akan membangun PLTP dengan kapasitas sekitar 40 MW berlokasi di Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Manajemen ARCI menyatakan, “Perusahaan usaha patungan sebagaimana telah disebutkan di atas akan memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan usaha perseroan dan entitas anak….”

Keberadaan TTG melengkapi lini bisnis ARCI yang sebelumnya telah beroperasi di sektor pertambangan dan pemurnian emas. Hingga kuartal ketiga 2025, pendapatan perseroan masih didominasi oleh segmen pertambangan emas dengan kontribusi US$283,51 juta dari total US$328,70 juta.

Ekspansi FUTR Menuju Holding Energi Terbarukan

Emiten lain yang agresif mempersiapkan transformasi besar adalah FUTR. Pada Oktober 2025, manajemen mengumumkan persiapan melakukan studi kelayakan untuk ekspansi bisnis EBT setelah FUTR diakuisisi oleh PT Aurora Dhana Nusantara. Akuisisi ini menempatkan FUTR sebagai calon holding energi terbarukan yang membawahi HPM dan FEP.

Langkah ekspansi diperkuat dengan penandatanganan MoU pada 21 Oktober 2025 dengan Zhejiang Energy PV-Tech Co., Ltd dan PT Hypec International untuk pengembangan PLTS 130 MW di Bali. Di sisi lain, pengendali baru perseroan telah memiliki aset PLTP Gunung Slamet dengan kapasitas 220 MW, yang sudah memiliki kontrak PPA selama 30 tahun setelah COD.

FUTR juga telah menyusun timeline pengembangan konsesi geothermal tersebut, dimulai pemilihan mitra drilling pada 2025, pengeboran pada 2026 dengan target tambahan kapasitas 20 MW, hingga target COD pada 2027. Total kebutuhan investasi awal mencapai lebih dari US$85 juta.

Direktur Utama Futura Energi Global, Tonny Agus Mulyantono menyebutkan, "Sesuai dengan rencana kerja, perseroan akan mendapatkan pendapatan terbesar dari bisnis energi terbarukan melalui entitas anak usaha."

Dorongan Regulasi Pemerintah

Menurut riset MNC Sekuritas, peningkatan partisipasi Independent Power Producer (IPP) terjadi seiring komitmen pemerintah yang tercermin dalam RUPTL 2025–2034. Target bauran energi baru dan terbarukan sebesar 34,3% pada 2034 serta potensi energi terbarukan sebesar 443 GW dianggap memberikan ruang pertumbuhan yang luar biasa.

Kebijakan seperti Green Taxonomy 2.0 dan dukungan pendanaan melalui skema JETP senilai US$21,4 miliar juga turut memperkuat prospek sektor ini. Riset tersebut bahkan mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor energi bersih, mengingat pipeline proyek yang meningkat dan minat investor yang terus bertambah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index