Summarecon

Summarecon Kantongi Mayoritas Marketing Sales, Optimistis Capai Target 2025

Summarecon Kantongi Mayoritas Marketing Sales, Optimistis Capai Target 2025
Summarecon Kantongi Mayoritas Marketing Sales, Optimistis Capai Target 2025

JAKARTA - Di tengah dinamika pasar properti dan kekhawatiran mengenai perlambatan daya beli, PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) justru menunjukkan performa yang solid sepanjang tahun 2025.

Keberhasilan perusahaan meraih porsi signifikan dari target penjualan memberikan sinyal bahwa permintaan terhadap produk properti di segmen menengah ke atas masih bergerak positif. Optimisme ini menjadi dasar Summarecon untuk melangkah lebih mantap dalam menuntaskan target hingga akhir tahun serta mempersiapkan rencana ekspansi berikutnya untuk 2026.

Hingga Oktober 2025, Summarecon telah mengantongi nilai marketing sales sebesar Rp4 triliun. Angka ini setara dengan 80% dari target akhir tahun yang ditetapkan sebesar Rp5 triliun. Menurut President Director SMRA, Adrianto P. Adhi, pencapaian tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 26% secara year-on-year, menguatkan posisi perusahaan di tengah berbagai sentimen negatif yang menyelimuti sektor properti.

"Walaupun banyak yang sedang prihatin dengan isu daya beli, kami bersyukur karena fokus kami di segmen menengah ke atas memberikan resiliensi. Menjadikan kita bisa mencapai Rp4 triliun hingga Oktober 2025," jelas Adrianto.

Momentum Penjualan dan Arah Perusahaan Menjelang Akhir Tahun

Dengan dua bulan tersisa menuju penutupan tahun, Summarecon menilai peluang untuk mencapai target masih sangat terbuka. Dorongan kebutuhan perumahan dan minat dari konsumen kelas menengah ke atas dinilai menjadi faktor pendukung yang membuat perusahaan tetap optimistis.

"Jadi masih ada November, Desember, kami yakin tercapai," tambah Adrianto.

Kinerja penjualan tersebut tidak hanya mencerminkan strategi pemasaran yang tepat sasaran, tetapi juga menunjukkan bagaimana kepercayaan konsumen terhadap produk Summarecon masih sangat kuat. Dalam berbagai proyek township yang dikelola, perusahaan mampu menjaga nilai jual dan daya tarik di tengah kondisi ekonomi yang berubah-ubah.

Kebijakan PPN DTP dan Dampaknya terhadap Rencana Bisnis

Summarecon memandang tahun 2026 sebagai periode yang prospektif, terutama setelah pemerintah menetapkan perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 2027. Kebijakan ini membawa kepastian lebih panjang bagi industri properti, terlebih sebelumnya insentif tersebut diberikan secara periodik per enam bulan sehingga menyulitkan pengembang dalam menyusun perencanaan jangka panjang.

Dengan durasi yang lebih pasti, perusahaan dapat membangun pipeline proyek yang lebih matang mulai dari tahap perencanaan, peluncuran, hingga penyelesaian konstruksi yang menjadi syarat utama pemanfaatan PPN DTP.

Menurut Adrianto, kebijakan tersebut sangat menguntungkan pembeli. “Konsumen langsung dapat diskon 11%. Tapi dari sisi industri, insentif ini akan membuat pengembang membangun rumah secara masif. Ketika konstruksi berjalan, 180 bisnis turunan ikut bergerak. Jadi kontribusinya besar bagi ekonomi nasional,” paparnya.

Porsi Bisnis dan Fokus Pengembangan Jangka Panjang

Dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, SMRA membagi kontribusi pendapatan berdasarkan dua lini utama. Lini property development masih menjadi motor utama dengan kontribusi sekitar 70%, sedangkan recurring income dari pusat perbelanjaan serta hotel menyumbang kurang lebih 30%. Struktur pendapatan ini memberikan kestabilan bagi perusahaan, terutama saat sektor properti mengalami fluktuasi.

Adrianto menegaskan bahwa pengembangan township tetap menjadi prioritas perusahaan untuk jangka panjang. Summarecon menilai konsistensi dalam membangun kawasan terpadu menjadi identitas perusahaan yang perlu dipertahankan. Karena itu, perseroan belum berencana melakukan ekspansi ke sektor properti lain seperti kawasan industri atau logistik.

Ketahanan Bisnis dalam Menghadapi Krisis

Memasuki usia ke-50 tahun, Summarecon merefleksikan perjalanan panjang yang tak lepas dari berbagai tantangan besar. Sepanjang sejarahnya, dua periode yang dianggap paling berat adalah krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19. Namun, perusahaan mampu bertahan karena prinsip kebersamaan yang selalu dijunjung tinggi oleh manajemen dan karyawan.

“PHK adalah pilihan kesekian ratus. Kalau ada yang harus dikorbankan, dilakukan bersama-sama. Begitu juga ketika kita pulih, kita bangkit bersama,” tekan Adrianto.

Pendekatan ini diyakini turut menjaga stabilitas internal perusahaan di tengah situasi penuh ketidakpastian. Dengan budaya perusahaan yang kuat, Summarecon tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga melangkah maju dan terus beradaptasi dengan perkembangan pasar.

Prospek Bisnis dan Keyakinan Menyongsong Tahun Baru

Keberhasilan meraih 80% target penjualan hingga memasuki akhir tahun menjadi modal penting bagi Summarecon. Dorongan permintaan dari segmen menengah ke atas, disertai dukungan kebijakan pemerintah, menjadi faktor yang memperkuat langkah perusahaan dalam memasuki tahun 2026.

Dengan jajaran proyek yang terus berkembang dan strategi bisnis yang terarah, Summarecon optimistis dapat terus menjaga momentum pertumbuhan. Perusahaan akan fokus pada penyelesaian target jangka pendek sekaligus memastikan kesiapan dalam menghadapi lanskap industri properti yang semakin kompetitif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index