JAKARTA - Upaya pemenuhan kebutuhan pangan bagi warga terdampak banjir di Sumatra Utara mendapat dukungan langsung dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Melalui peran aktif Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah, BGN mengerahkan bantuan makanan bergizi gratis sebagai langkah cepat pemerintah dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi darurat. Pendekatan ini menegaskan bahwa penyediaan gizi bukan hanya menjadi bagian dari layanan reguler, tetapi juga tanggung jawab dalam situasi bencana.
Fokus penyaluran bantuan kali ini dilakukan oleh SPPG Aek Pining di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, bersama SPPG Tapsel Sipirok Kilang Papan. Keduanya bekerja secara terkoordinasi untuk mendistribusikan paket makanan bergizi (MBG) ke posko-posko pengungsian yang terdampak banjir.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, mengatakan bahwa proses pengiriman bantuan tersebut dilakukan pada Rabu, 26 Oktober 2025. “Dua SPPG di Tapanuli Selatan ini mengirimkan sebanyak 1.591 paket MBG kepada korban banjir di tiga lokasi, yaitu Batu Horing, Batu Hua, dan Kecamatan Sipirok,” ujar Hida.
Langkah BGN ini merupakan bagian dari upaya memastikan bahwa kebutuhan asupan gizi bagi para korban tetap terjaga di tengah keterbatasan akses. Pendistribusian MBG tidak hanya sebatas memberikan makanan siap santap, namun juga memperlihatkan kesiapan pemerintah menghadirkan layanan gizi darurat sesuai dengan arahan Presiden.
Hal ini ditegaskan kembali oleh Hida, yang menyebut bahwa pemberian makanan bergizi gratis telah dilakukan berulang kali pada berbagai situasi bencana. “Sebelumnya, BGN melalui SPPG di daerah pernah mengirimkan bantuan MBG di Bekasi dan Bali saat mengalami musibah banjir,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa fungsi SPPG kini tidak hanya menyediakan layanan rutin pemenuhan gizi, namun juga diarahkan menjadi dapur darurat yang dapat bergerak cepat saat bencana terjadi.
“Ini termasuk ke dalam arahan Presiden agar SPPG juga dapat berperan menjadi dapur darurat yang siap menyuplai makanan kepada korban bencana alam,” tutur Hida. Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat penanganan bencana tidak hanya bicara mengenai evakuasi dan logistik, tetapi juga pemulihan kondisi fisik korban, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya.
Di sisi lain, upaya penyaluran bantuan ini tidak terlepas dari berbagai kendala lapangan. Akses di beberapa titik masih terputus, sehingga distribusi bahan baku maupun paket MBG tidak dapat dilakukan secara intensif.
Koordinator Wilayah Tapanuli Selatan, Wan Apriyanti Lubis, menjelaskan bahwa keterbatasan akses membuat pengiriman baru bisa dilakukan sekali pada Rabu, 26 Oktober 2025. “Sejauh ini pengiriman MBG dari kedua SPPG baru dilakukan sekali. Hal ini juga berkaitan dengan sulitnya mendapatkan bahan baku, dikarenakan beberapa akses tertutup akibat banjir yang terjadi,” jelas Wan.
Meski begitu, BGN memastikan bahwa paket yang dikirim tetap memenuhi standar gizi yang diperlukan dalam kondisi darurat. Dari SPPG Aek Pining, bantuan yang dikirim berupa bihun goreng, telur ceplok, kacang goreng, tumis wortel kol, dan buah jeruk.
Sementara itu, SPPG Tapsel Sipirok Kilang Papan mengirimkan MBG dalam bentuk nasi putih, nila fillet krispi, tahu semur, tumis sayur berisi jagung manis, wortel, dan buncis, serta buah anggur. Rangkaian menu tersebut disusun untuk memberikan asupan energi, protein, dan vitamin yang cukup bagi warga terdampak bencana.
Penyaluran paket MBG ini diharapkan tidak hanya mencukupi kebutuhan gizi, tetapi juga memberikan sedikit rasa nyaman bagi warga yang tengah menghadapi masa sulit. BGN menegaskan komitmennya untuk terus mendukung masyarakat dengan menyesuaikan distribusi berdasarkan situasi terkini di lapangan. Selain membantu pemenuhan kebutuhan dasar, hadirnya makanan bergizi yang lengkap juga diharapkan mampu membantu warga bertahan sembari menunggu proses pemulihan wilayah terdampak.
Kondisi banjir di Tapanuli Selatan sendiri menjadi bagian dari rangkaian bencana yang melanda sejumlah daerah di Sumatra Utara. Dengan sejumlah kecamatan terdampak dan jatuhnya korban jiwa, penanganan terus dilakukan secara bertahap oleh berbagai instansi. Kolaborasi lintas sektor ini menandakan bahwa pemenuhan gizi darurat menjadi salah satu aspek penting dalam manajemen bencana, terutama bagi wilayah dengan akses terbatas dan populasi yang besar.
Dengan penyaluran 1.591 paket MBG kali ini, BGN berharap dapat memperluas perannya sebagai institusi yang tidak hanya hadir dalam upaya pencegahan stunting dan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai bagian dari sistem tanggap bencana nasional.
Harapan tersebut tercermin dari komitmen untuk terus mengawal pendistribusian bantuan gizi meski menghadapi tantangan operasional. Pemerintah menegaskan akan terus mempercepat proses bantuan sejalan dengan perkembangan kondisi di lapangan.