JAKARTA - Upaya industri nasional untuk memasuki era produksi rendah emisi kembali mendapat momentum baru seiring langkah PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) menerbitkan Environmental Product Declaration (EPD) bagi produk Aluminium Ingot G1.
Inisiatif ini sekaligus menandai penguatan peran perusahaan dalam menyediakan aluminium ramah lingkungan yang dapat bersaing di kancah global. Melalui penerbitan deklarasi lingkungan resmi yang berlaku hingga 2030 tersebut, INALUM menunjukkan bagaimana transparansi proses produksi menjadi faktor penting dalam membangun industri yang lebih berkelanjutan dan kredibel di mata pasar internasional.
Langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari agenda transformasi besar yang tengah dijalankan perusahaan. Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, menegaskan bahwa penerbitan EPD mencerminkan komitmen kuat perusahaan untuk melahirkan produk aluminium yang tidak hanya mengutamakan kualitas, tetapi juga bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan. Menurutnya, keterbukaan semacam ini merupakan dasar penting untuk menuju operasi rendah emisi sesuai arah kebijakan dekarbonisasi nasional.
“EPD ini menegaskan keseriusan INALUM untuk menghasilkan aluminium yang tidak hanya unggul secara kualitas, tetapi juga diproduksi dengan prinsip keberlanjutan. Transparansi ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan kami menuju operasi rendah emisi yang selaras dengan agenda dekarbonisasi nasional,” ujar Melati.
Penyusunan EPD yang Mengikuti Standar Internasional
EPD yang diterbitkan INALUM menggunakan metodologi berbasis Life Cycle Assessment (LCA). Proses penyusunannya dilakukan oleh PT ITS Tekno Sains dengan memanfaatkan aplikasi SimaPro. Seluruh tahapan mengikuti standar global seperti ISO 14025, ISO 14040, ISO 14044, serta PCR 2022:08 Basic Aluminium Products and Special Alloys (1.0.1) UN CPC 4153.
Demi memastikan keandalan data, hasil asesmen diverifikasi pihak independen. Hal ini membuat dokumen EPD tersebut tidak hanya menjadi syarat administratif, tetapi juga bukti akurat mengenai bagaimana produk Aluminium Ingot G1 diproduksi dan apa saja dampak lingkungannya.
Keunggulan Aluminium Ingot G1 dan Karakter Produksinya
Salah satu aspek yang menonjol dalam EPD tersebut adalah perbandingan antara Aluminium Ingot G1 dan aluminium dari jenis lain. Produk unggulan INALUM ini memiliki tingkat kemurnian mencapai 99,70%, sesuai standar JIS H2102, menjadikannya bahan pilihan bagi berbagai sektor seperti manufaktur, elektronik, konstruksi, dan industri otomotif.
Dari sisi jejak karbon, dokumen tersebut mencatat bahwa produksi 1 kilogram Aluminium Ingot G1 menghasilkan emisi upstream sekitar 7,83 kg CO?-eq dan emisi dari core process sebesar 3,75 kg CO?-eq. Sumber kontribusi terbesar berasal dari ekstraksi alumina beserta bahan baku lain yang digunakan dalam proses produksi.
Melati mengakui bahwa energi non-terbarukan masih menjadi porsi dominan dalam operasional perusahaan. Namun, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Inalum turut membantu menekan jejak emisi pada tahap produksi. Penggunaan air dalam core process juga terukur, yakni sebesar 0,43 m³/kg.
Pengelolaan Limbah yang Mengutamakan Akuntabilitas
Selain mengukur emisi, EPD juga memperlihatkan bagaimana INALUM mengelola limbah secara bertanggung jawab. Perusahaan menerapkan prinsip Polluter Pays untuk menekan dampak limbah B3. Salah satu bentuk implementasinya adalah pemanfaatan black dross sebagai bahan baku dalam industri sekunder.
Selain itu, INALUM menjalin kerja sama dengan pihak ketiga berlisensi untuk mendukung kegiatan daur ulang. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengurangi jejak lingkungan sekaligus mengoptimalkan material sisa yang sebelumnya hanya dianggap limbah.
“Selain menekan jejak lingkungan dari proses produksi, INALUM juga terus menjalankan program konservasi dan rehabilitasi yang berkelanjutan,” ujar Melati.
Komitmen Konservasi dan Restorasi Lingkungan Berkelanjutan
Upaya keberlanjutan yang dilakukan perusahaan tidak hanya terbatas pada proses produksi, tetapi juga mencakup kegiatan konservasi. Sejak 2022 hingga 2024, INALUM telah menanam 114.250 bibit mangrove di area 22,9 hektare di Kabupaten Batu Bara. Program ini bertujuan memperkuat ekosistem pesisir, menjaga garis pantai, serta mendukung keberadaan habitat burung migrasi dan endemik.
Di waktu yang sama, perusahaan turut merehabilitasi kawasan mangrove di Pantai Sejarah sebagai bagian dari program penyelamatan ekosistem pesisir yang terdampak perubahan iklim.
Tak hanya itu, INALUM juga aktif memulihkan kawasan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. Hingga kini, telah dilakukan penanaman 515.000 pohon di area seluas 1.130 hektare. Langkah ini penting untuk melestarikan kondisi ekosistem Danau Toba, yang menjadi sumber air dan kehidupan bagi masyarakat sekitar.
Penguatan Posisi INALUM dalam Ekonomi Hijau Nasional
Melalui penerbitan EPD dan komitmen pengelolaan lingkungan yang terus diperkuat, INALUM menegaskan kembali perannya dalam mendukung agenda hilirisasi mineral dan pembangunan ekonomi hijau di Indonesia. EPD memberikan gambaran menyeluruh terhadap jejak lingkungan Aluminium Ingot G1, dimulai dari fase cradle-to-gate.
"EPD memberikan gambaran komprehensif mengenai jejak lingkungan Aluminium Ingot G1 dengan cakupan cradle-to-gate, sekaligus menguatkan komitmen perusahaan dalam mendukung agenda hilirisasi nasional dan percepatan pembangunan ekonomi hijau Indonesia," tutup Melati.