Danantara

Danantara Disiapkan Jadi Penggerak Investasi 2026, Kepastian Kebijakan Krusial

Danantara Disiapkan Jadi Penggerak Investasi 2026, Kepastian Kebijakan Krusial
Danantara Disiapkan Jadi Penggerak Investasi 2026, Kepastian Kebijakan Krusial

JAKARTA - Memasuki 2026, pemerintah kembali menaruh harapan besar pada peran Danantara sebagai kendaraan investasi negara untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan target realisasi investasi mencapai Rp 2.100 triliun, meningkat 8,74% dibandingkan capaian 2025 sebesar Rp 1.931,2 triliun, Danantara diproyeksikan menjadi salah satu motor utama penggerak investasi domestik.

Namun, besarnya target tersebut tidak datang tanpa tantangan. Di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketidakpastian, efektivitas peran Danantara dinilai sangat bergantung pada kepastian kebijakan dan kecepatan eksekusi proyek di lapangan. Tanpa dua faktor tersebut, ambisi mendorong investasi berpotensi menghadapi hambatan signifikan.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai target investasi 2026 masih realistis untuk dicapai, meski berbagai tantangan, baik dari dalam negeri maupun eksternal, masih membayangi.

Peran Danantara Dorong Penanaman Modal Dalam Negeri

Menurut Josua, pendorong utama investasi pada 2026 diperkirakan berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN). Hal ini sejalan dengan mulai aktifnya Danantara melakukan investasi sejak Oktober tahun lalu. Kehadiran Danantara diyakini mampu memperkuat basis investasi domestik, terutama untuk proyek-proyek strategis jangka panjang yang membutuhkan pendanaan besar dan berkelanjutan.

Aktivitas investasi yang dilakukan Danantara sejak akhir 2025 menjadi sinyal awal bahwa pemerintah serius memanfaatkan instrumen investasi negara untuk mengisi celah pembiayaan pembangunan. Dengan fokus pada proyek-proyek bernilai tambah tinggi, Danantara diharapkan dapat menjadi katalis bagi investor domestik untuk ikut berpartisipasi lebih aktif.

Meski demikian, Josua menekankan bahwa keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan dana, tetapi juga oleh iklim kebijakan yang kondusif dan konsisten.

Kepastian Regulasi dan Eksekusi Jadi Kunci

Lebih lanjut, Josua menilai tantangan terbesar pemerintah bukan semata-mata menarik minat investor, melainkan memastikan kepastian regulasi dan percepatan implementasi kebijakan. Ia menegaskan bahwa ketidakpastian aturan dan lambatnya eksekusi proyek merupakan faktor yang paling dihindari investor, baik domestik maupun asing.

“Pemerintah sendiri menegaskan bahwa investor paling tidak menyukai ketidakpastian. Karena itu, eksekusi kebijakan menjadi kunci,” ujar Josua. pekan lalu.

Menurutnya, tanpa kepastian kebijakan yang jelas dan konsisten, potensi investasi yang besar bisa tertahan atau bahkan beralih ke negara lain. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam memastikan sinkronisasi kebijakan lintas sektor menjadi krusial agar Danantara dapat menjalankan fungsinya secara optimal.

Tekanan Global dan Pentingnya Sinergi PMDN–PMA

Selain tantangan domestik, tekanan juga datang dari sisi global. Arus investasi dunia masih tertahan oleh ketegangan perdagangan, tingginya biaya pinjaman, serta ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini membuat persaingan antarnegara dalam menarik investasi asing menjadi semakin ketat.

Dalam situasi tersebut, Josua menilai penguatan PMDN harus tetap diimbangi dengan strategi menarik penanaman modal asing (PMA). Ia menekankan pentingnya koordinasi yang solid antara Danantara dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi agar strategi investasi nasional berjalan seiring dan saling melengkapi.

Dalam skema yang ideal, Danantara diharapkan berperan sebagai mitra strategis investor, termasuk dalam pendalaman kelayakan proyek dan penyediaan pembiayaan jangka panjang. Sementara itu, Kementerian Investasi tetap memegang peran kunci dalam perizinan dan kepastian regulasi, sehingga menciptakan ekosistem investasi yang lebih terintegrasi.

Komitmen Danantara Tingkatkan Investasi di Berbagai Sektor

Di sisi lain, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani memastikan bahwa aktivitas investasi Danantara telah berjalan efektif sejak Oktober lalu. Ia menyatakan bahwa pada 2026, Danantara akan meningkatkan porsi investasinya di berbagai sektor strategis.

“Kami akan berinvestasi lebih banyak lagi di tahun 2026, baik di bidang kesehatan, hilirisasi, kimia, dan sektor-sektor lainnya,” kata Rosan.

Rosan juga menambahkan bahwa pertumbuhan PMDN tidak hanya bertumpu pada peran Danantara semata, tetapi juga pada perbaikan iklim usaha secara keseluruhan. Kemudahan perizinan, kepastian hukum, serta akses pembiayaan yang lebih luas menjadi faktor penting dalam mendorong investor domestik untuk semakin agresif.

Ia optimistis bahwa meningkatnya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional dan iklim usaha akan mendorong pelaku usaha dalam negeri untuk lebih aktif menangkap peluang investasi. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan eksekusi yang cepat, Danantara diharapkan benar-benar mampu menjalankan perannya sebagai motor baru investasi nasional pada 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index