JAKARTA - Perkembangan pondok pesantren di Indonesia dinilai telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam berbagai aspek.
Pesantren tidak lagi dipandang semata sebagai lembaga pendidikan tradisional, melainkan telah beradaptasi dengan perubahan zaman melalui berbagai inovasi. Meski demikian, tantangan ke depan menuntut pesantren untuk tidak berhenti pada inovasi semata, melainkan melakukan penguatan transformasi agar mampu menjawab dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus bergerak cepat.
Pandangan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar saat menghadiri sekaligus membuka Rapat Kerja Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) Tahun 2026 di Jakarta. Menurutnya, pesantren telah berada di jalur yang tepat, tetapi masih memerlukan dorongan sistematis agar transformasi yang dilakukan dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Pesantren Dinilai Sudah Inovatif, Namun Perlu Akselerasi
Abdul Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin memandang bahwa pondok pesantren di Indonesia sejatinya telah memiliki semangat inovasi. Berbagai pesantren mulai mengembangkan kurikulum, metode pembelajaran, hingga kegiatan pemberdayaan ekonomi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Namun, ia menegaskan bahwa inovasi tersebut perlu diperkuat melalui percepatan implementasi. Tantangan utama yang dihadapi pesantren saat ini bukan terletak pada minimnya ide, melainkan pada kecepatan dalam mengadopsi dan mengeksekusi perubahan.
“Kita bukan tidak inovatif, tetapi perlu penguatan dan percepatan implementasi. Tinggal bagaimana kita menentukan titik awal dan merumuskan formula yang tepat,” ujar dia saat menghadiri sekaligus membuka Rapat Kerja Forum Percepatan Transformasi Pesantren Tahun 2026 di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, tanpa akselerasi yang terarah, inovasi pesantren berisiko berjalan parsial dan tidak memberikan dampak maksimal bagi peningkatan kualitas pendidikan maupun daya saing lulusan pesantren.
Peran Strategis Forum Percepatan Transformasi Pesantren
Dalam upaya mempercepat transformasi pesantren, Cak Imin menilai Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) memiliki peran yang sangat strategis. Forum ini diharapkan mampu menjadi ruang kolaborasi untuk merumuskan pendekatan dan formula yang tepat dalam mendorong perubahan di lingkungan pesantren.
Lebih lanjut dia mengatakan FPTP memiliki peran strategis untuk merumuskan formula yang tepat dalam mendorong akselerasi transformasi pesantren agar berjalan lebih optimal.
Keberadaan FPTP juga dinilai penting karena ditunjang oleh berbagai program yang dirancang untuk membawa pesantren keluar dari keterbatasan menuju kemajuan yang berkelanjutan. Program-program tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan pesantren, baik dari sisi pendidikan, manajemen kelembagaan, hingga penguatan ekonomi pesantren.
Dengan peran tersebut, FPTP tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga motor penggerak transformasi yang dapat diaplikasikan secara nyata di berbagai daerah.
Menjembatani Pesantren dan Pemerintah
Cak Imin juga menekankan pentingnya peran FPTP sebagai jembatan antara pesantren, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar transformasi pesantren dapat berjalan secara menyeluruh dan terkoordinasi.
Oleh sebab itu, dia berharap FPTP dapat berperan sebagai jembatan yang efektif antara pesantren, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah dalam mendorong transformasi pesantren secara menyeluruh.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat proses transformasi, mulai dari perumusan kebijakan hingga implementasi di lapangan. Dengan dukungan pemerintah, pesantren dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap sumber daya, pendampingan, serta kebijakan yang berpihak pada pengembangan pesantren.
“Insyaallah apa yang dilakukan FPTP mampu menggerakkan seluruh subjek untuk terlibat aktif dalam transformasi pesantren,” katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transformasi pesantren bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan.
Dua Agenda Utama Transformasi Pesantren
Dalam arahannya, Cak Imin menekankan dua agenda utama yang harus segera dilakukan pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman. Agenda pertama adalah adaptasi dan adopsi metodologi pendidikan baru. Menurutnya, sistem pendidikan pesantren perlu terus disempurnakan agar relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Agenda kedua adalah kemampuan pesantren dalam mengantisipasi perkembangan sains dan teknologi. Pesantren diharapkan tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi, baik untuk mendukung proses pembelajaran maupun pengelolaan kelembagaan.
“Karakter pendidikan itu dibangun dari sistem. Semakin baik sistemnya, maka semakin baik pula output lulusan pesantren, sehingga memiliki daya saing yang kuat,” katanya menekankan.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penguatan sistem menjadi fondasi penting dalam mencetak lulusan pesantren yang tidak hanya unggul secara moral dan spiritual, tetapi juga kompeten dalam menghadapi persaingan global.
Transformasi sebagai Kunci Daya Saing Pesantren
Transformasi pesantren dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan peran pesantren di tengah perubahan zaman. Dengan sistem pendidikan yang adaptif, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat sekaligus kemampuan intelektual dan keterampilan yang relevan.
Penguatan transformasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pesantren dalam pemberdayaan masyarakat. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan sosial dan ekonomi di lingkungannya.
Melalui percepatan transformasi yang terarah, kolaborasi lintas sektor, serta dukungan kebijakan yang berkelanjutan, pesantren diharapkan mampu terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Dengan demikian, pesantren dapat tetap menjadi pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia di masa depan.