Kemenkes

Kemenkes Bersama IDI Intensifkan Layanan Kesehatan Pascabencana Longsor Taput

Kemenkes Bersama IDI Intensifkan Layanan Kesehatan Pascabencana Longsor Taput
Kemenkes Bersama IDI Intensifkan Layanan Kesehatan Pascabencana Longsor Taput

JAKARTA - Pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan warga tetap terjaga. 

Inilah yang menjadi fokus Kementerian Kesehatan bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Barito Selatan saat turun langsung memperkuat layanan kesehatan bagi penyintas longsor di Desa Sibalanga, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. 

Upaya ini diarahkan untuk mencegah memburuknya penyakit pascabencana sekaligus memulihkan kondisi fisik dan psikologis masyarakat terdampak.

Langkah tersebut dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan menyeluruh dan edukasi hidup bersih dan sehat bagi anak-anak maupun orang dewasa. Posko Gereja HKBP Desa Sibalanga dipilih sebagai pusat layanan karena menjadi lokasi berkumpul warga setelah bencana longsor melanda wilayah itu.

Layanan Medis Difokuskan di Posko Warga

Relawan medis Kementerian Kesehatan bersama IDI membuka layanan pemeriksaan kesehatan langsung di lokasi pengungsian. Pemeriksaan ini menyasar kelompok rentan, mulai dari anak-anak hingga lansia, yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan akibat perubahan lingkungan dan keterbatasan fasilitas pascabencana.

“Kami memberikan layanan pemeriksaan kesehatan di Posko Gereja HKBP Desa Sibalanga kepada anak-anak dan orang dewasa,” kata Relawan Medis Kemenkes dr. Jimmy Taruna Taufiq Fajar di Adian Koting.

Menurutnya, kehadiran tenaga medis di lapangan bertujuan memastikan penyakit yang muncul pascabencana dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius. Pemeriksaan dilakukan secara langsung dengan pendataan kondisi kesehatan warga terdampak.

ISPA Dominasi Keluhan Penyintas Longsor

Dari hasil pemeriksaan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak diderita penyintas longsor. Kondisi lingkungan yang lembap, udara dingin, serta kepadatan di lokasi pengungsian menjadi faktor utama meningkatnya kasus ISPA.

“Ia mencatat ada 53 orang yang mengidap penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) akibat bencana longsor yang terjadi di daerah setempat.”

Rinciannya, terdapat 17 anak dan 36 orang dewasa yang terjangkit ISPA. Selain itu, tim medis juga menemukan kasus influenza pada anak-anak yang memperburuk kondisi kesehatan mereka di tengah keterbatasan fasilitas pascabencana.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena ISPA berpotensi menular dengan cepat di lingkungan pengungsian. Oleh karena itu, tim medis tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga mengedukasi warga agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Diare dan Penyakit Pascabencana Menyerang Anak

Selain gangguan pernapasan, masalah kesehatan lain yang cukup menonjol adalah diare akut pada anak-anak. Keterbatasan akses air bersih dan makanan higienis pascabencana menjadi penyebab utama munculnya penyakit ini.

“Selain itu, 23 orang anak mengidap diare akut yang merupakan dampak penyakit pascabencana karena kesulitan mendapatkan air bersih dan makanan bersih, dan 14 anak terjangkit influenza.”

Tim medis menilai kondisi ini perlu penanganan cepat karena anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dehidrasi dan komplikasi lainnya. Edukasi tentang pentingnya air minum bersih dan kebersihan makanan menjadi bagian dari layanan kesehatan yang diberikan kepada warga.

Penyakit Tidak Menular dan Trauma Psikologis

Tidak hanya penyakit infeksi, tim kesehatan juga menemukan berbagai penyakit tidak menular pada penyintas longsor. Data pemeriksaan mencatat adanya 34 orang dengan hipertensi, 12 pasien asma, 12 pasien diabetes melitus, serta empat pasien yang mengalami infeksi jamur atau dermatomikosis.

“Kami melakukan pelayanan kesehatan, sekaligus penyembuhan trauma kepada korban terdampak,” kata dr. Jimmy.

Pendekatan pelayanan ini dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek fisik dan psikologis. Trauma akibat bencana menjadi perhatian penting, terutama bagi anak-anak yang mengalami tekanan emosional pascalongsor. Oleh karena itu, kegiatan pemulihan trauma turut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan kesehatan masyarakat.

Edukasi Kesehatan dan Pemulihan Anak Sekolah

Selain pelayanan medis, tim Kementerian Kesehatan juga memberikan edukasi kepada warga agar terhindar dari penyakit pascabencana. Edukasi tersebut meliputi anjuran mengonsumsi makanan sehat, minum air bersih, serta menjaga kebersihan lingkungan.

“Daerah ini banyak korban terdampak penyakit dan kami berikan layanan serta edukasi kesehatan sebagai upaya pencegahan,” kata dia.

Upaya pemulihan juga menyasar anak-anak sekolah. Sebelumnya, ratusan pelajar SD Negeri 173149 Kecamatan Adian Koting mengikuti kegiatan pemulihan trauma yang digelar Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan IDI Barito Selatan dan Yayasan Swanayaka Indonesia.

“Hari ini ada 136 pelajar yang mengikuti kegiatan dan semua anak senang dan berbahagia,” kata tenaga pendidik di SD Negeri 173149 Irmalirawati Hutagalung.

Kegiatan ini diharapkan mampu membantu anak-anak kembali ceria dan bersemangat setelah mengalami peristiwa bencana. Dengan penguatan layanan kesehatan, edukasi, dan pemulihan trauma, pemerintah berupaya memastikan para penyintas longsor di Desa Sibalanga dapat bangkit dan menjalani kehidupan secara lebih sehat dan aman pascabencana.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index