Harga Bawang Putih

BPS Catat Harga Bawang Putih Terus Naik, Kini Tembus Rp39.810 per Kg

BPS Catat Harga Bawang Putih Terus Naik, Kini Tembus Rp39.810 per Kg
BPS Catat Harga Bawang Putih Terus Naik, Kini Tembus Rp39.810 per Kg

JAKARTA - Lonjakan harga bahan pangan kembali menjadi perhatian publik pada akhir Januari 2026.

Salah satu komoditas yang mengalami pergerakan signifikan adalah bawang putih. Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa harga bawang putih secara nasional terus mengalami kenaikan dan telah melampaui harga acuan konsumen. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan pada pasokan dan distribusi di berbagai daerah, sekaligus menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Kenaikan harga bawang putih bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan sudah terlihat sejak akhir 2025. Dalam laporan terbarunya, BPS memaparkan bahwa tren tersebut berlanjut hingga memasuki minggu keempat Januari 2026. Situasi ini membuat masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur pengeluaran, sementara pelaku pasar dan pemerintah daerah diharapkan bisa mengambil langkah antisipatif agar gejolak harga tidak semakin meluas.

Tren Kenaikan Harga Bawang Putih Secara Nasional

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa harga bawang putih di tingkat nasional telah mencapai Rp39.810 per kilogram pada minggu keempat Januari 2026. Angka tersebut menunjukkan adanya tren kenaikan yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa rata-rata harga bawang putih sudah berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan sebesar Rp38.000 per kilogram.

“Memang sudah ada secara nasional tren kenaikan harga. Harga bawang putih di bulan Desember adalah Rp39.030 per kilogram. Di bulan Januari sampai minggu keempat, harga rata-rata bawang putih saat ini sudah mencapai Rp39.810 per kilogram,” kata Amalia di Jakarta, Selasa.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kenaikan harga bawang putih bukan hanya fenomena di satu wilayah tertentu, tetapi terjadi secara meluas di berbagai daerah di Indonesia. Dengan harga yang telah melampaui HAP konsumen, kondisi ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, terutama bagi rumah tangga yang mengandalkan komoditas ini sebagai kebutuhan dapur harian.

Wilayah Penyumbang Kenaikan Harga Paling Signifikan

Amalia menjelaskan bahwa tren kenaikan harga bawang putih sebenarnya sudah mulai terasa sejak Desember 2025. Beberapa daerah tercatat mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Wilayah-wilayah tersebut antara lain Kabupaten Natuna, Halmahera Selatan, Flores Timur, Rote Ndao, dan Lombok Tengah.

Menurut data BPS, kenaikan harga bawang putih terjadi di 57,78 persen wilayah di Indonesia, atau setara dengan 208 kabupaten/kota. Bahkan, harga tertinggi tercatat mencapai Rp100 ribu per kilogram. Daerah dengan harga tertinggi tersebut berada di Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Intan Jaya, dan Kabupaten Pegunungan Bintang.

Kondisi ini menunjukkan adanya disparitas harga antarwilayah yang cukup besar. Faktor geografis, distribusi, serta ketersediaan pasokan menjadi beberapa hal yang diduga berperan dalam perbedaan harga tersebut. Bagi daerah-daerah terpencil, distribusi bawang putih yang lebih sulit bisa memicu harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain.

Perbandingan dengan Harga Bawang Merah

Berbeda dengan bawang putih, komoditas bawang merah justru menunjukkan tren penurunan harga secara nasional. BPS mencatat harga rata-rata nasional bawang merah telah berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram. Secara umum, harga bawang merah hingga minggu keempat Januari 2026 turun 5,53 persen dibandingkan Desember 2025.

Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen untuk bawang merah ditetapkan dengan batas atas Rp41.500 per kilogram dan batas bawah Rp36.500 per kilogram. Dengan harga rata-rata nasional saat ini, posisi bawang merah masih berada di atas batas atas HAP, meskipun tren penurunannya terlihat cukup jelas.

Penurunan harga bawang merah ini juga tercermin dari Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang menunjukkan bahwa 62,22 persen wilayah di Indonesia mengalami penurunan harga. Namun, meskipun secara umum menurun, masih terdapat 109 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bawang putih, sehingga dinamika harga antarwilayah tetap perlu menjadi perhatian.

Catatan Perubahan IPH dan Daerah dengan Kenaikan Tertinggi

BPS juga mencatat adanya variasi perubahan IPH di sejumlah daerah. Salah satu wilayah yang mengalami perubahan IPH tertinggi adalah Kabupaten Bener Meriah. Di daerah tersebut, harga bawang merah mengalami kenaikan sebesar 63,7 persen.

“Catatan kami adalah ada beberapa kabupaten/kota yang relatif perubahan IPH-nya paling tinggi adalah harga bawang merah di Kabupaten Bener Meriah, kenaikan harganya 63,7 persen,” jelas Amalia.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun secara nasional harga bawang merah menurun, masih ada wilayah tertentu yang justru mengalami lonjakan signifikan. Hal serupa juga terjadi pada bawang putih, di mana tren nasional menunjukkan kenaikan, tetapi besaran kenaikan di tiap daerah tidak sama.

Implikasi bagi Stabilitas Harga Pangan

Kenaikan harga bawang putih yang melampaui HAP konsumen menjadi indikator penting bagi pengendalian inflasi pangan. Komoditas ini termasuk dalam kelompok bahan pokok yang sering dikonsumsi masyarakat, sehingga pergerakan harganya dapat berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga.

Dengan adanya tren kenaikan sejak Desember 2025 hingga akhir Januari 2026, pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat memperkuat koordinasi dalam menjaga pasokan dan distribusi. Data BPS menjadi rujukan utama untuk memetakan wilayah mana saja yang membutuhkan perhatian lebih agar lonjakan harga tidak semakin melebar.

Secara keseluruhan, catatan BPS menunjukkan bahwa harga bawang putih berada dalam fase naik, sementara bawang merah justru cenderung turun. Dinamika ini mencerminkan bahwa setiap komoditas memiliki karakteristik pasar yang berbeda. Oleh karena itu, kebijakan pengendalian harga perlu disesuaikan dengan kondisi spesifik masing-masing komoditas dan wilayah agar stabilitas harga pangan nasional tetap terjaga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index