IHSG

IHSG Berpeluang Rebound Kamis 5 Maret 2026, Analis Rekomendasikan Saham Pilihan

IHSG Berpeluang Rebound Kamis 5 Maret 2026, Analis Rekomendasikan Saham Pilihan
IHSG Berpeluang Rebound Kamis 5 Maret 2026, Analis Rekomendasikan Saham Pilihan

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan pelaku pasar menjelang perdagangan Kamis, 5 Maret 2026. 

Setelah mengalami tekanan cukup tajam pada sesi sebelumnya, pasar saham domestik dinilai masih memiliki peluang untuk bangkit melalui technical rebound, meskipun sejumlah sentimen negatif global masih membayangi.

Tekanan yang terjadi pada IHSG dalam beberapa hari terakhir tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global. Faktor geopolitik, pergerakan harga komoditas energi, hingga revisi outlook peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional menjadi katalis yang memicu kehati-hatian investor.

Namun demikian, sejumlah analis menilai bahwa pelemahan yang terjadi juga membuka peluang pemulihan jangka pendek. Secara teknikal, posisi IHSG yang mulai memasuki area jenuh jual memberikan indikasi potensi rebound apabila indeks mampu bertahan di level support penting.

Di tengah kondisi pasar yang masih volatil, investor disarankan tetap mencermati berbagai sentimen eksternal dan domestik sekaligus memperhatikan rekomendasi saham yang dinilai memiliki potensi pergerakan menarik dalam jangka pendek.

IHSG Ditutup Melemah Tajam pada Perdagangan Sebelumnya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguat terbatas pada Kamis, 5 Maret 2026. IHSG menutup perdagangan Rabu (4/3) dengan turun 4,57% atau 362,71 poin ke level 7.577,06.

Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menjelaskan IHSG tertekan akibat sentimen negatif dari meningkatnya intensitas perang di Timur Tengah yang membuat investor global cenderung menghindari aset-aset yang berisiko.

“Keputusan Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif turut menambah sentimen negatif, meskipun peringkat Indonesia tetap pada level BBB,” katanya.

Di mana, revisi outlook ini mencerminkan ketidakpastian kebijakan yang semakin meningkat dan kekhawatiran terhadap konsistensi serta kredibilitas kebijakan di tengah pengambilan keputusan yang terpusat.

Tekanan tersebut membuat banyak investor memilih melakukan aksi jual untuk mengurangi risiko di tengah kondisi global yang belum stabil.

Sentimen Global dan Harga Komoditas Pengaruhi Pergerakan Pasar

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menjelaskan pergerakan pasar pada perdagangan Kamis (5/3), masih akan dipengaruhi oleh beberapa sentimen baik dalam maupun luar negeri.

Pertama, tensi geopolitik yang masih belum mereda, terlebih kekhawatiran pada penutupan selat Hormuz yang akan berdampak pada kenaikan harga komoditas energi dan akhirnya mendorong kenaikan inflasi.

Kedua, kenaikan harga komoditas energi. Seperti, crude oil naik 2,8% ke level US$ 76 per barel dan brent naik 3,2% ke level U$ 84 per barel, selain itu harga batubara menguat lebih dari 7% ke level US$ 138 per ton.

“Ketiga, pemangkasan outlook oleh Fitch ke negatif cenderung masih mendorong kekhawatiran pasar,” jelasnya Audi.

Kombinasi faktor tersebut membuat investor global cenderung bersikap defensif. Kondisi ini juga memicu aksi risk-off di berbagai pasar keuangan, termasuk pasar saham Indonesia.

Meski demikian, pergerakan harga komoditas tertentu seperti batu bara dan minyak juga berpotensi memberikan dampak positif bagi sejumlah emiten yang bergerak di sektor energi dan pertambangan.

Peluang Technical Rebound IHSG Masih Terbuka

Secara teknikal, Audi menjelaskan IHSG berpotensi bergerak fluktuatif tinggi dengan potensi terjadi technical rebound terdapat bantalan di fibo retracement 0.5 atau di level 7.577 dengan RSI mulai masuk di area oversold.

“Maka IHSG berpeluang bergerak dalam rentang level support 7.307 dan resistance 7.735,” katanya.

Setali tiga uang, Head Retail Research MNC Sekuritas Herditya memperkirakan IHSG berpeluang mengalami teknikal rebound di tengah sentimen negatif yang ada dengan support di 7.482 dan resistance di 7.704.

Di sisi lain, Alrich bilang terjadi pelebaran histogram negatif MACD dan indikator Stochastic RSI melemah mendekati area oversold. IHSG sempat melemah hingga level 7,486, mendekati level 7,481 yang pernah disentuh pada akhir Januari 2026 lalu.

“Jika IHSG mampu bertahan di atas level sekitar 7.481 maka berpotensi membentuk pola double bottom. Namun jika IHSG berlanjut melemah, diperkirakan akan menguji level support berikutnya di 7.350–7.400,” katanya.

Indikasi teknikal ini menjadi salah satu alasan mengapa sebagian analis masih melihat peluang pemulihan jangka pendek di tengah tekanan yang ada.

Rekomendasi Saham Pilihan dari Para Analis

Untuk perdagangan Kamis (5/3), Herditya menilai investor bisa mencermati saham EMAS di area Rp 8.825–Rp 9.200, saham TINS di kisaran Rp 4.270–Rp 4.720 dan BRIS di rentang Rp 2.220–Rp 2.400.

Saham-saham tersebut dinilai memiliki potensi pergerakan menarik dalam jangka pendek seiring dengan dinamika pasar serta sentimen sektoral yang berkembang.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas juga memberikan beberapa rekomendasi saham yang dapat diperhatikan oleh investor.

Saham pilihan Phintraco Sekuritas jatuh pada CLEO, DAAZ, DATA, BFIN dan ULTJ.

Adapun Kiwoom Sekuritas turut memberikan rekomendasi saham dengan pendekatan speculative buy pada beberapa emiten.

Kiwoom Sekuritas merekomendasikan speculative buy AMDR dengan support Rp 1.895 dan resistance Rp 2.220 serta speculative buy HRTA di support Rp 2.810 dan resistance Rp 3.310.

Dengan berbagai rekomendasi tersebut, investor diharapkan dapat lebih selektif dalam menentukan strategi investasi di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak. Selain mempertimbangkan analisis teknikal, pelaku pasar juga disarankan tetap memperhatikan perkembangan sentimen global maupun domestik yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index