JAKARTA - Saat kondisi badan meriang atau fisik mulai terasa kurang fit, sajian wedang jahe hangat lazim dijadikan pilihan utama di rumah guna memulihkan kesegaran tubuh.
Efek hangat yang disalurkan oleh jahe menjadikan minuman herbal ini kerap diandalkan untuk mengatasi flu, gejala masuk angin, hingga gangguan demam ringan.
Namun, apakah benar rimpang jahe berkhasiat memotong intensitas demam, atau sebetulnya cuma menyalurkan rasa hangat sesaat pada raga?
Rangkaian riset ilmiah mengonfirmasi jahe memang mempunyai kemampuan laten untuk meredakan demam derajat rendah lantaran khasiat antiinflamasi di dalamnya.
Walau begitu, konsumsi herbal ini tetap tidak diposisikan sebagai pengganti obat antipiretik ataupun pemeriksaan dokter, khususnya apabila suhu tinggi bertahan dalam waktu lama.
Dalam publikasi bertajuk Immunomodulatory and Anti-inflammatory Therapeutic Potential of Gingerols, jahe diidentifikasi menyimpan zat aktif seperti gingerol, shogaol, and zingerone.
Tiga kandungan alami tersebut membawa dampak antiinflamasi, antioksidan, sekaligus berperan aktif dalam menyelaraskan sistem imunitas tubuh.
Zat gingerol dilaporkan bekerja meredam jalur peradangan internal and menekan laju produksi prostaglandin, yaitu zat pemicu lonjakan suhu tubuh kala demam.
Apabila tingkat peradangan berhasil ditekan, maka tingkat kehangatan suhu tubuh pun bakal berangsur turun.
Eksperimen dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran memvalidasi temuan yang berwujud selaras.
Melalui pengujian laboratorium tersebut, cairan ekstrak jahe merah terbukti efektif memulihkan suhu badan normal pada objek tikus percobaan yang diinduksi gejala demam.
Tim penguji menguraikan bahwa hasil ini berkaitan erat dengan komponen gingerol yang sanggup menghalangi pembentukan prostaglandin sekaligus menghentikan inflamasi.
Lalu, lewat media apa jahe paling ideal untuk dikonsumsi?
Berdasarkan khazanah studi herbal and metode penyembuhan tradisional, jahe lebih dianjurkan diolah dalam format air rebusan atau seduhan hangat ketimbang dikonsumsi langsung secara mentah.
Sebab saat terkena proses pemanasan, sebagian unsur gingerol pada jahe segar akan bertransformasi menjadi shogaol yang memiliki daya antiinflamasi tidak kalah kuat.
Oleh sebab itu, jahe jamak diolah menjadi racikan wedang jahe, seduhan teh, atau dikombinasikan bersama tetesan madu and perasan jeruk lemon.
Proses pengolahannya pun terbilang sangat praktis, meliputi:
• jahe cukup digeprek atau dipotong tipis-tipis,
• direbus atau diseduh menggunakan air mendidih selama beberapa menit,
• kemudian diminum dalam kondisi masih hangat.
Di samping khasiat dari senyawa aktifnya, asupan cairan hangat juga menjaga tubuh terhindar dari dehidrasi sekaligus memberikan efek relaksasi saat terserang demam atau flu.
Tambahan madu murni juga kerap dimasukkan karena dipercaya andal dalam mengondisikan tenggorokan sekaligus menetralisir rasa getir jahe agar lebih nyaman diteguk.
Kendati kaya manfaat, konsumsi ramuan jahe ini tetap tidak diperbolehkan secara berlebihan.
Kajian ilmiah Ginger on Human Health: A Comprehensive Systematic Review memperingatkan bahwa konsumsi jahe dalam dosis terlampau banyak berisiko memicu iritasi lambung, nyeri ulu hati, mual, hingga diare pada beberapa individu.
Oleh karena itu, jahe lebih pas diposisikan selaku asupan pendukung untuk meredakan keluhan minor, bukan menjadi substitusi dari pengobatan medis utama.
Apabila kondisi demam tinggi tidak kunjung reda dalam jangka panjang atau disertai sesak pada dada, muntah hebat, penurunan kesadaran, maupun indikasi infeksi akut lainnya, tindakan medis tetap wajib dilakukan.