JAKARTA - Saat ini terdapat beragam metode pengasuhan yang dapat diterapkan oleh ayah dan ibu, salah satunya ialah curling parenting.
Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang masih bimbang mengenai esensi dari metode tersebut.
Setiap orang tua pasti mendambakan buah hatinya tumbuh bahagia tanpa harus mencicipi kesukaran hidup.
Akan tetapi, ambisi untuk membentengi buah hati adakalanya memicu ayah dan ibu bertindak terlalu dominan.
Satu di antara model pengasuhan yang merepresentasikan kondisi tersebut yaitu gaya curling parenting.
Label ini diadopsi dari jenis olahraga es bernama curling.
Di dalam permainan itu, sang atlet bakal menyapu area es di depan batu gelinding demi memastikan jalurnya senantiasa licin dan bersih dari rintangan.
Dalam ranah pengasuhan, orang tua mempraktikkan aksi serupa dengan berupaya menyingkirkan tiap hambatan yang berpotensi melanda buah hati.
Melansir dari ulasan Common Chord, psikolog klinis Laura Anderson memaparkan bahwa curling parenting merupakan tipe pengasuhan ketika orang tua berupaya membuang aneka batu sandungan dari rute kehidupan anak.
Maksudnya tentu positif, yaitu supaya buah hati terhindar dari momen kolaps, kepahitan, atau rasa kecewa.
Orang tua yang menganut mazhab ini lazimnya tidak sekadar menyodorkan petunjuk, melainkan ikut mengontrol rute yang wajib dijalani buah hati.
Mereka kerap menyela sebelum sang buah hati sempat berhadapan dengan problem atau merumuskan jalan keluar secara mandiri.
Sepintas lalu, strategi ini memancarkan kesan yang penuh dengan curahan kasih sayang.
Namun jika dipraktikkan secara kontinu, sang anak bisa tumbuh menjadi figur yang amat dependen pada orang tua, baik dalam menentukan pilihan hidup maupun menghadapi kendala.
Ada sederet indikator yang lumrah dijumpai pada model pengasuhan semacam ini.
Anda perlu memahaminya agar dapat melakukan refleksi diri, apakah Anda terhitung sebagai pihak yang menjalankan metode ini atau tidak.
Orang tua bakal secepat kilat memberikan bantuan ketika anak menemui kendala, bahkan sebelum si kecil berupaya menuntaskannya secara mandiri.
Buah hati sangat jarang mengecap konsekuensi nyata dari kekeliruannya karena ayah dan ibu senantiasa pasang badan untuk memecahkan problem mereka.
Orang tua mendominasi regulasi pada berbagai ruang gerak anak, mulai dari penentuan agenda, penyaluran hobi, hingga perumusan resolusi krusial yang sejatinya bisa dipelajari si kecil secara bertahap.
Ayah dan ibu dilingkupi rasa waswas berlebih sekiranya buah hati menjajal aktivitas baru yang berpeluang mendatangkan kegagalan atau rasa tidak nyaman.
Walaupun kerap menuai polemik, model pengasuhan ini sejatinya menyimpan sisi positif tersendiri, di antaranya:
Anak merasa terlindungi dan ditopang. Eksistensi orang tua yang aktif memicu anak merasa mempunyai sandaran kokoh saat didera kendala.
Potensi terjadinya kekeliruan fatal dapat diminimalisasi. Orang tua sanggup memproteksi anak dari penentuan sikap yang benar-benar berisiko tinggi atau merugikan.
Anak mendulang curahan atensi yang melimpah. Orang tua lazimnya menaruh keterlibatan yang amat tinggi pada sektor edukasi dan rutinitas anak.
Akan tetapi, di balik niat tulus tersebut, metode pengasuhan ini juga menyimpan sederet poin kelemahan, seperti:
Kemandirian anak menjadi terhambat. Lantaran telanjur terbiasa disokong, anak berpotensi gagap dalam menetapkan keputusan mandiri kala beranjak dewasa.
Level percaya diri merosot. Anak miskin pengalaman untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia sanggup melewati problematika.
Gagap menghadapi kegagalan. Saat pada akhirnya berbenturan dengan aral melintang yang nyata, anak bisa stres karena tidak familier dengan tantangan.
Sangat dependen pada figur orang tua. Anak boleh jadi selalu menanti petunjuk atau sokongan sewaktu menjumpai kendala yang sejatinya bisa diselesaikan sendiri.
Walaupun ayah dan ibu tetap wajib mengulurkan petunjuk dan mengawal keselamatan buah hati, menyediakan ruang gerak bagi anak untuk belajar merumuskan pilihan, menjajal hal baru, serta memikul risiko yang proporsional dengan usianya adalah hal yang krusial.
Melalui formula tersebut, anak tidak sekadar merasa aman, namun juga berevolusi menjadi sosok yang berdikari, bernyali, serta siap mengarungi dinamika kehidupan.
Demikianlah ulasan mendalam mengenai esensi curling parenting yang dilengkapi dengan indikator, kelebihan, serta titik kelemahannya.
Jadi, apakah Anda termasuk golongan yang mempraktikkan gaya pengasuhan ini pada anak atau tidak?