JAKARTA - Pernah mengalami kesulitan berkonsentrasi, tubuh lebih cepat lelah, atau sering melakukan kesalahan ketika cuaca sedang panas? Kondisi tersebut ternyata memiliki alasan ilmiah.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu udara dapat memengaruhi kerja otak, mulai dari kemampuan berpikir, mengingat, hingga mengambil keputusan. Dampaknya bahkan dapat terlihat dalam aktivitas belajar maupun pekerjaan.
Mengutip Psychology Today, tubuh membutuhkan usaha lebih besar untuk mempertahankan suhu normal ketika terkena panas. Proses tersebut membuat fungsi kognitif seperti perhatian, memori, dan kemampuan menentukan keputusan dapat mengalami penurunan.
Penelitian yang dilakukan Yale School of Public Health menemukan bahwa suhu tinggi memiliki kaitan dengan perubahan kemampuan kognitif seseorang.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti membandingkan hasil tes kognitif selama delapan tahun dengan data suhu pada hari pelaksanaan tes.
Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta mendapatkan nilai matematika lebih rendah ketika mengerjakan tes pada hari dengan suhu lebih panas. Penurunan itu bahkan diperkirakan setara dengan berkurangnya kemampuan belajar hingga seperempat tahun pendidikan.
Hasil tersebut membuktikan bahwa kondisi lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap cara otak bekerja, termasuk pada orang yang secara fisik sehat.
Selain itu, penelitian yang dipimpin Harvard T.H. Chan School of Public Health dan diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine menemukan dampak serupa pada mahasiswa yang tinggal selama gelombang panas.
Mahasiswa yang berada di bangunan tanpa pendingin ruangan memiliki waktu reaksi sekitar 13 persen lebih lambat serta mengalami penurunan kemampuan dalam perhatian, memori kerja, dan kecepatan berpikir dibandingkan mereka yang tinggal di ruangan ber-AC.
Menurut peneliti, paparan panas di dalam ruangan dapat menurunkan kemampuan kognitif, bahkan pada orang dewasa muda yang tidak memiliki gangguan kesehatan.
Ketika suhu lingkungan meningkat, tubuh akan melakukan berbagai cara untuk menjaga suhu inti tetap stabil, seperti mengeluarkan keringat dan meningkatkan aliran darah menuju kulit.
Mekanisme tersebut membutuhkan energi yang cukup besar. Akibatnya, tubuh mengalihkan sebagian sumber daya untuk proses pendinginan sehingga kinerja otak menjadi kurang maksimal.
Panas juga dapat memengaruhi fungsi lobus frontal, bagian otak yang berperan dalam mengatur perhatian, perencanaan, pengendalian diri, serta proses pengambilan keputusan.
Hal ini dapat membuat seseorang lebih mudah kehilangan fokus, cepat terdistraksi, dan mengalami kesulitan mempertahankan konsentrasi.
Selain faktor suhu, kekurangan cairan akibat banyak berkeringat juga dapat memperburuk kondisi tersebut.
Saat tubuh mengalami dehidrasi, aliran darah menuju otak dapat menurun sehingga kemampuan mengolah informasi, mengingat, dan menjaga perhatian ikut terganggu.
Akibatnya, seseorang dapat lebih mudah mengalami kelelahan mental dan membuat kesalahan ketika menjalankan aktivitas.
Walaupun cuaca panas sulit dihindari, beberapa langkah sederhana dapat membantu menjaga fungsi otak tetap optimal.
Pastikan tubuh memperoleh cukup cairan dengan rutin minum air putih, terutama ketika aktivitas menyebabkan banyak kehilangan keringat.
Aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi sebaiknya dilakukan di tempat yang lebih sejuk atau memiliki sirkulasi udara baik.
Beristirahat ketika tubuh mulai merasa terlalu panas juga dapat membantu mengurangi beban tubuh.
Dengan menjaga kondisi tubuh dan memenuhi kebutuhan cairan, kemampuan otak dapat tetap terjaga meskipun harus beraktivitas dalam cuaca panas.