Likuiditas Ketat Bank KBMI 2 dan 3 Genjot Strategi Dana Murah

Likuiditas Ketat Bank KBMI 2 dan 3 Genjot Strategi Dana Murah
Ilustrasi Bank.

JAKARTA - Sejumlah entitas perbankan yang masuk dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 dan 3 mengambil langkah memperkokoh strategi penyerapan dana murah (current account saving account/CASA). Kebijakan ini bergulir di tengah naiknya tensi kompetisi likuiditas pada industri perbankan nasional serta peredaran modal yang berpusat di Himbara.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan mengutarakan, pihak perseroan tetap konsisten menaruh fokus penuh untuk mengungkit perolehan porsi dana murah lewat optimalisasi operating account, pengelolaan layanan payroll, serta pemanfaatan cash management.

“Kami tetap focus di CASA lewat operating acct, payrolls, dan cash management,” kata Lani kepada Bisnis.com, Senin (29/6/2026).

Pada kesempatan terpisah, manajemen PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) menetapkan opsi untuk mendongkrak perolehan dana pihak ketiga (DPK) secara selektif. Caranya adalah dengan menyajikan instrumen suku bunga kompetitif tanpa mengorbankan stabilitas beban biaya dana (cost of fund).

Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli memaparkan, perseroan tengah mematangkan implementasi taktik ecosystem banking. Pola ini mengintegrasikan seluruh fasilitas layanan perbankan langsung ke dalam rutinitas aktivitas harian para nasabah.

“Bank juga secara masif mendorong akuisisi nasabah baru melalui aplikasi mobile banking untuk menekan biaya operasional,” tutur Ganda kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).

Lebih lanjut, Ganda menguraikan bahwasanya Allo Bank turut menyodorkan aneka bentuk stimulus nonbunga, mulai dari pembebasan biaya transfer antarbank, fleksibilitas transaksi digital QRIS, hingga pengadaan program poin reward transaksi demi mengunci loyalitas nasabah.

Dari klaster industri perbankan syariah, manajemen PT Bank Mega Syariah mengidentifikasi bahwa riak pengetatan likuiditas serta memusatnya perputaran dana pada bank-bank Himbara adalah tantangan riil bagi segenap pelaku industri perbankan.

Demi mengawal tren pertumbuhan tabungan murah, Corporate Secretary Bank Mega Syariah Hanie Dewita menjelaskan kalau pihak internal memilih mempertebal penetrasi pada ekosistem yang menjadi pilar bisnis utama, layaknya sektor pendidikan, dunia kesehatan, dan lingkungan pesantren.

“Strategi penghimpunan dana murah Bank Mega Syariah lebih diarahkan pada penguatan ekosistem yang menjadi fokus bisnis perseroan,” ungkap Hanie kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).

Lewat pola penetrasian berbasis ekosistem khusus tersebut, pihak Bank Mega Syariah berniat merajut jalinan relasi bisnis jangka panjang dengan pihak lembaga beserta seluruh stakeholder di dalamnya. Pola ini membuat penyerapan likuiditas disokong penuh oleh aktivitas keuangan yang berkelanjutan.

Di lain pihak, manajemen PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) selaku bagian dari Himbara yang ikut menerima kucuran modal negara mengaku tidak berniat mengubah roadmap taktik penyerapan dana masyarakat walaupun tingkat likuiditas pasar diproyeksikan mengetat.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menerangkan, skema utama perseroan sedari awal memang ditumpukan pada optimalisasi penyerapan dana murah, dengan instrumen tabungan haji selaku penggerak utama.

“Kami memang dari dulu strateginya dana murah, dari tabungan haji itu memang kami perkuat. Jadi apakah dengan SAL ini ada perubahan strategi? Enggak ada,” kata Anggoro kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).

Menurut Anggoro, pihak BSI malah akan terus memacu akselerasi digitalisasi ekosistem layanan, termasuk dengan mempermudah alur pendaftaran haji secara daring agar aktivitas pemupukan dana masyarakat dapat berjalan secara kontinu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index