Fase Individuasi Alasan Anak Remaja Mulai Tolak Sentuhan Fisik

Fase Individuasi Alasan Anak Remaja Mulai Tolak Sentuhan Fisik
Ilustrasi menasihati remaja laki-laki.

JAKARTA - Memasuki fase usia belasan tahun, transformasi pada perangai anak umumnya memicu rasa bingung di benak orang tua.

Anak yang sewaktu kecil selalu melekat dan bergantung pada bantuan, sekarang mulai menuntut ruang personal bahkan menepis kontak fisik di ranah publik.

Peralihan drastis tersebut sejatinya bukan indikator bahwa anak mulai membangkang atau menjauhkan diri dari kehangatan keluarga.

Mereka sebenarnya tengah menapaki masa transisi psikologis krusial untuk menemukan sekaligus mendirikan jati diri yang berdaulat.

Psikolog keluarga Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog mengatakan, orangtua tidak perlu khawatir. Mereka hanya perlu memercayai, serta memvalidasi apa yang anak pikirkan dan rasakan.

"Mereka butuh rasa bahwa, 'Aku diberi ruang, diberi kepercayaan untuk melakukan sendiri dan jangan ganggu ruang personalku'," ujar dia dalam acara "Media Talkshow: Panduan Tenang Keluarga Bersama GrabKeluarga" di Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

Resistensi serupa turut dirasakan oleh figur publik Tora Sudiro kala membersamai pertumbuhan putri bungsunya yang sekarang menginjak umur 14 tahun.

Ia mengaku terkejut saat curahan kasih sayang fisik yang biasa ditunjukkan secara refleks mendadak menuai penolakan dari sang buah hati.

"Padahal kan namanya anak bungsu, pasti kecil terus di mata bapaknya ya? Dicium-cium udah enggak mau, digandeng udah enggak mau," tutur Tora.

Berdasarkan tinjauan Pritta, dinamika yang dilewati Tora merupakan cerminan konkret dari masa individuasi yang lumrah melanda usia remaja.

Dalam tahapan psikologis ini, tingkat harga diri seorang anak sangat dipengaruhi oleh derajat penerimaan dari lingkaran pertemanan sebayanya.

Mereka mulai membatasi intervensi kaum dewasa dalam agenda harian demi meraih pengakuan eksternal dari kelompok sosialnya.

Anak usia belasan menuntut ruang rahasia yang tegas agar dipandang cakap sekaligus mandiri di tengah ekosistem pergaulannya.

Mereka mulai menguji batas independensi diri, berkisar pada agenda harian, metode bepergian, hingga preferensi busana yang dikenakan.

Faktor inilah yang memicu mereka merasa tidak nyaman bila dipantau terlalu ketat di ruang publik, termasuk ekspresi kedekatan fisik.

"Apalagi kalau ada acara-acara sama teman-temannya, 'Udahlah di sini aja (diantarnya), enggak usah sampai dekat-dekat tempat acaranya, biar aku kelihatan datang sendiri'," ucap Pritta.

Keinginan untuk terlihat berdikari ini berjalan beriringan dengan padatnya rutinitas harian anak di luar lingkungan rumah.

Tora memaparkan bagaimana putrinya dihadapkan pada rentetan jadwal bermobilitas tinggi, mulai dari bimbingan belajar, olahraga, hingga sekadar bersosialisasi.

"Anak sekarang tuh banyak banget kegiatannya. Entar ada les, main, padel," jelas Tora.

Pritta menyarankan pemberian ruang bagi anak, namun bukan berarti wali murid melepaskan pengawasan sepenuhnya secara abai.

Mendelegasikan kepercayaan pada anak untuk mengelola urusannya justru menjadi sarana bagi mereka melatih tata kelola diri.

Bila kebebasan ini dihambat secara agresif, anak rentan terjebak dalam krisis identitas yang memicu ketidakmampuan menentukan keputusan hidup.

Di sisi lain, keberanian anak dalam mengutarakan argumen atau menyanggah pendapat juga sering kali disalahpahami orang tua.

Pritta menegaskan, anak remaja yang berani berdiskusi demi mempertahankan logikanya justru memiliki ketahanan mental yang jauh lebih kokoh.

Sikap tunduk buta yang ditandai dengan kepasrahan penuh pada keputusan orang tua justru menjadi alarm mandeknya kematangan psikososial.

"Jadi, lebih baik anak remaja tuh ngeyelan daripada, 'Enggak tahulah, terserah'," kata Pritta.

Dorongan membuktikan kedewasaan ini juga termanifestasi melalui fenomena pencarian sensasi atau excitement seeking yang natural.

Remaja secara alamiah termotivasi memupuk rasa percaya diri lewat keberhasilan menaklukkan tantangan baru dan mengambil risiko.

"Suka sesuatu sensasi yang intens. Termasuk deg-degan naksir-naksiran," ujar Pritta.

Contoh konkretnya adalah pengalaman bepergian menuju suatu lokasi secara mandiri memakai layanan transportasi daring.

Bagi orang dewasa, berpindah tempat tanpa dikawal mungkin sekadar rutinitas, namun bagi remaja hal itu memicu euforia luar biasa.

Keberhasilan menguasai kemandirian dari hal sederhana ini akan menumbuhkan rasa kemenangan kecil yang bermakna di dalam batin mereka.

Sentimen positif tersebut kelak meluas ke aspek hidup lain dan bertindak sebagai perisai mental saat menghadapi rintangan.

"Rasa percaya diri yang terbangun di diri anak ini bisa dia pakai sebagai bahan bakar untuk mengoptimalkan bakatnya," pungkas Pritta.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index