Ternyata Jalan Kaki Pelan Lebih Efektif Turunkan Berat Badan Anda

Ternyata Jalan Kaki Pelan Lebih Efektif Turunkan Berat Badan Anda
Ilustrasi Jalan Kaki.

JAKARTA - Aktivitas berjalan kaki kerap kali dinilai kurang berdaya guna jika dikomparasikan dengan rumpun olahraga berintensitas tinggi untuk menyusutkan bobot tubuh.

Kendati demikian, riset medis terbaru mengindikasikan bahwa pada kelompok masyarakat tertentu, melangkah dengan ritme lebih lambat justru andal menstimulasi pembakaran zat lemak lebih optimal asalkan dieksekusi secara periodik.

Menyadur rilis dari Women's Health (23/6/2026), kesimpulan unik ini diperoleh berdasarkan riset ilmiah yang dipublikasikan ke dalam jurnal Nutrients.

Studi bersangkutan mendapati fakta bahwa kaum perempuan pascamenopause yang berjalan kaki dengan ritme pelan selama hitungan bulan mendulang reduksi lemak tubuh lebih masif dibanding kelompok yang melangkah secara kilat.

Uji klinis yang termuat dalam jurnal Nutrients tersebut melibatkan sebanyak 25 orang wanita pascamenopause yang diwajibkan mengadopsi program olahraga berjalan kaki sepanjang 15 pekan.

Beberapa orang di antara kelompok partisipan kemudian bersedia memperpanjang masa program hingga menyentuh total durasi 30 pekan.

Seluruh objek riset diminta untuk berjalan kaki sejauh kisaran tiga mil atau setara hampir lima kilometer dalam frekuensi empat hari setiap minggunya.

Kelompok pertama diinstruksikan berjalan menggunakan ritme kecepatan sekitar 4,1 mil per jam dengan menghabiskan durasi kurang lebih 45 menit per hari.

Sementara itu, klaster kelompok yang lainnya diminta berjalan dengan ritme yang jauh lebih lambat, yakni di kisaran kecepatan 3,2 mil per jam dengan menghabiskan alokasi waktu sekitar 54 menit.

Outputnya, dari total 16 sukarelawan yang sukses menuntaskan seluruh rangkaian program selama 30 pekan, wanita yang berjalan lebih pelan terbukti kehilangan kadar lemak tubuh 2,73 kali lipat lebih banyak daripada kelompok berjalan cepat.

Tim peneliti juga mengidentifikasi bahwa kelompok dengan kecepatan melangkah tinggi baru memperlihatkan adanya indikasi penyusutan lemak setelah mereka merampungkan program penuh selama 30 pekan.

Sebaliknya, kelompok dengan ritme berjalan lambat justru mendulang penurunan kadar lemak secara konsisten semenjak fase awal riset digulirkan.

Jajaran tim ahli mengakui jika indikator pemicu pastinya secara biologis masih membutuhkan investigasi laboratorium yang lebih mendalam.

Akan tetapi, mereka meyakini jika level kecepatan saat berjalan kaki memegang andil besar dalam mengondisikan jenis pasokan energi yang bakal dikuras oleh metabolisme tubuh.

Aktivitas berjalan kaki dengan ritme cepat cenderung memicu paru-paru seseorang menjadi lebih terengah-engah, sehingga memaksa sistem tubuh menguras simpanan glukosa atau kadar gula darah selaku bahan bakar utama.

Sebaliknya, sewaktu mengeksekusi jalan kaki dalam tensi yang lebih rendah, tubuh diindikasikan bakal lebih dominan memanfaatkan tabungan lemak sebagai sumber daya energinya.

Kendati membuahkan hasil positif, tim peneliti memberikan rambu-rambu bahwa korelasi medis tersebut masih membutuhkan riset lanjutan guna memvalidasi sistem mekanismenya secara absolut.

Studi ilmiah ini juga diakui masih menyimpan sejumlah keterbatasan teknis, salah satunya yakni kuantitas peserta yang tergolong minim sehingga output datanya belum bisa digeneralisasikan bagi seluruh khalayak umum.

Di samping itu, tim ahli memberikan penekanan bahwa berjalan kaki secara cepat pun faktanya tetap menyimpan khasiat yang baik bagi kebugaran tubuh.

Kumpulan data dari riset medis lain memperlihatkan jika berjalan kaki dalam jarak tempuh lebih jauh dengan tempo yang santai berfaedah mendongkrak ketahanan fisik makro.

Pada sudut pandang kontras, berjalan dengan tempo kilat efektif melatih performa kesehatan organ jantung, sehingga preferensi kecepatan berjalan sebaiknya disesuaikan pada target olahraga personal.

Bagi kalangan publik yang berencana mengadopsi olahraga berjalan kaki selaku instrumen pendukung program penurunan berat badan, faktor kedisiplinan dinilai jauh lebih krusial ketimbang sekadar mengejar aspek kecepatan.

Satu di antara kontributor ilmiah yang dikutip dari Women's Health, Albert Matheny, seorang pakar nutrisi sekaligus salah satu pendiri dari SoHo Strength Lab, memberikan anjuran agar aktivitas berjalan kaki ditransformasikan sebagai pola kebiasaan harian.

Menurut pandangannya, masyarakat dapat menyisipkan agenda berjalan kaki sebelum momen berangkat mencari nafkah atau memaksimalkannya di kala jeda istirahat siang.

"Lakukan saja semampu Anda, kapan pun Anda bisa," kata Matheny.

Pesan edukatif tersebut selaras dengan output riset di jurnal Nutrients yang memaparkan bahwa rutinitas berjalan kaki secara teratur selama berminggu-minggu mempunyai hubungan erat terhadap penurunan lemak tubuh.

Dengan kata lain, memelihara aspek konsistensi disinyalir kuat menjadi kunci mutlak agar khasiat dari jalan kaki dapat dipetik dalam jangka panjang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index