JAKARTA — Rasa nyeri pada bagian dada, keluhan sesak napas, hingga gangguan batuk secara terus-menerus dapat mengindikasikan adanya gejala penyakit kanker paru-paru. Meski demikian, indikasi gangguan kesehatan serupa acapkali menjadi sinyal atas munculnya problem medis lain, contohnya kelainan jantung.
Lantas, bagaimana kami bisa tahu kapan waktu yang tepat untuk memeriksakan diri ke dokter?
Dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular, Ara Vaporciyan, menyampaikan bahwa sebagian gejala dari kanker paru-paru menuntut penanganan medis yang cepat.
"Yang lain hanya perlu diperiksa dalam 2-3 minggu. Gejala yang terus menerus dan memburuk daripada gejala yang hanya terjadi dalam waktu singkat kemudian hilang dengan sendirinya," ujar Vaporciyan, menukil laman UT MD Anderson.
Sedikitnya, teridentifikasi ada lima bentuk gejala awal dari kanker paru-paru yang sempat dirasakan oleh beberapa pasien, sebagaimana dirangkum dalam ulasan berikut.
Keluhan rasa nyeri hebat ataupun sensasi seperti tertekan di area rongga dada dapat menjadi salah satu indikator awal serangan tumor ganas di paru-paru. Hal itu dirasakan nyata oleh Deborah Schroeder (55) ketika dirinya pertama kali divonis menderita kanker paru-paru stadium 1.
"Saya mulai merasakan nyeri dada yang aneh," ujar Schroeder.
Keegan Murphy (41), seorang personel pemadam kebakaran, terpaksa mengambil keputusan pensiun dini setelah dirinya terdiagnosa mengidap penyakit kanker paru-paru. Tanda klinis perdana yang dirasakannya adalah serangan batuk kering berkepanjangan pasca-sembuh dari penyakit flu.
"Istri saya berulang kali meminta saya untuk memeriksakannya. Ketika akhirnya saya memeriksakannya, dokter mengira itu pneumonia dan meresepkan steroid dan antibiotik," ujar dia.
Pasien lainnya, Leah Phillips (43), mengeluhkan kondisi batuk yang tidak kunjung reda selama kurun waktu beberapa bulan. Di samping itu, bobot tubuhnya merosot drastis tanpa pemicu yang jelas disertai gejala batuk darah, sebelum akhirnya didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium IV.
"Saya berpikir, bagaimana mungkin saya menderita kanker paru-paru? Saya tidak pernah tinggal di rumah dengan perokok, dan saya sendiri tidak pernah merokok," ujarnya.
Ashley Stringer baru menginjak usia 34 tahun ketika dirinya dinyatakan positif mengidap kanker paru-paru stadium 1.
Fisiknya mulai mudah terserang sesak napas yang tidak biasa, terutama ketika sedang melakukan aktivitas olahraga lari di atas mesin treadmill. Awalnya, dirinya menduga keluhan tersebut merupakan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), tetapi hasil pemeriksaan klinis menunjukkan hasil yang berbeda.
Merujuk pada paparan di atas, sejumlah sinyal bahaya dari kanker paru-paru memang memerlukan tindakan evaluasi tim medis secepat mungkin.
Vaporciyan menguraikan, salah satu indikasi yang wajib diwaspadai adalah munculnya sesak napas secara mendadak atau kondisinya yang kian memburuk dari hari ke hari.
"Hal itu [sesak napas tiba-tiba] bisa disebabkan oleh banyak hal selain kanker, termasuk masalah jantung. Begitu pula dengan nyeri dada. Anda tidak boleh menunda pemeriksaan tersebut," ujar dia.
Selain hal itu, terdapat rangkaian tanda klinis lain yang berpotensi menjadi indikasi kuat dari keberadaan kanker paru-paru, meliputi:
batuk berdarah atau mengeluarkan dahak berwarna;
perubahan pada batuk yang muncul tanpa gejala infeksi lain;
nyeri dada yang menerus atau memburuk saat tertawa, batuk, dan berolahraga;
penurunan berat badan (pada stadium lanjut);
pembengkakan leher atau wajah (pada stadium lanjut).
"Banyak perokok mengalami batuk kronis. Tapi, jika Anda mengalami batuk tiba-tiba dan yang memburuk atau tidak membaik dengan [konsumsi] antibiotik dalam beberapa minggu, saya akan meminta pemeriksaan lebih lanjut," ujar Vaporciyan.
Ketentuan penanganan medis tersebut ditegaskan juga berlaku penuh bagi kalangan orang yang bukan perokok aktif. Sebab, menurut ulasannya, kasus kanker paru-paru kini kian marak ditemukan pada individu yang tidak memiliki riwayat merokok.
"Dan, setiap kali Anda batuk berdarah, itu perlu segera diperiksa," ujar dia.