JAKARTA - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto Christoveny menyampaikan bahwa lonjakan harga bawang merah pada Juni 2026 berhasil diredam oleh turunnya harga daging ayam ras, cabai merah, serta cabai rawit, sehingga tekanan inflasi di Purwokerto, Jateng, tetap terkendali.
"Inflasi Purwokerto pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,12 persen secara bulanan (month to month/mtm)," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa berkurangnya hasil produksi di beberapa wilayah sentra menjadi penyebab utama kenaikan harga bawang merah.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa secara umum inflasi bulanan lebih dipengaruhi oleh adanya penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang ikut memicu kenaikan biaya transportasi serta distribusi barang.
"Kendati demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit seiring terjaganya pasokan dan upaya stabilisasi harga pangan,” katanya menegaskan.
Menurut dia, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus konsisten menjaga stabilitas harga melalui langkah penguatan pasokan serta kelancaran distribusi pangan di tengah pergerakan ekonomi daerah.
Tidak hanya itu, BI juga memfasilitasi Kerja Kerja Sama Antardaerah (KAD) Business-to-Business (B2B) untuk komoditas pangan di area Banyumas Raya yang mencakup Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara demi memperkuat jalur distribusi antarwilayah.
Di sisi lain, harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional Purwokerto pada hari Jumat terpantau mulai bergerak turun.
Seorang pedagang sayur di Pasar Manis Purwokerto, Anjar mengungkapkan bahwa harga bawang merah saat ini menyusut ke angka Rp55.000 per kilogram setelah sempat menembus Rp60.000 per kilogram pada pekan lalu.
"Biasanya kami menjual bawang merah di kisaran Rp40.000 per kilogram, namun karena kemarin petani di Brebes gagal panen dan permintaan dari Jakarta sangat tinggi, harga bawang merah di sini melonjak," katanya.
Selain komoditas bawang, harga cabai rawit merah merosot dari kisaran Rp60.000 per kilogram menjadi Rp45.000 per kilogram atau berada di dalam koridor harga acuan Rp40.000-Rp57.000 per kilogram, sedangkan cabai merah dijual Rp50.000 per kilogram atau masih dalam rentang acuan Rp37.000-Rp55.000 per kilogram.
Sementara itu, harga telur ayam ras ikut turun ke kisaran Rp24.000-Rp25.000 per kilogram atau di bawah harga acuan Rp26.500 per kilogram, lalu daging ayam ras turun ke angka Rp32.000-Rp35.000 per kilogram atau lebih rendah dari harga acuan sebesar Rp40.000 per kilogram.
Secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas Gatot Eko Purwadi menyebutkan bahwa penurunan harga telur ayam ras tersebut dipicu oleh terjadinya surplus produksi.
Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Banyumas segera berkoordinasi dengan pihak asosiasi peternak, pelaku usaha, serta pemerintah kabupaten sekitar guna memperluas jaringan pasar bagi telur produksi lokal Banyumas.
"Kalau memang ada daerah yang kekurangan pasokan telur, nanti kami bantu komunikasikan agar distribusinya bisa berjalan. Yang penting suplai dan permintaan menjadi lebih seimbang," katanya.
Ia mengutarakan bahwa salah satu strategi yang akan dioptimalkan adalah perdagangan antardaerah lewat skema kerja sama antardaerah (KAD) supaya surplus produksi telur di Banyumas dapat dialirkan ke wilayah yang masih kekurangan stok agar keseimbangan antara suplai dan permintaan tetap terjaga dengan baik.