JAKARTA - Kedekatan jalinan emosi yang hangat antara pihak orangtua dengan anak laki-laki sejatinya tidak dapat terwujud secara instan. Metode pengasuhan sejak usia dini memegang andil yang sangat krusial dalam membentuk kapabilitas sang buah hati untuk mengontrol emosi, bersosialisasi, hingga bertransformasi menjadi individu yang bertanggung jawab kelak.
Seorang pakar psikoterapi sekaligus pelatih parenting, Nicole Runyon, bersama terapis keluarga berlisensi, Dr. Anna Elton, memaparkan beberapa kekeliruan yang patut dihindari orangtua saat membesarkan anak laki-laki.
Mempermalukan anak saat menunjukkan emosi Kekeliruan yang paling kerap dijumpai di masyarakat adalah adanya stigma bahwa anak laki-laki tabu untuk menangis atau memperlihatkan rasa sedih. Penggunaan doktrin kalimat patriarki berisiko membuat mereka terbiasa mengubur perasaan internalnya dalam-dalam.
"Ketika anak laki-laki dipermalukan karena menunjukkan kerentanan, mereka akan belajar menyembunyikannya,” jelas Dr. Elton, seperti dilansir Your Tango, Selasa (7/7/2026).
Menurut pandangannya, kecakapan dalam mendeteksi sekaligus mengekspresikan dinamika perasaan merupakan suatu kompetensi dasar yang wajib dilatih sejak usia belia. Hal tersebut penting dilakukan agar sang buah hati tidak meluapkan emosinya melalui tindakan destruktif berupa kemarahan besar ataupun perilaku yang agresif.
Membiarkan media sosial menjadi guru utama Pihak ayah dan ibu juga dituntut untuk senantiasa proaktif dalam memantau sekaligus mendampingi aktivitas berselancar anak di ruang digital. Jika dilepas begitu saja, bermacam-macam pasokan konten negatif dari para pembuat pengaruh berpotensi mendistorsi paradigma berpikir anak mengenai konsep maskulinitas.
"Kesalahan paling umum yang saya lihat adalah orangtua menyerahkan perkembangan anak kepada internet," kata Runyon.
Oleh sebab itu, figur pendidik di rumah sepatutnya lebih intensif dalam menggelar ruang diskusi dua arah mengenai pemahaman nilai moral, esensi tanggung jawab, serta jalinan relasi sosial yang sehat demi membangun fondasi nalar yang kokoh.
Terlalu melindungi dari kegagalan Niat tulus untuk selalu mengayomi serta membantu sang anak memang merupakan hal yang lumrah, akan tetapi kebiasaan menyapu bersih setiap problematika mereka justru berisiko mematikan karakter kemandirian. Runyon memberikan wejangan bahwa curahan kasih sayang wajib diselaraskan dengan standar ekspektasi yang tinggi.
Lewat pemberian ruang bagi anak untuk menghadapi rintangan serta mengecap hikmah dari sebuah kegagalan, anak laki-laki dipastikan bakal tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan percaya diri.
Memberikan standar yang berbeda dengan anak perempuan Tanpa disadari, sebagian unit keluarga kerap membebankan lebih banyak daftar pekerjaan domestik rumah tangga kepada anak perempuan. Di sisi lain, anak laki-laki justru kerap mendapatkan ruang pemakluman yang lebih longgar atas tindakan maupun pemenuhan tanggung jawab mereka.
Dr. Elton memberikan pengingat yang tegas agar para orangtua tidak mengotak-ngotakkan urusan manajemen emosional serta pekerjaan dapur hanya kepada anak perempuan saja.
Melatih anak laki-laki untuk mulai ambil bagian dalam memikul tanggung jawab domestik terbukti ampuh menstimulasi mereka agar tumbuh menjadi pasangan hidup yang penuh kepedulian di masa depan.
Menganggap peran ayah tidak terlalu penting Kehadiran sosok ayah sejatinya tidak boleh dikerdilkan hanya sebatas sebagai mesin pencari nafkah keluarga semata, melainkan juga memegang peran vital selaku panutan utama dalam berperilaku. Anak laki-laki merekam secara digital di memori mereka tentang cara mengendalikan emosi lewat contoh nyata harian sang ayah.
"Ayah membentuk anak laki-laki melalui hal-hal yang mereka anggap normal," tutur Dr. Elton.
Ia menambahkan, figur ayah juga dituntut untuk berjiwa besar dalam memberikan teladan berupa keberanian meminta maaf tatkala berbuat salah agar anak paham esensi dari akuntabilitas diri.
Tidak memberi contoh hubungan yang sehat Gaya komunikasi serta metode resolusi konflik yang diperlihatkan oleh orangtua di dalam rumah tangga bakal diadopsi secara penuh oleh anak ketika mereka merajut komitmen sakralnya sendiri kelak.
Menurut pemaparan Runyon, relasi yang diselimuti oleh rasa saling menghormati dan komunikasi yang transparan akan membantu anak memahami bahwa hubungan yang sehat mengedepankan aspek kemitraan, bukan dominasi sepihak.
Menganggap perilaku buruk sebagai hal yang wajar Pernyataan klise yang berbunyi bahwa perilaku nakal merupakan hal lumrah bagi anak laki-laki sering kali dijadikan tameng pembenaran atas tindakan kasar atau tidak bertanggung jawab. Padahal, pembiaran perilaku menyimpang tersebut berpotensi mengakar kuat dan terbawa hingga anak menginjak usia dewasa.
Dr. Elton memberikan penegasan bahwa esensi maskulinitas sejati sama sekali tidak identik dengan perangai yang kasar ataupun tindakan mengekang gejolak emosional.
Anak laki-laki dipastikan dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat sekaligus memiliki empati tinggi apabila sejak dini dibekali nilai tanggung jawab, kejujuran nurani, serta rasa hormat terhadap sesama.