JAKARTA - Di era serba instan, anak-anak kini terbiasa dengan hiburan cepat. Hanya dengan satu ketukan di layar, animasi warna-warni langsung tersaji, namun hal ini bisa menjadi bumerang saat mereka harus duduk tenang di sekolah atau menyelesaikan tugas yang butuh kesabaran ekstra.
Saat terlalu sering mendapat kepuasan instan, aktivitas yang berjalan lambat seperti membaca buku justru membuat mereka mudah menyerah. Lantas, bagaimana cara memperbaiki daya konsentrasi mereka di tengah gempuran distraksi?
Psikolog klinis dan pendiri Good Inside, Becky Kennedy, PhD, mengatakan bahwa akar dari rentang perhatian anak adalah tingkat toleransi mereka terhadap rasa frustrasi.
"Anak-anak tidak bisa bertahan dengan sesuatu yang sulit jika mereka belum belajar bahwa rasa frustrasi itu bisa dilalui," ucap dia, melansir Good Housekeeping, Kamis (9/7/2026).
Kemampuan memusatkan perhatian dipengaruhi oleh perkembangan biologis, lingkungan, hingga kebiasaan menatap gawai. Pakar perilaku anak, Anna Malia Beckwith, M.D., menjelaskan bahwa fokus sangat bergantung pada kematangan otak.
Area lobus frontal dan parietal yang mengatur kendali perhatian baru akan matang sepenuhnya saat manusia menginjak usia pertengahan 20-an. Sangat wajar jika anak kecil memiliki rentang perhatian yang pendek.
Dokter Beckwith mengingatkan orang tua tidak menuntut anak, apalagi balita, memiliki tingkat konsentrasi layaknya orang dewasa karena memori kerja dan emosi mereka masih berkembang.
Guru sekolah menengah, Carina Fischer, menambahkan bahwa kesulitan fokus ini akan merambat ke aspek emosional. "Secara emosional, ketika anak merasa kewalahan atau mendapat stimulasi berlebih, perhatian sering kali menjadi hal pertama yang hancur," ungkap Fischer.
Untuk mengatasinya, berhentilah memarahi anak saat mereka kesulitan. Validasi perasaan mereka agar terbiasa menghadapi rasa tidak nyaman guna membentuk fondasi perhatian yang kuat di masa depan.
Penelitian pada 2025 mengungkap durasi menatap gawai berbanding lurus dengan timbulnya masalah sosial emosional. Ironisnya, saat kewalahan, anak justru kembali menjadikan gawai sebagai pelarian.
Gawai telah mengubah anak menjadi penerima rangsangan pasif, membuat otak mereka terus menuntut hiburan instan. Untuk mengatasinya, cobalah mengganti layar kecil dengan televisi, pilih tontonan alur lambat, serta matikan fitur putar otomatis.
Bermain adalah cara paling alami untuk melatih fokus. Berikut strateginya sesuai tahapan usia:
Bayi dan balita (0-2 tahun): Batasi jumlah mainan agar anak tidak kebingungan. Sediakan area eksplorasi bebas larangan di rumah yang aman tanpa banyak aturan.
Prasekolah (3-5 tahun): Sediakan barang yang memicu kreativitas seperti alat musik atau pensil warna. Biarkan anak asyik dengan permainannya sendiri tanpa gangguan.
Anak sekolah dasar (6-9 tahun): Berikan waktu luang tanpa jadwal khusus setiap harinya agar anak terbiasa menghadapi rasa bosan. Hindari langsung membantu tugas mereka sepenuhnya.
Praremaja dan remaja (10-17 tahun): Jauhkan gawai dari jangkauan mereka saat waktu belajar tiba. Menyimpan gawai dalam keadaan terbalik tidaklah cukup jika barangnya masih ada di depan mata.