PINDAIINDONESIA.COM — Perilaku pasif-agresif sering tampak sopan di permukaan, tetapi menyimpan kemarahan yang tidak diungkapkan langsung. Pola ini membuat orang lain lelah, bingung, dan merasa disalahkan tanpa alasan jelas. Mengenali tandanya membantu kita menjaga batas diri.
Beberapa orang menunjukkan ketidaksetujuan tanpa pernah mengatakannya terus terang. Mereka tersenyum, mengangguk, atau memuji, tetapi sikapnya menyiratkan hal sebaliknya.
Pola semacam ini disebut perilaku pasif-agresif. Menurut Verywell Mind, tindakan itu tampak biasa, netral, bahkan sopan, namun menyimpan agresi secara terselubung.
Dampaknya nyata. Orang di sekitar bisa merasa lelah, kesal, dan disalahkan tanpa tahu penyebabnya.
Pujian yang Menyindir
Menurut Time, pujian dari orang pasif-agresif sering terdengar manis tetapi mengandung nada merendahkan. Contohnya, seorang rekan memuji potongan rambut baru dengan kalimat, "Wah, rambutmu bagus, aku dulu juga pernah potong model itu waktu kuliah."
Kalimat itu terlihat seperti apresiasi. Padahal ada sindiran bahwa gaya rambut tersebut dianggap ketinggalan zaman.
Disklaimer Sebelum Berpendapat
Tanda lain muncul lewat kalimat yang diawali pembelaan diri, lalu ditutup komentar menyakitkan. Misalnya, "Aku nggak mau terkesan jahat, tapi...," atau, "Aku bukan mau menghakimi, tapi..."
Setelah kata "tapi", biasanya keluar ucapan yang menusuk. Pola ini membungkus agresi seolah-olah sebagai kejujuran.
Sabotase Diam-Diam
Dalam film atau sinetron, antagonis kerap tampak baik di depan tetapi menyabotase protagonis di belakang. Orang pasif-agresif bisa melakukan hal serupa dalam kadar lebih ringan.
Contohnya, sengaja tidak mengabarkan teman soal tenggat pengumpulan tugas, atau membatalkan janji untuk acara penting. Alasannya selalu klasik: lupa atau sibuk.
Menunda Pekerjaan dan Menghindar
Menurut Your Tango, penundaan menjadi cara menunjukkan penolakan tanpa berkata langsung. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini merusak kepercayaan dan hubungan kerja.
Bentuk lain adalah ghosting. Saat kesal atau tidak suka pada seseorang, mereka memilih diam, menghindar, atau menghilang begitu saja.
Merasa Diperlakukan Tidak Adil
Ketimbang mengungkapkan keberatan secara terbuka, orang pasif-agresif sering memosisikan diri sebagai korban. Mereka merasa orang lain terlalu menuntut, terlalu keras, atau tidak memahami dirinya.
Cara ini menghindarkan mereka dari tanggung jawab atas kemarahan yang sebenarnya dirasakan.
Jawaban yang Tak Pernah Tegas
Mereka cenderung memberi jawaban membingungkan, seperti "terserah", "liat nanti", atau "iya mungkin" tanpa niat jelas. Orang lain pun dibuat menebak-nebak hingga frustrasi.
Jika ditanya ulang, mereka bahkan bisa membalikkan keadaan seolah kamu yang salah paham.
Hitung-Hitungan Jasa dan Kesalahan
Orang pasif-agresif sering menyimpan daftar dalam kepalanya tentang apa yang pernah ia lakukan untuk orang lain. Mereka juga mengingat semua hal yang menurut mereka merugikan dirinya.
Sewaktu-waktu daftar itu diungkapkan untuk menyudutkan orang lain.
Kapan Perlu Waspada
Tidak semua orang yang diam atau menunda pekerjaan pasti pasif-agresif. Yang perlu diwaspadai adalah pola yang berulang dan konsisten.
Jika perilaku itu sudah mengganggu pekerjaan, hubungan, atau kesehatan mental, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog atau konselor. Bantuan profesional membantu menyusun batas yang sehat.
Mengenali tanda-tanda pasif-agresif membuat kita tidak mudah terjebak permainan emosi. Respons yang tenang dan batas yang jelas lebih efektif ketimbang ikut larut dalam konflik terselubung.