Ambisi Erajaya Perkuat Rantai Pasok dan Ekspansi Bisnis F&B EFN

Ambisi Erajaya Perkuat Rantai Pasok dan Ekspansi Bisnis F&B EFN
Gerai Erafone Milik PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA).

JAKARTA — PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) gencar mengepakkan sayap bisnisnya di luar sektor perdagangan eceran perangkat telekomunikasi lewat unit usaha Erajaya Food & Nourishment (EFN).

Langkah strategis ini ditujukan untuk memperkokoh rantai pasokan sekaligus menggarap potensi pasar makanan, minuman, hingga supermarket yang memiliki daya jangkau lebih luas.

CEO Erajaya Food & Nourishment Jeremy Sim menjelaskan bahwa perluasan EFN merupakan langkah diversifikasi dari Erajaya Group. Bidang usaha ini dikembangkan guna mempererat jangkauan ke konsumen lewat sektor yang punya tingkat transaksi harian tinggi.

"EFN melihat peluang pertumbuhan food & beverage (F&B) tidak hanya melalui penambahan merek, tetapi juga melalui pengembangan bisnis yang relevan dengan kebutuhan konsumen Indonesia dan memiliki potensi untuk berkembang dalam skala besar," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).

EFN sendiri beroperasi sebagai pilar bisnis yang berfokus pada ranah kuliner dan ritel bahan makanan, melingkupi berbagai format seperti jejaring restoran, kedai kopi, toko roti, hingga pasar swalayan.

Saat ini, portofolio entitas yang terhubung dengan grup usaha Sugianto Kusuma atau Aguan tersebut telah memayungi Paris Baguette, Bacha Coffee, Curry Up, CHAGEE, Wetzel’s Pretzels, hingga GrandLucky Superstore.

Merujuk data catatan keuangan perseroan, perolehan omzet dari lini Erajaya Food & Nourishment melonjak ke angka Rp1,74 triliun dari posisi sebelumnya Rp1,33 triliun. Capaian itu mencatatkan kenaikan penjualan segmen sebesar 31,5 persen.

Porsi pendapatan EFN tersebut memberikan andil sekitar 4,1 persen terhadap total konsolidasi penjualan bersih Erajaya yang menembus Rp42,9 triliun.

Di samping itu, perolehan laba kotor konsolidasian perseroan berada di level Rp4,8 triliun, di mana porsi terbesarnya ditopang oleh penjualan telepon seluler dan tablet sebesar Rp2,91 triliun, diikuti produk aksesoris dan lainnya Rp1,21 triliun, segmen active dan lifestyle Rp411,95 miliar, serta produk komputer dan elektronik Rp263,38 miliar.

Melalui arah kebijakan tersebut, EFN memandang sektor F&B bukan sekadar aktivitas jual beli hidangan, melainkan bagian dari gaya hidup dan ruang komunitas. Oleh sebab itu, perseroan sangat memperhatikan nilai guna serta relevansi produk guna membina loyalitas pelanggan.

Guna melengkapi agenda ekspansi merek, Jeremy Sim mengungkapkan EFN lewat unit GrandLucky tengah menjajaki penguatan rantai nilai, salah satunya dengan merangkul mitra pemasok serta petani secara langsung.

Skema pasokan langsung ini telah dijalankan GrandLucky melalui jaringan Brastagi di wilayah Medan. Kemitraan karib dengan kalangan petani dipercaya mampu menghadirkan jalur pasokan yang lebih efisien sekaligus menguntungkan konsumen maupun produsen.

EFN turut menangkap peluang untuk mendampingi petani lewat penyediaan sarana teknologi, fasilitas infrastruktur, pasokan bahan tani, hingga pemetaan kebutuhan pasar.

Pemahaman mendalam mengenai pola konsumsi masyarakat dapat membantu pelaku hulu dalam menentukan varietas komoditas yang tepat target sekaligus menekan risiko penumpukan hasil panen.

GrandLucky juga mulai mempraktikkan metode bercocok tanam modern seperti penggunaan rumah kaca (greenhouse) dan sistem hidroponik. Pendekatan ini dirancang untuk menjaga kestabilan pasokan dari cuaca buruk sekaligus mengefisiensikan jalur distribusi.

"Penguatan rantai pasok tersebut juga membuka peluang penerapan skema offtake yang dapat memberikan akses pasar lebih jelas bagi produk yang dihasilkan petani," tuturnya.

Jeremy Sim menegaskan EFN tidak hanya berniat memboyong lisensi merek asing ke dalam negeri, melainkan juga menggembleng brand lokal yang berfundamental kokoh agar mampu menembus pasar mancanegara.

"Indonesia dengan basis konsumen yang besar dinilai dapat menjadi fondasi bagi pengembangan bisnis secara domestik sebelum diperluas ke pasar yang lebih luas," ujarnya.

Maka dari itu, EFN akan cermat memilih pengembangan usaha yang menawarkan produk relevan, daya pikat nilai yang kuat, serta jangkauan pangsa pasar yang lapang.

Pada ranah supermarket, GrandLucky mengandalkan keunggulan ragam variasi barang, mutu produk, kelengkapan item, serta kenyamanan pengalaman berbelanja. Faktor keterjangkauan harga juga menjadi prioritas dalam tata kelola ritel modern ini.

Jeremy Sim menambahkan, pembentukan EFN tidak cuma mengejar kenaikan angka omzet semata, melainkan juga menyusun portofolio usaha yang lebih berimbang demi memperkuat daya tahan Erajaya Group dalam jangka panjang.

Tiap-tiap lini bisnis memiliki dinamika yang berbeda dari segi siklus usaha, marjin keuntungan, tingkat perputaran transaksi, hingga kepekaan terhadap gejolak pasar. Untuk itu, pengelolaan portofolio menjadi kunci utama menciptakan struktur bisnis yang tangguh.

"EFN diarahkan untuk membangun bisnis yang tidak hanya tumbuh dari sisi revenue, tetapi juga memiliki profitabilitas, resiliency, dan penciptaan nilai dalam jangka panjang," tuturnya.

Dalam memajukan sektor F&B, EFN juga membuka pintu kemitraan bagi para pelaku industri maupun wirausahawan lokal. Langkah ini ditempuh guna memperdalam pemahaman pada ekosistem F&B yang kompleks, mulai dari formulasi produk, proses manufaktur, kontrol mutu, jalur logistik, hingga penanganan produk kedaluwarsa.

Langkah ke depan EFN akan terus memperluas cakupan portofolionya dengan berpatokan pada relevansi kebutuhan publik, potensi skala usaha, ketahanan rantai nilai, serta kemampuan mencetak nilai tambah secara berkelanjutan.

Langkah pengembangan ini tidak semata ditujukan untuk menambah unit usaha baru, melainkan juga memperkuat fondasi internal agar tiap lini mampu bertumbuh secara konsisten dalam ekosistem Erajaya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index