JAKARTA - Masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah beriklim tropis dengan kelembapan tinggi kerap menghadapi tantangan berupa kulit wajah berminyak. Beriringan dengan tingginya tingkat kilap pada wajah, timbul keluhan yang kerap menyertai, yaitu ukuran pori-pori yang terkesan makin membesar serta tampak jelas.
Lantas, apa yang menyebabkan pori-pori terkesan membesar ketika kondisi wajah berminyak? Banyak orang mengira bahwa minyak yang menggenang di area wajah secara otomatis menarik lapisan kulit hingga pori-pori terkesan lebih lebar.
Fakta Medis Hubungan Sebum dan Pori-pori
Ditinjau dari sisi medis, kedua kondisi tersebut memiliki keterikatan sebab-akibat yang sangat kuat di dalam sistem metabolisme kulit manusia.
Indonesia Board Certified Dermatologist, dr. Stanley Setiawan, Sp. D.V.E., FINSDV, FAADV, memberikan penegasan mengenai korelasi ini.
“Penumpukan minyak akan menyebabkan pori-pori itu terlihat lebih besar itu adalah satu fakta,” tegas dr. Stanley dalam peluncuran inovasi terbaru La Roche-Posay, New Effaclar Supramolecular di #PicturePorefect Living Lab, Jakarta Selatan, Kamis (17/9/2026).
Lebih lanjut, dr. Stanley menerangkan bahwa kulit memiliki mekanisme yang saling terhubung antara satu bagian dengan bagian lainnya. Oleh sebab itu, masalah pada kelenjar minyak tidak berdiri sendiri.
“Produksi minyak di kulit ini satu sistem. Kalau ada penumpukan, pori-pori membesar bisa saja terjadi, sebab penumpukan enggak hanya di saluran, tapi sampai ke permukaan,” paparnya.
Mekanisme Penumpukan Minyak di Permukaan Kulit
Kelenjar sebaceous atau kelenjar minyak secara alami berfungsi memproduksi sebum guna menjaga hidrasi kulit. Namun, tatkala produksi ini melonjak berlebihan serta bercampur dengan kotoran maupun sel kulit mati, alur perjalanan minyak menuju permukaan luar kulit akan terhambat.
Hambatan inilah yang kemudian memicu perubahan struktur fisik pada pori-pori wajah. Ketika kelenjar terus-menerus memproduksi minyak di bagian dalam sementara jalur keluarnya tersumbat, volume cairan yang terperangkap akan kian bertambah.
“Penumpukan minyak itu terjadi karena udah enggak ada jalan, sehingga dia terakumulasi di permukaan, akhirnya mendorong ke sekitar. Alhasil, tampilan pori-pori itu akan terlihat jauh lebih renggang dan lebih besar,” tutur dr. Stanley.
Dorongan fisik dari akumulasi sebum yang mengeras atau mendesak dinding pori-pori inilah yang secara visual menimbulkan ilusi lubang jauh lebih renggang dibanding ukuran aslinya.
Masalah Sistemik yang Memengaruhi Tampilan Kulit
Langkah untuk mengecilkan pori-pori tidak dapat direalisasikan hanya sekadar mengoleskan produk pengencang (astringent) di bagian permukaan luar saja. Penanganan yang tepat mesti menyasar pada perbaikan sistem pengaturan sebum secara menyeluruh dari dalam kelenjar.
Pemahaman komprehensif mengenai persoalan ini menuntut kami untuk memandang kondisi kulit secara holistik, bukan hanya berfokus pada titik muara folikel saja.
“Ternyata problem-nya bukan hanya ukuran yang membesar, tapi semua proses yang terjadi sepanjang sistem itu yang bisa mengakibatkan tampilan pori-pori itu tampak lebih besar,” ungkap dr. Stanley.
Hal tersebut mencakup bermacam-macam Rangkaian proses biologis yang tidak normal pada kulit, yang menurut dr. Stanley, termasuk akumulasi dari minyak tadi.
Dengan menyadari bahwa akar dari pori-pori yang membesar adalah sistem produksi serta distribusi minyak yang terganggu, langkah pencegahan dan perawatan harian pun dapat difokuskan pada pengontrolan kadar sebum secara presisi.