Pakar Ungkap Cara Berikan Kontribusi Nyata di Tengah Berita Buruk

Pakar Ungkap Cara Berikan Kontribusi Nyata di Tengah Berita Buruk
Ilustrasi Kontribusi Nyata.

JAKARTA - Saban hari, alur linimasa di media sosial maupun layar ponsel masyarakat terus dihujani beragam kabar negatif, mulai dari bentrokan, ketidakadilan, krisis finansial, sampai musibah. Situasi ini kerap memicu rasa lelah secara mental lantaran publik secara terus-menerus mengonsumsi informasi buruk yang mengguncang kestabilan emosi.

Demi membentengi diri sendiri, banyak orang akhirnya memilih untuk membatasi konsumsi informasi, berburu ketenangan pribadi, serta menarik diri dari realitas kehidupan sosial. Sosiolog yang juga mengajar di Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, M.Sos., memberikan pandangan kritis mengenai fenomena tersebut.

Menurut pengamatannya, respons paling tepat untuk menghadapi situasi sosial saat ini bukanlah dengan memalingkan pandangan atau sebatas menenangkan pikiran saja.

“Menurut saya persoalannya bukan sekadar bagaimana kami tetap tenang ketika banyak berita buruk. Yang lebih penting adalah apa yang kami lakukan setelah kami sadar bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di sekitar kami,” jelas Sry kepada Kompas.com, Selasa (15/9/2026).

Sry menekankan bahwa peristiwa yang terjadi di lapangan tersebut kerap kali merupakan bentuk ketidakadilan, ketimpangan, serta hal yang wajib dibenahi bersama-sama.

Saat ini, tren merawat diri sendiri sedang menjadi gaya hidup yang sangat digandrungi oleh masyarakat modern. Maraknya kampanye mengenai perlunya menjaga kesehatan jiwa personal sering kali disalahartikan sebagai alasan untuk bersikap masa bodoh terhadap problem bersama.

Banyak orang berlomba-lomba mencari arena pelarian dan mengabaikan kenyataan bahwa terdapat kelompok masyarakat lain yang sedang berjuang keras menanggung kesulitan nyata. Sry menyoroti pergeseran fokus publik yang belakangan ini dinilai kian individualistis.

“Mindfulness, healing atau self-care hari-hari ini membuat kami begitu sibuk menjaga kesehatan mental diri sendiri sampai lupa bahwa kami hidup bersama orang lain yang juga sedang menghadapi masalah,” paparnya.

Pemberondongan kabar buruk secara terus-menerus ini rupanya juga berisiko memicu desensitisasi atau matinya rasa empati pada diri para pengguna internet.

“Melihat berita buruk di media membuat kami merasa marah sebentar, kemudian kembali lagi ke aktivitas masing-masing. Hal ini lama-lama membuat seseorang terbiasa melihat penderitaan sebagai sesuatu yang numpang lewat di layar handphone,” tegas Sry.

Alih-alih dijadikan tameng untuk lari dari kenyataan, konsep kesadaran penuh sejatinya mesti dipakai sebagai instrumen untuk mengasah kepekaan nurani. Penerapan kesadaran yang benar tidak akan mengubah seseorang menjadi figur yang dingin atau cuek terhadap kemalangan sesama.

Sry menjelaskan, praktik kesadaran penuh sejatinya membantu publik bukan agar kebal dari kabar buruk maupun penderitaan di media sosial, melainkan membuat diri lebih peka terhadap informasi tersebut. Ketika kepekaan itu mencuat dan menyadari adanya masalah nyata di lapangan, publik secara otomatis bakal mempertanyakan tindakan nyata apa yang harus diambil selanjutnya.

Sry menggambarkan proses perenungan itu dengan memikirkan apa yang bisa dilakukan dari posisi masing-masing serta dari sumber daya yang dimiliki.

Tidak semua aksi kepedulian harus dieksekusi melalui pergerakan besar yang muluk-muluk. Di tengah era maraknya hoaks dan ujaran kebencian yang merebak cepat, menahan diri agar tidak memperkeruh suasana sudah menjadi langkah yang sangat berharga di ruang digital.

“Tidak harus sesuatu yang besar. Kami bisa mulai dengan cara memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, sehingga kami tidak menyebarkan hoaks, kami tidak menyebarkan kebencian,” ujar Sry.

Tingkat literasi digital serta kecermatan saat membagikan konten menjadi fondasi paling awal dari wujud kontribusi positif bagi publik luas.

“Dalam posisi minimal kami tidak sebaiknya tidak ikut memperburuk keadaan, itu juga merupakan satu bentuk kontribusi nyata,” jelasnya.

Gejolak emosi negatif seperti dongkol atau kecewa kala menyaksikan ketidakadilan merupakan respons emosional yang wajar. Meski begitu, berhenti sebatas meluapkan kekesalan tanpa arah tidak akan mendatangkan perbaikan pada akar persoalan.

Kemarahan tersebut mesti diubah menjadi energi pemantik yang memutar roda kepedulian sosial. Sry menyarankan agar para pengguna media sosial tidak terjebak dalam perdebatan di kolom komentar yang tanpa ujung.

“Jangan hanya marah-marah di sosial media dan menyebarkan energi negatif ke komen-komen yang buruklah, tetapi mengarahkan kemarahan itu untuk mencari informasi yang benar, memahami persoalan yang ada, lalu mendukung orang-orang yang terdampak,” imbaunya.

Wujud dukungan tersebut dapat direalisasikan dalam pelbagai aksi nyata yang disesuaikan dengan kemampuan serta kelapangan waktu tiap individu.

“Kami bisa membantu orang-orang yang terdampak dengan berdonasi, kami menjadi relawan, atau menyuarakan persoalan yang memang perlu mendapatkan perhatian,” tambah Sry. Pada akhirnya, kesadaran ini akan mendorong publik melakukan pergerakan sesuai dengan kapasitas diri masing-masing.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index