PINDAIINDONESIA.COM — Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) IV menggelar Open Tournament Kejuaraan Cabang Olahraga Layar Piala Panglima TNI Tahun 2026 di Nongsa Point Marina, Batam, Kepulauan Riau. Perlombaan yang diikuti 35 peserta ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI. Empat kategori dipertandingkan, melibatkan atlet dari sembilan daerah dan sejumlah satuan TNI.
Komandan Kodaeral IV Laksamana Muda TNI Berkat Widjanarko menyatakan perlombaan ini sekaligus menjadi momentum menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap laut dan budaya bahari Indonesia.
Empat Kategori dan 35 Peserta dari Sembilan Daerah
Kejuaraan mempertandingkan empat kategori: ILCA 6 Open, ILCA 7 Men, ILCA 7 TNI/Polri, dan Techno 293 Open. Total peserta mencapai 35 orang, termasuk delapan atlet perempuan.
Peserta berasal dari sejumlah daerah, antara lain Jawa Timur, Papua, Jawa Barat, DKI Jakarta, Kepri, Bali, Kalimantan Timur, Tasikmalaya, dan Banten. Dari kalangan TNI, peserta datang dari Kodaeral X, Koarmada I, Lanal Palembang, Kolinlamil, serta Kodaeral IV.
Alasan Kepri Dipilih sebagai Tuan Rumah
Menurut Berkat, Kepulauan Riau dinilai merepresentasikan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan. "Kalau melihat Indonesia secara luas, Kepri ini paling tidak seperti miniaturnya. Dipilih di Batam karena kekuatan bangsa kita harus dan bisa terwujud dimanapun berada," ujarnya.
Ia menambahkan, bangsa Indonesia adalah bangsa bahari. Kecintaan pada laut dan maritim, katanya, berkaitan dengan keselamatan bangsa.
"Kami melaksanakan perlombaan layar dalam rangka Hari Ulang Tahun TNI ke-81. Bangsa Indonesia adalah bangsa bahari. Dan dengan kita mencintai bahari, lautnya, dan maritimnya adalah untuk keselamatan bangsa dan Indonesia," kata Berkat di Batam, Jumat.
Pengamanan Berlapis di Sepanjang Lintasan
Asisten Operasi Dankodaeral IV Kolonel Laut Pelaut Djawara Whimbo menjelaskan setiap perlombaan memakai lintasan relatif pendek, sekitar 600-700 meter jika dikonversikan ke jarak darat.
Unsur pengamanan disiagakan berlapis. Satu kapal ditempatkan di garis start sebagai pengawas, sementara satu kapal lain berfungsi sebagai ambulans apung.
"Posisi kapal evakuasi kita atur. Ada kapal di garis start sebagai pengawas, kemudian satu kapal sebagai ambulans apung. Di tengah ada RIB (Rigid Inflatable Boat) yang bergerak mengikuti peserta, kemudian sekoci karet di sebelah kanan juga bergerak mengikuti peserta. Di paling jauh ada kapal pengawas untuk keselamatan," kata Djawara.
Pengaturan tersebut, menurut dia, untuk memastikan evakuasi bisa segera dilakukan bila terjadi kecelakaan selama perlombaan. "Apabila terjadi kecelakaan pada peserta maka mereka akan segera bergerak untuk melaksanakan evakuasi laut," ujarnya.