JAKARTA - Anggapan mengenai konsumsi telur berlebihan dapat memicu timbulnya bisul masih diyakini oleh sebagian masyarakat, khususnya pada anak-anak. Padahal, penyebab utama munculnya bisul adalah infeksi bakteri, bukan akibat jenis makanan tertentu.
Ahli Gizi IPB University, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, MGizi, menjelaskan bahwa Staphylococcus aureus yang merupakan bakteri alami pada kulit manusia menjadi pemicu utama timbulnya bisul. Bakteri tersebut baru menimbulkan gangguan saat kekebalan tubuh menurun atau kebersihan diri tidak terjaga.
"Flora normal ini bisa menyebabkan infeksi apabila sistem kekebalan tubuh menurun atau rendah dan kebersihan diri (hygiene) yang kurang," jelas Karina.
Menurut Dr Karina, anak-anak lebih rentan terkena bisul lantaran sistem imunitas mereka belum terbentuk secara sempurna. Tingginya aktivitas anak juga memperbesar risiko luka gesekan atau bekas garukan, sehingga bakteri Staphylococcus aureus lebih mudah menginfeksi kulit.
Faktor kebersihan diri seperti jarang mandi serta kuku panjang yang tidak dipotong juga memperbesar risiko timbulnya bisul pada anak.
Dr Karina menambahkan bahwa konsumsi telur dapat menimbulkan reaksi kulit pada individu yang memiliki riwayat alergi telur. Meski demikian, reaksi yang dihasilkan berbeda dengan bisul. Reaksi alergi umumnya berupa bentol, ruam merah, serta rasa gatal, sedangkan bisul merupakan benjolan bernanah yang terasa nyeri.
"Pada orang yang memiliki alergi telur, konsumsi telur yang berlebihan dapat menimbulkan ruam dan gatal-gatal pada kulit. Jika digaruk, ini akan menimbulkan luka terbuka yang mempermudah masuknya bakteri penyebab bisul," ujarnya.
Bagi masyarakat berondisi sehat tanpa riwayat alergi telur, Dr Karina menegaskan tidak perlu membatasi asupan telur karena rasa takut akan bisul. Telur dapat menjadi pilihan menu harian dalam pola makan seimbang selama dikonsumsi sesuai porsi kebutuhan.
"Telur mengandung 6-7 gram protein per butir. Kebutuhan protein orang dewasa 0,8-1 gram per kilogram berat badan. Tentunya tidak semuanya didapatkan dari telur, tetapi disarankan agar sumber protein berasal dari aneka ragam pangan hewani maupun nabati," katanya.
Dr Karina juga mengimbau mengenai kandungan lemak di dalam telur. Tiap butir telur memiliki sekitar 5-5,3 gram lemak, dengan kandungan lemak jenuh sekitar 1,5-1,6 gram. Anjuran batas maksimal konsumsi lemak jenuh adalah 7 persen dari total kebutuhan energi harian, atau setara 15 gram per hari untuk asupan 2.000 kilokalori.
"Jadi, telur bukan penyebab langsung bisul. Kebersihan diri, kondisi kulit, dan sistem kekebalan tubuh menjadi faktor yang lebih berkaitan dengan munculnya infeksi tersebut," tandas Karina.